Dari Balik Meja Barista Menuju Baitullah: Kisah Haru Muhammad Rinaldo Memenuhi Panggilan Haji

Inspiratif16 Dilihat

MADINAH — Angan tentang Baitullah sering kali dirasa sebagai mimpi yang teramat jauh bagi sebagian orang. Namun, garis tangan manusia adalah rahasia mutlak milik Sang Pencipta.

Jika Allah telah berkehendak memanggil hamba-Nya, profesi dan latar belakang keduniawian tak pernah menjadi penghalang.

Esensi kepasrahan inilah yang terpancar dari sosok Muhammad Rinaldo, Pemuda yang sehari-hari bergelut dengan aroma kopi dan mesin espreso sebagai seorang barista ini, berhasil menginjakkan kakinya di Tanah Suci sebagai salah satu jemaah haji musim 1447 Hijriah/2026 Masehi.

Perjalanannya bukan tentang kemewahan, melainkan tentang ketulusan, kerja keras, dan kesabaran yang berbuah manis.

Perjalanan spiritual Rinaldo secara intensif dimulai pada awal bulan lalu, tepatnya 2–3 Mei 2026.

Di sela-sela kesibukannya, ia mengikuti bimbingan manasik haji dengan kesungguhan penuh.

Rinaldo menyerap setiap detail rukun Islam kelima tersebut—mulai dari cara melilitkan dua lembar kain ihram tanpa jahitan, tata kelola hati saat thawaf, hingga ketahanan fisik untuk sa’i antara Shafa dan Marwah.

Antusiasme dan ketekunannya yang tinggi rupanya memantik perhatian sang pembimbing ibadah.

Di penghujung manasik, sebuah hadiah tak terduga datang menyentuh hatinya.

“Untuk Pak Rinaldo, karena begitu semangat dan antusias sejak hari pertama,” ucap sang ustaz sembari menyerahkan sebuah Al-Qur’an.

Bagi Rinaldo, kitab suci itu bukan sekadar hadiah seremonial. Ia mendekapnya erat, menjadikannya lentera pembuat tenang yang kelak menemaninya sepanjang perjalanan melintasi benua.

Ujian Kesabaran di Angkasa dan Panggilan Ihram

Rabu dini hari, 20 Mei 2026 pukul 00.30 WIB, menjadi lembaran baru dalam hidup Rinaldo. Dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, ia bersama rombongan jemaah haji lepas landas menggunakan maskapai Emirates Airlines. Isak tangis dan doa keselamatan dari keluarga mengiringi deru mesin pesawat yang membawanya terbang.

Ujian fisik pertama langsung menghampiri di atas awan. Postur tubuh Rinaldo yang tinggi membuat ruang kursi kelas ekonomi terasa begitu sempit. Selama penerbangan delapan jam, ia kesulitan untuk sekadar meluruskan kaki atau terlelap.

Alih-alih mengeluh, ia memilih berserah. Rinaldo membuka Al-Qur’an hadiah dari pembimbingnya, meresapi ayat demi ayat di tengah kegelapan kabin pesawat untuk menghalau rasa lelah.

Saat pesawat transit di Doha, babak baru dimulai. Rinaldo bergegas mengambil miqat dan menanggalkan pakaian kasualnya, berganti kain ihram putih—sebuah simbol keluruhan bahwa di hadapan Allah, seorang barista dan pejabat memiliki derajat yang sama.

Dengan bibir bergetar dan mata berkaca-kaca, kalimat talbiyah itu meluncur syahdu dari lisannya:

“Labbaik Allahumma labbaik… Aku memenuhi panggilan-Mu, ya Allah.”

Dua jam penerbangan lanjutan dari Doha menuju Jeddah tak lagi terasa melelahkan. Pikirannya sudah melesat jauh mendahului fisiknya, tertuju pada keagungan Ka’bah.

Mengumandangkan Azan di Makkah dan Meraih Mabrur

Selama berada di Tanah Suci, di bawah bimbingan intensif dari Ustaz Hasan Gaido selaku pembimbing ibadah serta Ustaz Acung Wahyu sebagai pimpinan rombongan, Rinaldo mampu menyelesaikan seluruh rangkaian haji tamattu’ secara paripurna. Mulai dari umrah wajib, tarwiyah di Mina, keheningan wukuf di Arafah, bermalam di Muzdalifah, melontar jumrah, hingga thawaf ifadhah.

Namun, dari sekian banyak ritual suci, ada satu mukjizat kecil yang menggetarkan batinnya. Allah memberikan kesempatan langka bagi sang barista muda untuk mengumandangkan azan di Makkah. Suara panggilan salat yang biasanya hanya ia dengar lewat pelantang suara di tanah air, kini keluar langsung dari kerongkongannya sendiri, menggema di tanah para nabi.

Kini, setibanya di Madinah pada Selasa (9/6/2026) untuk berziarah, Rinaldo membawa pulang lebih dari sekadar cerita perjalanan. Ia membawa pulang transformasi jiwa.

Kisah Muhammad Rinaldo menjadi bukti nyata bahwa panggilan haji bukanlah milik mereka yang sekadar mampu secara materi, melainkan mereka yang diundang langsung oleh pemilik Baitullah.

Dengan kerja keras, untaian doa di sepertiga malam, dan keyakinan sekokoh batu karang, seorang barista bisa berdiri tegak mengucapkan kalimat talbiyah di jantung umat Islam.

Semoga kepulangan Muhammad Rinaldo ke tanah air membawa predikat haji yang mabrur—sebuah kemabruran yang tidak mandek pada kesalehan pribadi, melainkan mengalirkan kebaikan yang berdampak luas bagi keluarga, masyarakat, dan bangsanya.

Karena sejatinya, haji mabrur akan selalu terkoneksi dengan kebaikan yang tak berkesudahan. (*)