Dr. Maria Ulviani, S.Pd., M.Pd.
Anggota Lembaga Budaya, Seni, dan Olahraga (LBSO) PW ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan
MAKASSAR – Milad ke-109 ‘Aisyiyah 19 Mei 2026 yang mengusung tema “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian” menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali peran dakwah dalam kehidupan masyarakat modern.
Di tengah dunia yang diwarnai konflik sosial, polarisasi informasi, kekerasan simbolik di media digital, hingga krisis kemanusiaan global, dakwah tidak cukup hanya dipahami sebagai aktivitas ceramah keagamaan semata.
Dakwah hari ini harus hadir sebagai gerakan sosial dan budaya yang mampu merawat kemanusiaan serta memperkuat perdamaian.
Sebagai organisasi perempuan Islam berkemajuan, ‘Aisyiyah telah membuktikan kiprahnya selama lebih dari satu abad dalam membangun masyarakat melalui pendidikan, kesehatan, pemberdayaan perempuan, dan pelayanan sosial.
Gerakan tersebut menunjukkan bahwa dakwah yang dilakukan ‘Aisyiyah selalu berorientasi pada kemaslahatan umat dan nilai-nilai kemanusiaan. Dalam konteks itulah, tema Milad ke-109 menjadi sangat relevan dengan tantangan zaman saat ini.
Perdamaian pada hakikatnya tidak hanya dimaknai sebagai ketiadaan konflik, tetapi juga hadirnya keadilan, rasa aman, penghormatan terhadap perbedaan, dan terciptanya hubungan sosial yang harmonis.
Untuk mewujudkan kondisi tersebut, masyarakat membutuhkan penguatan budaya dialog, empati, dan literasi kritis. Di sinilah sastra memiliki posisi penting sebagai medium yang mampu membangun kesadaran kemanusiaan.
Sastra tidak hanya menghadirkan keindahan bahasa, tetapi juga merekam pengalaman hidup manusia secara mendalam. Melalui karya sastra, pembaca diajak memahami penderitaan, perjuangan, harapan, dan realitas sosial yang dialami orang lain.
Sastra melatih manusia untuk memiliki empati dan kepekaan sosial. Ketika seseorang membaca cerita tentang ketidakadilan atau konflik kemanusiaan, sesungguhnya ia sedang belajar memahami kehidupan dari sudut pandang yang lebih luas.
Dalam perspektif pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, literasi sastra menjadi bagian penting dalam membangun karakter masyarakat yang damai dan berkeadaban.
Literasi tidak lagi dimaknai sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami makna, konteks, serta nilai kemanusiaan yang terkandung dalam sebuah teks. Literasi sastra mengajarkan masyarakat untuk berpikir kritis sekaligus humanis.
Di era digital saat ini, masyarakat menghadapi tantangan besar berupa derasnya arus informasi yang sering kali dipenuhi ujaran kebencian, hoaks, dan provokasi. Media sosial tidak jarang menjadi ruang pertarungan narasi yang memecah belah persatuan.
Bahasa digunakan untuk menyerang, merendahkan, bahkan menghilangkan nilai kemanusiaan. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya menghadirkan pendidikan bahasa yang tidak hanya mengajarkan keterampilan berkomunikasi, tetapi juga etika berbahasa dan tanggung jawab sosial.
Dalam konteks dakwah kemanusiaan, bahasa memiliki kekuatan besar dalam membentuk cara pandang masyarakat. Bahasa yang santun dan inklusif akan melahirkan ruang dialog yang sehat, sedangkan bahasa yang penuh kebencian dapat memicu konflik sosial.
Karena itu, dakwah di era digital perlu menghadirkan narasi yang menyejukkan, mencerdaskan, dan membangun harapan bersama.
Kritik sastra juga memberikan kontribusi penting dalam membangun kesadaran perdamaian. Kritik sastra tidak hanya menilai estetika karya, tetapi juga membaca ideologi, pesan sosial, dan nilai kemanusiaan yang terkandung di dalamnya.
Melalui kritik sastra, masyarakat diajak memahami bagaimana teks dapat menjadi medium perlawanan terhadap ketidakadilan sekaligus sarana membangun kesadaran sosial.
Sastra dan kritik sastra pada akhirnya menjadi bagian dari dakwah kultural yang memperkuat nilai kasih sayang dan toleransi. Pendekatan budaya seperti ini sangat penting dalam masyarakat yang majemuk seperti Indonesia.
Perdamaian tidak dapat dibangun dengan pemaksaan, tetapi melalui kesadaran bersama untuk saling memahami dan menghormati perbedaan.
Peran perempuan dalam membangun perdamaian juga menjadi aspek penting yang tidak dapat diabaikan. ‘Aisyiyah sejak awal berdirinya telah menempatkan perempuan sebagai aktor perubahan sosial.
Melalui pendidikan dan pemberdayaan perempuan, ‘Aisyiyah membangun fondasi masyarakat yang lebih inklusif dan berkeadaban. Perempuan memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai kasih sayang, toleransi, dan budaya dialog, baik dalam keluarga maupun lingkungan sosial.
Sebagai gerakan perempuan Islam, ‘Aisyiyah menunjukkan bahwa dakwah dapat dilakukan melalui pendekatan yang humanis dan transformatif. Dakwah tidak hadir untuk menghakimi, tetapi untuk merangkul dan menghadirkan solusi atas persoalan masyarakat. Spirit inilah yang membuat gerakan ‘Aisyiyah tetap relevan hingga hari ini.
Milad ke-109 ‘Aisyiyah menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara dakwah, pendidikan, dan kebudayaan. Literasi sastra perlu terus dikembangkan sebagai bagian dari gerakan membangun masyarakat yang kritis, berempati, dan cinta damai.
Dunia pendidikan memiliki tanggung jawab besar dalam menghadirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan etika kemanusiaan.
Sebagai dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Makassar sekaligus Anggota Lembaga Budaya, Seni, dan Olahraga (LBSO) PW ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan, saya memandang bahwa penguatan dakwah kemanusiaan melalui literasi sastra merupakan bagian penting dari dakwah berkemajuan. Pendidikan dan sastra harus menjadi ruang untuk menanamkan nilai toleransi, penghormatan terhadap keberagaman, serta semangat membangun perdamaian.
Pada akhirnya, dakwah kemanusiaan adalah dakwah yang menghadirkan cinta kasih dan harapan bagi sesama manusia. Ia tidak menciptakan sekat, tetapi memperkuat persaudaraan. Ia tidak menumbuhkan kebencian, tetapi menghadirkan empati dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Melalui semangat Milad ke-109 ‘Aisyiyah, diharapkan lahir semakin banyak gerakan literasi, pendidikan, dan kebudayaan yang mampu memperkuat narasi perdamaian demi terciptanya masyarakat yang lebih adil, harmonis, dan berkeadaban di era global. (*)
