Kak Seto-PKBM Era Widyawati Sinergi Hapus Stigma Anak Binaan Lewat Gerakan Literasi Digital

JAKARTA – Upaya memperluas akses pendidikan bagi anak binaan terus diperkuat melalui kolaborasi lintas lembaga.

Dalam rangkaian peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026, PKBM Era Widyawati menyerahkan bantuan laptop Chromebook kepada dua Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) sebagai bagian dari gerakan Sinergi Sejuta Tangan Stop Stigma.

Bantuan tersebut ditujukan untuk mendukung pembelajaran berbasis digital sekaligus memperkuat budaya literasi di lingkungan anak binaan.

Program ini melibatkan Dinas Pendidikan DKI Jakarta bersama sekitar 20 organisasi yang bergerak di bidang perlindungan anak, sosial, dan kemanusiaan. Di antaranya Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), BK3S DKI Jakarta, Tagana, PMI DKI, Kowani, PGRI, Sahabat Anak Indonesia (SAI), hingga PKBM Perkumpulan Keluarga Bugis Makassar.

Penggagas gerakan Sinergi Sejuta Tangan Stop Stigma, Kak AruL, mengatakan perlindungan terhadap anak tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab satu pihak.

“Butuh orang sekampung atau satu juta orang untuk melindungi satu anak. Semangat itulah yang kami bangun melalui gerakan Stop Stigma No Bully sekaligus gerakan literasi ‘Saya Cinta dan Suka Baca Buku’,” ujarnya.

Menurut dia, gerakan tersebut telah berhasil menghadirkan perpustakaan di LPKA Jakarta dan Tangerang melalui pengumpulan buku cerita, komik, dan novel dari berbagai sekolah. Program serupa akan terus diperluas ke daerah lain.

Momentum kegiatan semakin bermakna dengan kehadiran Ketua LPAI Seto Mulyadi atau Kak Seto di LPKA Kelas II Ciganjur, Jakarta Selatan, Minggu (27/7/2026).

Dalam kunjungannya, Kak Seto menyapa anak-anak binaan, berdialog, serta menikmati hidangan yang disiapkan dari dapur LPKA bersama para relawan dan organisasi yang terlibat.

Ketua PKBM Era Widyawati, Widyawati, mengatakan bantuan Chromebook diberikan agar anak-anak binaan memiliki kesempatan yang sama dalam mengikuti perkembangan teknologi pendidikan.

“Ini adalah manifestasi cinta untuk anak-anak binaan yang harus terpapar dengan dunia digital karena keberadaan e-book dan pembelajaran daring kini menjadi bagian penting dalam proses pendidikan,” kata Widyawati.

Selain menghadirkan perpustakaan di LPKA, gerakan literasi juga mulai diperluas ke ruang-ruang publik, termasuk stasiun dan moda transportasi kereta api melalui Program Kios Baca yang bekerja sama dengan KCM dan PT KAI.

Menurut panitia, perluasan akses bacaan di ruang publik diharapkan dapat memperkuat budaya membaca di masyarakat sekaligus mendorong partisipasi publik dalam gerakan literasi nasional.

Dalam kesempatan itu juga dipaparkan data survei CEOWORLD Magazine yang menempatkan Indonesia di peringkat ke-31 dari 102 negara dalam tingkat aktivitas membaca, dengan rata-rata durasi membaca mencapai 129 jam per tahun. Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) masyarakat Indonesia pada 2022 juga tercatat meningkat menjadi 63,9 poin.

Panitia mengapresiasi dukungan Dinas Pendidikan DKI Jakarta, organisasi sosial dan kemanusiaan, serta Direktorat Jenderal Pemasyarakatan yang ikut mendorong terlaksananya program tersebut.

Melalui kolaborasi tersebut, gerakan literasi diharapkan tidak hanya meningkatkan kemampuan membaca anak binaan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menghapus stigma sosial, membuka akses pendidikan yang setara, serta mempersiapkan mereka kembali ke tengah masyarakat dengan bekal pengetahuan dan keterampilan yang lebih baik. (*)