INDEPENDENews.com- Suasana Hotel Universitas Hasanuddin, Senin (3/11/2025), terasa tegang namun penuh harapan.
Di ruangan tempat Senat Akademik Universitas Hasanuddin (Unhas) berkumpul, 94 anggota senat duduk dengan wajah serius.
Mereka bukan sekadar hadir untuk memberikan suara, tetapi menentukan arah masa depan universitas terbesar di kawasan timur Indonesia itu.
Ketika hasil perhitungan suara diumumkan, tepuk tangan terdengar riuh.
Prof. Jamaluddin Jompa unggul mutlak dengan 74 suara, jauh meninggalkan Prof. Budu yang hanya meraih 18 suara.
Hasil itu bukan sekadar kemenangan angka, melainkan pernyataan tegas dari komunitas akademik: kepemimpinan di dunia ilmu tidak bisa dibangun di atas popularitas semu.
Sebelum proses ini, berbagai lembaga survei sempat menggambarkan seolah-olah peta dukungan publik mengarah pada Prof. Budu. Namun, kenyataan di ruang senat menunjukkan hal yang berbeda.
Para akademisi menilai bukan dari gaung nama, tetapi dari kedalaman visi dan rekam jejak nyata.
Dalam pemaparan visi dan misi beberapa pekan sebelumnya, Prof JJ tampil dengan gaya yang lugas dan penuh data.
Ia menjabarkan langkah-langkah konkret untuk membawa UNHAS menuju universitas riset berkelas dunia.
Capaian selama masa kepemimpinannya pun menjadi bukti kuat: UNHAS menembus peringkat 951–1000 dunia versi Times Higher Education (THE WUR) dan posisi 201 di Asia — pencapaian yang belum pernah diraih sebelumnya.
Sebaliknya, visi “Kampus Berdampak” yang diusung Prof. Budu dinilai terlalu umum dan belum menggambarkan karakter riset yang menjadi kekuatan utama Unhas.
Para anggota senat tampak menimbang gagasan bukan dari seberapa manis disampaikan, tetapi seberapa relevan dan terukur dalam konteks kebutuhan institusi.
Hasil penyaringan ini menunjukkan satu hal penting: komunitas akademik Unhas masih teguh memegang rasionalitas.
Mereka memahami bahwa universitas besar tidak bisa dipimpin oleh figur yang sekadar populer, tetapi oleh pemimpin yang menguasai ilmu, mengelola gagasan, dan membangun kepercayaan melalui kerja nyata.
Bagi banyak pihak di lingkungan kampus, kemenangan Prof. Jamaluddin Jompa di Senat menjadi simbol kemenangan substansi atas citra.
Ini bukan sekadar tahap administratif menuju pemilihan di Majelis Wali Amanat (MWA), melainkan refleksi nilai-nilai akademik yang masih kokoh di Unhas.
Dengan hasil tersebut, posisi Prof. JJ kini semakin kokoh menjelang tahap akhir.
Dukungan mayoritas senat memberikan pesan kuat: Universitas Hasanuddin memilih pemimpin yang berpikir jernih, berbicara dengan data, dan bekerja dengan hasil — bukan sekadar slogan.
Di tengah tepuk tangan dan ucapan selamat, suasana di Hotel UNHAS sore itu terasa hangat. Bukan hanya karena kemenangan satu figur, tetapi karena kemenangan sebuah prinsip: bahwa dalam dunia akademik, substansi tetap lebih berharga daripada popularitas.
- Ketika Ide Dianggap Mark-Up: Negara Sedang Salah Paham Kreativitas - 31 Maret 2026
- Republik Komentator: Saat Bicara Lebih Laris dari Kerja - 25 Maret 2026
- Transformasi Auditor Pemerintah di Era Digital dan AI Menuju Indonesia Emas - 22 Maret 2026
