Ibu: Puisi Pertama yang Mengajari Kita Menjadi Manusia

Ide, Makassar352 Dilihat

Oleh: Dr. Maria Ulviani, S.Pd., M.Pd.
Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unismuh Makassar

INDEPENDENews.com – Hari Ibu selalu datang seperti sebaris kalimat lirih yang dituliskan angin pada jendela pagi: sederhana, tetapi menyentuh ruang terdalam diri kita.

Dalam khazanah sastra, sosok ibu tidak pernah hadir sebagai tokoh biasa ia selalu menjadi metafora utama tentang cinta, keteguhan, dan keberanian.

Ibu adalah puisi pertama yang dibacakan hidup kepada kita, bahkan sebelum kita mengenal aksara.

Ketika kita berbicara tentang ibu, kita berbicara tentang perempuan yang menghadirkan hidup bukan hanya sebagai peristiwa biologis, melainkan sebagai tindakan penciptaan. Jika dalam teori naratologi seorang pengarang mencipta dunia melalui kata, maka ibu menciptakan dunia melalui kasih, pengorbanan, dan keberanian yang tak pernah ia pamerkan.

Ia adalah “penulis” pertama dari perjalanan hidup kita; ia yang meletakkan pondasi nilai, ritme emosi, hingga tata bahasa moral di lembar awal kehidupan kita.

Di tengah berbagai dinamika sosial, peringatan Hari Ibu sering kali direduksi menjadi upacara seremonial. Padahal, penghormatan kepada ibu seharusnya menjadi ajaran budaya, bukan sekadar agenda tahunan.

Kita hidup dalam masyarakat yang terus bergerak, tapi seberapa sering kita berhenti sejenak untuk merenungkan peran Perempuan bukan hanya sebagai ibu biologis, tetapi sebagai figur penjaga peradaban? Dalam banyak karya sastra, perempuan adalah cahaya yang tidak mencolok namun menerangi jalan panjang sejarah.

Hari Ibu adalah ruang untuk menengok kembali perempuan-perempuan yang hidupnya mungkin tidak tercatat dalam buku sejarah, tetapi tercatat jelas di lembar hati kita: ibu rumah tangga yang bekerja tanpa jam pulang, perempuan yang membesarkan anak sambil menahan getir hidup, guru yang menjadi ibu bagi murid-muridnya, perawat yang meminjamkan kelembutan hatinya kepada banyak orang, hingga perempuan yang memilih diam namun suaranya menggemakan keberanian.

Sebagai akademisi dan pembaca sastra, saya percaya bahwa ibu adalah teks yang tidak pernah selesai ditafsirkan. Setiap pengalaman kita menambahkan makna baru, menciptakan bacaan yang semakin kaya.

Kita menua, tetapi makna tentang ibu justru semakin dalam. Kita semakin mengerti bahwa cinta seorang ibu bekerja dalam keheningan, dalam kesederhanaan, dalam hal-hal kecil yang dulu tidak kita sadari.

Hari Ibu adalah ajakan untuk kembali membaca “teks cinta” itu dengan lebih saksama. Mengingat pelukan yang mungkin kini tinggal kenangan. Mengingat suara lembut yang dulu menenangkan, kini digantikan doa yang ia panjatkan dari kejauhan. Mengingat langkahnya yang perlahan, senyumnya yang menyimpan lelah, dan pengorbanannya yang sering kita maknai terlambat.

Di antara hiruk-pikuk kehidupan, ibu adalah jeda. Di tengah kesibukan dunia, ibu adalah rumah. Dan dalam perjalanan panjang menjadi manusia, ibu adalah kompas yang tidak pernah salah menunjukkan arah.

Mari menjadikan Hari Ibu bukan hanya sebagai penghormatan yang sentimental, tetapi sebagai refleksi kultural: bagaimana bangsa ini memperlakukan perempuan, bagaimana kita menghargai kerja tak terlihat mereka, dan bagaimana kita menempatkan cinta mereka sebagai dasar peradaban.

Ibu adalah puisi yang terus hidup bahkan ketika penyairnya telah tiada. Dan pada hari ini, kita kembali membaca puisinya dengan penuh syukur. (*)