INDEPENDENews.com – Gedung Serba Guna Aisyiyah Kota Parepare menjadi saksi momen bersejarah dalam Pelatihan Kader Madya Taruna Melati III PW IPM Sulawesi Selatan.
Untuk pertama kalinya, pelatihan ini secara resmi menghadirkan Kelas Karir sebagai bagian dari kurikulum pembekalan kader — sebuah langkah konkret membangun ekosistem profesional di dalam tubuh organisasi.
Kelas Karir perdana ini terwujud atas kolaborasi PW IPM Sulsel bersama PT. Infomedia Solusi Humanika (ISH), perusahaan di bawah naungan Telkom Group yang telah mengelola lebih dari 27.000 tenaga kerja yang tersebar di berbagai kota di Indonesia.
Dari Kader Menjadi Apa?
Pertanyaan itu relevan dan penting dijawab. Dalam perjalanan panjang sejak 1961, banyak alumni IPM tumbuh menjadi tokoh masyarakat, intelektual muda, pengusaha, dan pemimpin umat.
Deretan alumni IPM kini tersebar di berbagai sektor: dari akademisi, politikus, diplomat, hingga pejabat pemerintahan di antaranya ada yang menjabat sebagai Wakil Menteri, Duta Besar, komisaris perusahaan negara, hingga penggerak gerakan literasi nasional.
Namun yang tak kalah penting, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir sendiri menegaskan bahwa para alumni IPM telah menjadi eksemplar nyata dari proses kaderisasi dan transformasi di IPM bukti hidup bahwa pembinaan di organisasi ini bukan sekadar teori.
Inilah yang menjadi ruh dari Kelas Karir TM 3: bahwa kader IPM bukan hanya disiapkan untuk memimpin di organisasi, tetapi juga untuk membawa nama baik persyerikatan di mana pun mereka berkarir — sebab setiap alumni IPM yang sukses profesional, sejatinya adalah wajah Muhammadiyah di dunia kerja.
Integritas: Tidak Bisa Dikompromikan
Pemateri pertama, Nurfitria Abdi, S.H., M.M., Manager Area Sulawesi–Papua–Maluku PT. ISH sekaligus Dosen Praktisi Manajemen SDM, menyampaikan pesan yang mengena bagi seluruh peserta: integritas bukan pilihan, melainkan fondasi.
Di hadapan kader-kader muda, ia menegaskan bahwa dunia profesional tidak hanya menilai seseorang dari kemampuan teknis atau gelar akademik, tetapi terutama dari konsistensi antara ucapan dan tindakan.
Kejujuran dalam laporan, ketepatan janji kepada atasan maupun tim, hingga cara menjaga informasi sensitif perusahaan — semuanya adalah ujian integritas yang berlangsung setiap hari, dimulai dari hal yang paling kecil.
“Reputasi dibangun bertahun-tahun, tapi bisa runtuh dalam semalam jika integritas diabaikan,” sebuah prinsip yang ia tanamkan kuat kepada peserta, sejalan dengan materi komunikasi profesional yang dibawakan: bahwa kepercayaan adalah output tertinggi dari komunikasi yang jujur dan konsisten.
Modal Kader IPM: Public Speaking Bukan dari Nol
Pemateri kedua, Firman, S.M., HR Recruitment Officer ISH, membawa perspektif yang justru memantik semangat peserta. Dari pengalamannya di garis depan rekrutmen, ia menyampaikan sesuatu yang jarang disadari para kader sendiri: mereka sudah punya bekal yang banyak orang lain tidak miliki.
Kader IPM yang terbiasa memimpin rapat, menyampaikan laporan pertanggungjawaban, berdebat dalam forum musyawarah, hingga tampil di depan publik dalam berbagai kegiatan organisasi — sesungguhnya telah melatih public speaking jauh sebelum mereka menginjakkan kaki di dunia kerja. Modal itu nyata dan terukur di mata rekruiter.
Yang perlu dilatih sekarang, menurut Firman, bukan membangun kemampuan dari nol — melainkan menyesuaikan cara penyampaiannya dengan konteks profesional: intonasi yang tepat saat wawancara, artikulasi yang jelas saat presentasi kepada atasan, hingga cara berkomunikasi via email dan WhatsApp yang etis di lingkungan korporasi.
Pesan ini relevan sekaligus memotivasi — bahwa aktivisme bukan hambatan karir, melainkan keunggulan kompetitif yang perlu dipoles.
Langkah Konkret Membangun Budaya Profesional di Tubuh Organisasi
Hadirnya Kelas Karir dalam TM 3 bukan sekadar penambahan sesi seminar. Ini adalah pernyataan sikap PW IPM Sulsel bahwa kaderisasi hari ini harus menjawab tantangan nyata yang dihadapi kader ketika keluar dari organisasi.
IPM hadir sebagai pelopor gerakan pelajar yang tidak hanya sibuk belajar, tetapi juga berpikir dan bertindak. Dengan mengintegrasikan Career Academy ke dalam pelatihan kader madya, IPM Sulsel menegaskan bahwa nilai-nilai yang ditanamkan dalam organisasi — kepemimpinan, integritas, kolaborasi, komunikasi — adalah persis nilai-nilai yang dibutuhkan dunia kerja.
Lingkungan profesional tidak dimulai ketika seseorang diterima kerja. Ia dimulai dari cara seorang kader menulis pesan, memimpin rapat, menjaga komitmen, dan merawat reputasinya — jauh sebelum ada kontrak kerja yang ditandatangani.
Penutup: Antara Dirimu dan Tuhan — Lalu Dunia
Sesi Kelas Karir TM 3 ditutup dengan sebuah refleksi mendalam dari puisi The Final Analysis — bahwa pada akhirnya, semua kerja keras, integritas, dan kontribusi yang diberikan bukan untuk dinilai siapapun, melainkan sebagai pertanggungjawaban kepada Yang Maha Mengetahui.
Bagi peserta TM 3, pesan itu meresap sempurna: jadilah profesional yang berintegritas, bukan karena diawasi — tetapi karena itulah karakter yang dibangun sejak di bangku organisasi.
Career Academy — Kelas Karir Perdana TM 3 | PW IPM Sulsel × Infomedia Solusi HumanikaGedung Serba Guna Aisyiyah, Parepare, Rabu 13 Mei 2026.
Penulis: Muh. Hasbi Manan
