Oleh: Makmur Idrus
INDEPENDENews.com- Bagi masyarakat Sulawesi Selatan khususnya Makassar dan wilayah pesisir domino bukan sekadar permainan. Ia adalah bagian dari denyut sosial. Di pos ronda lorong-lorong kota, di kolong rumah panggung kampung, hingga di warung kopi pinggir jalan, domino menjadi ruang perjumpaan lintas usia dan latar belakang. Nelayan, buruh, ASN, hingga pengusaha kecil dan menengah duduk setara, berbagi cerita sambil mengadu strategi.
Domino tumbuh dalam kesederhanaan, tetapi kaya makna. Ia melatih kesabaran, ketajaman membaca situasi, serta kecerdikan dalam mengambil keputusan.
Tidak mengherankan jika di banyak tempat, pemain domino dihormati bukan karena kekuatan fisik, melainkan kecerdasan berpikirnya.
Ia adalah “sekolah strategi” yang tumbuh alami di tengah masyarakat.
Kini lanskap itu mulai berubah. Domino tidak lagi hanya milik pos ronda. Ia memasuki ruang profesional: turnamen resmi, aturan baku, wasit, sistem penilaian modern, bahkan digelar di hotel berbintang. Di Makassar, geliat ini terasa nyata. Event-event domino dikemas semakin rapi, menarik penonton, sponsor, dan peserta dari berbagai daerah. Domino sedang naik kelas.
Transformasi ini layak dibaca sebagai kemajuan budaya, bukan sekadar sensasi. Selama ini, permainan tradisional kerap dipandang sebelah mata dianggap hiburan kelas bawah, pengisi waktu luang tanpa nilai prestasi. Domino membantah stigma tersebut. Ia menunjukkan bahwa olahraga berbasis kecerdasan, strategi, dan pengendalian emosi juga pantas mendapat pengakuan setara dengan cabang olahraga lain.
Di meja domino, pemain tidak sekadar menghitung angka. Mereka membaca pola, mengamati bahasa tubuh lawan, mengelola tempo permainan, dan menahan ego. Semua itu adalah keterampilan hidup yang relevan, bahkan dalam konteks kepemimpinan dan pengambilan keputusan publik. Tidak berlebihan jika domino disebut sebagai olahraga pikiran rakyat.
Namun profesionalisasi domino juga membawa tantangan, terutama dalam konteks lokal. Sulawesi Selatan dikenal dengan budaya siri’—harga diri dan kehormatan. Nilai ini harus menjadi roh utama dalam pengelolaan domino profesional. Tanpa integritas, transparansi, dan sportivitas, domino berisiko kehilangan martabatnya: naik kelas secara tempat, tetapi turun kelas secara nilai.
Kekhawatiran lain adalah potensi terputusnya hubungan dengan akar rumput. Jangan sampai domino hanya menjadi milik segelintir elite turnamen, sementara komunitas di lorong-lorong kota justru terpinggirkan. Domino lahir dari kebersamaan; karena itu, profesionalisme yang sehat harus tetap memberi ruang bagi pembinaan komunitas, liga rakyat, dan regenerasi dari bawah.
Di sinilah peran daerah menjadi penting. Pemerintah, komunitas, dan penyelenggara perlu memandang domino sebagai aset budaya dan sosial. Ia berpotensi menjadi bagian dari sport tourism, penguatan ekonomi kreatif, sekaligus sarana pelestarian tradisi lokal. Domino Sulsel tidak perlu kehilangan logat, gaya bermain, dan karakter khasnya hanya demi mengejar standar modern.
Transformasi domino di Makassar dan Sulawesi Selatan memberi pelajaran berharga: modernitas tidak harus menghapus tradisi. Justru sebaliknya, tradisi yang ditata dengan baik dapat tampil bermartabat di panggung modern. Dari pos ronda hingga ballroom hotel, domino membuktikan bahwa kearifan lokal mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.
Dari keping-keping kecil itu, kita belajar bahwa budaya rakyat bukan barang usang.
Ia hidup, bergerak, dan berkembang bersama zaman. Domino hari ini menjadi simbol bahwa apa yang lahir dari lorong-lorong kampung Sulawesi Selatan pun dapat berdiri tegak di panggung besar asal nilainya dijaga, dikelola dengan adil, dan akarnya tetap dihormati.
