Nilai Ekologis Dalam Pappasang Sebagai Pembelajaran Bahasa Makassar untuk Mitigasi Bencanana

Berita Utama, Ide201 Dilihat

(Deni Indrawan)

INDEPENDENews.com- Pappasang merupakan warisan sastra lisan yang dipegang teguh oleh masyarakat Makassar dan sarat dengan nilai-nilai ekologis.

Lebih dari sekadar petuah moral atau ajaran etika, Pappasang berfungsi sebagai panduan hidup yang menautkan manusia dengan alam secara spiritual maupun praktis, sekaligus menawarkan cetak biru pengelolaan lingkungan yang telah teruji oleh waktu (Mappasanda, 2020).

Pemanfaatan Pappasang sebagai medium pembelajaran Bahasa Makassar tidak hanya melestarikan bahasa ibu, tetapi juga menanamkan cara pandang kosmik tentang alam; setiap kosakata seperti tamparang (laut), romang (hutan), dan je’ne (air) diperlakukan sebagai entitas yang harus dihormati (Daeng, 2018), bukan sekadar objek eksploitasi.

Kekuatan Pappasang terletak pada kemampuannya menyederhanakan prinsip-prinsip ekologi yang kompleks menjadi nasihat yang mudah dipahami, sehingga secara implisit membangun kesadaran kolektif atas kerentanan lingkungan.

Pembelajaran bahasa melalui konteks ini menjadi sama pentingnya dengan mempelajari tata bahasa; Pappasang menanamkan filosofi keselarasan yang krusial bagi upaya mitigasi bencana.

Dengan mempelajari dan menghayati petuah ini dalam Bahasa Makassar, generasi muda tidak hanya mempertahankan bahasa ibu mereka, tetapi juga mewarisi sistem pertahanan kultural terhadap ancaman alam.

Nilai ekologis yang fundamental tampak dalam Pappasang a’bulo sibatang (bersatu seperti sebatang bambu). Petuah ini sering dimaknai sebagai ajakan gotong royong, namun secara ekologis merupakan seruan untuk menjaga hutan sebagai penopang kehidupan bersama.

Prinsip tersebut menjadi bentuk mitigasi bencana yang penting; persatuan komunitas dalam menjaga romang (hutan) secara langsung dapat mencegah deforestasi yang menjadi penyebab utama banjir bandang dan longsor (Syamsuddin & Amirullah, 2019). Petuah ini menegaskan bahwa keselamatan sosial dan ekologis merupakan tanggung jawab kolektif.

Pappasang juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan air dan pesisir, yang sangat relevan bagi wilayah kepulauan seperti Sulawesi yang rawan bencana hidrometeorologi. Petuah seperti bajikangngangi matea ri tangngana tamparanga, yang menekankan penghargaan terhadap air sebagai sumber kehidupan, membentuk etos pengelolaan sumber daya air yang bijak.

Nilai ekologis ini menegaskan bahwa kearifan lokal adalah modal besar dalam adaptasi terhadap perubahan iklim (Mustamin, 2021), termasuk dalam praktik seperti membangun sumur resapan tradisional dan menjaga daerah aliran sungai.

Di kawasan pesisir, Pappasang menjadi dasar etika kelautan yang efektif. Ajaran tuli pakkuliki pa’rasanganta, nampa pakkuliki tamparanta menegaskan bahwa pemeliharaan daratan dan laut harus berjalan beriringan.

Petuah ini mengingatkan bahwa kerusakan di darat—mulai dari pembuangan sampah hingga pencemaran limbah—pasti berdampak buruk pada laut. Pengajaran bahasa melalui petuah ini dapat mendukung mitigasi abrasi dan kerusakan terumbu karang. Dengan menanamkan nilai tersebut, masyarakat terdorong untuk menolak praktik merusak seperti penambangan pasir ilegal atau penangkapan ikan destruktif, sehingga terbentuk tanggung jawab kolektif terhadap kelestarian ekosistem pesisir.

Implementasi Pappasang dalam kurikulum Bahasa Makassar kemudian menjadi jembatan yang menyatukan kearifan masa lalu dengan tantangan modern. Bahasa tidak lagi berfungsi hanya sebagai alat komunikasi, tetapi sebagai medium pelestarian lingkungan. Revitalisasi bahasa melalui Pappasang berarti menginternalisasi makna yang mendalam ke dalam setiap kata yang dipelajari, memastikan bahwa setiap ungkapan memuat spirit menjaga alam dan hidup selaras dengan butta (tanah).

Strategi ini menawarkan solusi holistik, karena pemahaman bahasa dan budaya berjalan bersamaan dengan mitigasi bencana. Ketika masyarakat memahami bahwa merusak hutan atau mencemari sungai berarti melanggar Pappasang leluhur, kepedulian terhadap lingkungan tidak lagi sekadar kewajiban hukum, tetapi menjadi kewajiban moral dan kultural yang mengakar.

Agar nilai ekologis Pappasang efektif diimplementasikan dalam mata pelajaran muatan lokal, diperlukan dokumentasi dan transliterasi yang akurat serta dukungan kebijakan pemerintah. Pembelajaran bahasa harus memiliki keluaran nyata, terutama melalui perpaduan teori Pappasang dengan kegiatan konservasi di komunitas. Langkah ini dapat mewujudkan pendidikan mitigasi bencana yang autentik dan kontekstual.

Oleh karena itu, menjadikan nilai ekologis Pappasang sebagai fondasi pembelajaran Bahasa Makassar merupakan investasi jangka panjang yang penting. Kearifan leluhur tidak hanya dipertahankan, tetapi juga dihidupkan sebagai solusi adaptif menghadapi perubahan iklim. Dengan demikian, masyarakat Makassar dapat mempertahankan identitas kulturalnya sekaligus membangun masa depan yang tangguh dan lestari secara ekologis.(*)