Tanpa Literasi Digital, Hukum Tumpul Demokrasi Rapuh

Ide276 Dilihat

Oleh : Achmad Yusran

INDEPENDENews.com- Era ketika ruang digital menjadi agora modern—tempat gagasan, opini, bahkan masa depan bangsa diperjualbelikan, literasi digital bukan lagi sekadar keterampilan tambahan.

Ia adalah syarat hidup.

Tanpa itu, hukum akan kehilangan ketajamannya, dan demokrasi akan mudah rapuh.

Siber Buta Literasi

Bayangkan seorang warga yang masuk ke ruang digital tanpa bekal literasi.

Ia seperti anak kecil yang tersesat di pasar gelap: tidak bisa membedakan pedagang jujur dari penipu.

Informasi palsu, narasi polarisasi, dan algoritma manipulatif dengan mudah meracuni kesadarannya. Setiap klik dan share justru menjadi senjata yang diarahkan balik padanya.

Dalam kondisi ini, hukum menjadi tumpul. Penipuan digital dibiarkan karena korban tak tahu haknya.

Ujaran kebencian tersebar karena masyarakat tak mampu mengenali batas hukum.

Demokrasi pun melemah: pilihan publik tidak lagi lahir dari deliberasi rasional, melainkan dari kebohongan dan emosi yang direkayasa.

Literasi Digital = Tameng Hukum + Fondasi Demokrasi

Sebaliknya, warga yang melek digital memasuki ruang yang sama dengan tameng kritis.

Mereka mampu memverifikasi informasi, mengenali akun palsu, memahami bias algoritma, dan mengetahui mekanisme hukum bila menjadi korban.

Literasi digital melindungi mereka sekaligus memperkuat hukum agar benar-benar bekerja untuk rakyat.

Lebih jauh, literasi digital adalah fondasi demokrasi modern.

Demokrasi bertumpu pada partisipasi publik yang cerdas, rasional, dan berbasis fakta.

Warga yang terinformasi akan menolak politik kebencian, melawan polarisasi, dan memilih pemimpin berdasarkan rekam jejak, bukan retorika manipulatif.

Proyek Kebangsaan yang Mendesak

Memperjuangkan literasi digital bukan sekadar program teknis.

Ia adalah proyek kebangsaan yang mendesak upaya menajamkan kembali hukum yang tumpul dan memperkuat demokrasi yang rapuh.

Masa depan hukum dan demokrasi kita ditentukan di ruang digital. Dan pertarungan itu akan dimenangkan bukan oleh mereka yang paling nyaring, tetapi oleh mereka yang paling melek.(*)