Cerita Petugas PKP2JH Hadapi Tantangan Puncak Haji 2026 di Makkah

MAKKAH — Petugas Penanganan Krisis dan Pertolongan Pertama pada Jemaah Haji (PKP2JH) menjadi garda terdepan dalam merespons berbagai kondisi darurat yang dialami jemaah haji Indonesia selama berada di Tanah Suci.

Anggota PKP2JH PPIH Arab Saudi 2026, Cipto Fidianto, mengatakan tugas utama timnya adalah memberikan respons cepat terhadap kondisi kesehatan maupun situasi lain yang berpotensi mengancam keselamatan jemaah.

“Sebagai bagian dari PKP2JH, kami bertugas melakukan pemantauan, pertolongan pertama, stabilisasi awal, koordinasi evakuasi, hingga memastikan jemaah mendapatkan layanan kesehatan lanjutan bila diperlukan,” ujar Cipto di Makkah, Jumat (19/6/2026).

Perawat RSUP Dr Hasan Sadikin Bandung tersebut menjelaskan tugas itu dilakukan melalui patroli aktif di berbagai titik konsentrasi jemaah.

Petugas juga melakukan pendampingan pada fase-fase kritis ibadah haji serta berkoordinasi dengan petugas kesehatan Indonesia dan otoritas Arab Saudi.

Menurut Cipto, setiap hari tim PKP2JH bergerak menyusuri area yang menjadi pusat aktivitas jemaah untuk memantau kondisi kesehatan mereka.

Perhatian khusus diberikan kepada jemaah lansia, penyandang disabilitas, dan mereka yang memiliki penyakit penyerta.

Ia menilai kesiapsiagaan menjadi faktor penting karena kondisi kesehatan jemaah dapat berubah sewaktu-waktu.

Risiko tersebut semakin meningkat ketika cuaca panas ekstrem dan kepadatan jemaah di lokasi ibadah bertambah.

Selain memberikan pertolongan pertama, PKP2JH juga berperan sebagai penghubung antara jemaah, petugas kesehatan, dan fasilitas layanan kesehatan.

Dengan peran tersebut, proses penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sesuai kebutuhan pasien.

Di lapangan, petugas kerap melakukan asesmen kondisi kesehatan, memberikan pertolongan awal, hingga mengevakuasi jemaah yang membutuhkan penanganan lanjutan.

Cipto mengungkapkan kasus yang paling sering ditemui meliputi kelelahan berat, dehidrasi, heat exhaustion, sesak napas, hingga penurunan kesadaran.

Petugas juga sering membantu jemaah lanjut usia yang mengalami kesulitan mobilisasi selama menjalankan ibadah.

Selain itu, tidak sedikit jemaah yang terpisah dari rombongan akibat kelelahan maupun kebingungan orientasi.

Salah satu kondisi yang paling sering memerlukan penanganan cepat adalah ketika jemaah mengalami kolaps akibat paparan panas dan aktivitas fisik berlebihan.

Dalam situasi tersebut, petugas harus segera melakukan asesmen awal dan memberikan pertolongan pertama di lokasi kejadian.

Jika diperlukan, petugas akan menstabilkan kondisi pasien dan mengoordinasikan evakuasi menuju fasilitas kesehatan terdekat.

“Kecepatan respons menjadi sangat penting karena beberapa menit pertama sering kali menentukan keberhasilan penanganan,” katanya.

Menurut Cipto, seluruh prosedur penanganan diawali dengan asesmen cepat untuk menentukan tingkat kegawatan pasien.

Setelah itu, petugas memberikan tindakan sesuai kondisi yang ditemukan dan mengaktifkan sistem rujukan apabila dibutuhkan.

Ia menegaskan seluruh proses dilakukan dengan mengutamakan keselamatan pasien dan koordinasi lintas sektor.

Tantangan terbesar bagi PKP2JH, lanjut Cipto, berada pada fase puncak haji saat jutaan jemaah berkumpul di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

Pada fase tersebut, tingginya mobilitas dan kepadatan jemaah sering kali menyulitkan akses menuju lokasi pasien yang membutuhkan bantuan.

“Tantangan terbesar adalah tingginya mobilitas dan kepadatan jemaah pada fase puncak haji, khususnya saat pergerakan di Armuzna,” ungkapnya.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, PKP2JH memperkuat koordinasi antarpetugas dan meningkatkan patroli di titik-titik strategis.

Petugas juga memanfaatkan sistem komunikasi yang efektif agar penanganan darurat dapat dilakukan lebih cepat.

Selain pelayanan kegawatdaruratan, edukasi kesehatan kepada jemaah juga menjadi bagian penting dari tugas PKP2JH.

Menurut Cipto, banyak kondisi darurat sebenarnya dapat dicegah apabila jemaah memiliki kesiapan fisik yang baik dan memahami risiko kesehatan selama berhaji.

Karena itu, petugas terus mengingatkan jemaah untuk menjaga hidrasi, mengatur aktivitas fisik, dan mematuhi anjuran kesehatan selama berada di Tanah Suci.

Ia berharap pemerintah terus memperkuat sistem layanan kesehatan haji melalui peningkatan kapasitas petugas dan sarana pendukung kegawatdaruratan.

Pemanfaatan teknologi juga dinilai penting untuk mempercepat koordinasi dan pemantauan kondisi jemaah secara real time.

“Kami berharap kualitas pelayanan haji Indonesia semakin baik sehingga seluruh jemaah dapat beribadah dengan aman, sehat, dan meraih haji yang mabrur,” tuturnya. (*)