INDEPENDENEWS.COM, MAKASSAR— Dari kejauhan, Menara Pinisi berdiri mencolok di tengah kawasan Universitas Negeri Makassar (UNM).
Bangunan itu bukan sekadar gedung bertingkat yang menjadi pusat aktivitas akademik.
Bentuknya yang menyerupai layar kapal pinisi membuatnya mudah dikenali.
Ia kemudian tumbuh menjadi salah satu simbol visual UNM.
Namun, di balik bangunan yang menjulang tersebut, terdapat cerita panjang tentang gagasan, perencanaan, komunikasi, dan kerja kolektif.
Jauh sebelum konstruksi dimulai, gagasan pembangunan harus terlebih dahulu menemukan bentuknya.
Kebutuhan kampus harus diterjemahkan menjadi perencanaan.
Perencanaan harus disusun menjadi program.
Program harus diperjuangkan melalui jalur kelembagaan.
Pada titik inilah jejak Prof Eko Hadi Sujiono menjadi bagian dari perjalanan pengembangan UNM.
Eko bergabung dalam Task Force UNM sejak 2004.
Setahun kemudian, ia masuk dalam Tim Pengembang UNM.
Ia kemudian dipercaya memimpin tim tersebut hingga 2012.
Posisi itu membuat Eko berada dalam salah satu simpul penting pengembangan institusi.
Ia tidak hanya berhadapan dengan pertanyaan tentang apa yang harus dibangun.
Ia juga harus berhadapan dengan pertanyaan tentang bagaimana sebuah gagasan kampus dapat diwujudkan.
Kerja Panjang di Balik Menara
Pembangunan sebuah gedung besar tidak pernah benar-benar dimulai ketika alat berat masuk ke lokasi.
Prosesnya dimulai jauh sebelumnya.
Ada kebutuhan yang harus dipetakan.
Ada desain dan perencanaan yang harus dipersiapkan.
Ada argumentasi akademik yang harus dibangun.
Ada pula kebutuhan anggaran yang harus diperjuangkan.
Semua itu membutuhkan komunikasi lintas lembaga.
Dalam pembangunan Menara Pinisi, proses tersebut berlangsung pada masa kepemimpinan Rektor UNM Prof. Dr. H. Arismunandar, M.Pd.
Sejumlah unsur kampus kemudian bekerja dalam satu rangkaian proses pengembangan.
Eko menjadi bagian dari tim yang mengawal agenda tersebut.
Komunikasi juga dibangun dengan sejumlah pemangku kepentingan strategis.
Di antaranya Wakil Presiden RI periode 2004–2009 Jusuf Kalla, Komisi X DPR RI, serta Badan Perencanaan Pembangunan Nasional atau Bappenas.
Dari proses tersebut terlihat satu hal.
Gagasan besar di lingkungan perguruan tinggi tidak cukup berhenti di ruang rapat.
Gagasan harus mampu diterjemahkan ke dalam bahasa kebijakan.
Ia harus bisa dijelaskan kepada pengambil keputusan.
Dan pada akhirnya harus menemukan jalan dalam mekanisme perencanaan serta penganggaran negara.
Di situlah kerja kelembagaan menjadi penting.
Menara yang Dibangun Banyak Tangan
Ketika Menara Pinisi akhirnya berdiri, perhatian publik tentu tertuju pada bentuk fisiknya.
Tetapi sebuah bangunan tidak pernah lahir dari kerja satu orang.
Ada pimpinan universitas yang mengambil keputusan.
Ada tim yang menyusun perencanaan.
Ada tenaga teknis yang mengerjakan detail pembangunan.
Ada pemerintah yang memproses kebijakan dan anggaran.
Ada pula sivitas akademika yang memberikan gagasan dan dukungan.
Karena itu, sejarah Menara Pinisi lebih tepat dibaca sebagai sejarah kerja kolektif.
Eko Hadi Sujiono merupakan salah satu bagian dari perjalanan tersebut.
Pengalaman itu juga menjadi bagian dari perjalanan panjangnya dalam pengembangan kelembagaan UNM.
Setelah terlibat dalam Tim Pengembang, Eko menjadi bagian dari Senat UNM pada 2009–2016.
Ia juga memimpin Tim Penyusun Kinerja Rencana Strategis UNM pada 2010–2011.
Dari pembangunan fisik, perhatiannya kemudian bersentuhan dengan persoalan yang lebih luas.
Bukan lagi sekadar membangun ruang.
Melainkan menentukan arah perjalanan institusi.
Ketika Gedung Tidak Lagi Menjadi Ukuran Utama
Dua dekade setelah gagasan besar pembangunan kampus itu berkembang, tantangan perguruan tinggi telah berubah.
Persaingan antaruniversitas semakin terbuka.
Teknologi bergerak cepat.
Kecerdasan buatan mulai mengubah cara manusia belajar, mengajar, melakukan penelitian, dan bekerja.
Di tengah perubahan itu, perguruan tinggi tidak cukup hanya memiliki gedung yang megah.
Laboratorium harus hidup.
Riset harus menghasilkan dampak.
Dosen muda harus memiliki ruang untuk tumbuh.
Mahasiswa membutuhkan pengalaman yang lebih dekat dengan persoalan nyata.
Kerja sama dengan dunia industri harus diperkuat.
Jaringan internasional perlu diperluas.
Dan ilmu pengetahuan harus semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Dengan kata lain, pembangunan universitas telah bergeser.
Dari sekadar membangun infrastruktur menuju membangun ekosistem.
Gedung hanyalah wadah.
Yang menentukan hidup atau tidaknya sebuah universitas adalah aktivitas intelektual di dalamnya.
Pinisi dan Cara Berlayar
Menara Pinisi memiliki simbol yang kuat.
Bentuknya mengingatkan pada kapal pinisi yang menjadi bagian dari identitas maritim Sulawesi Selatan.
Sebuah kapal tidak akan berlayar hanya karena memiliki layar.
Ia membutuhkan arah.
Membutuhkan nakhoda.
Membutuhkan awak yang memahami tugasnya.
Dan seluruh awak harus bergerak menuju tujuan yang sama.
Universitas pun demikian.
Rektor memiliki posisi penting.
Tetapi sebuah universitas tidak mungkin bergerak hanya dengan satu orang.
Dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, peneliti, alumni, mitra industri, pemerintah, dan masyarakat merupakan bagian dari ekosistem tersebut.
Karena itu, kepemimpinan perguruan tinggi tidak semata-mata tentang membuat program baru.
Yang lebih penting adalah kemampuan menyatukan potensi yang sudah tersedia.
Membangun kepercayaan.
Menghubungkan berbagai kepentingan.
Dan memastikan setiap gagasan dapat diterjemahkan menjadi kerja nyata.
Menatap UNM 2026–2030
Menjelang Pemilihan Rektor UNM periode 2026–2030, pertanyaan mengenai arah universitas kembali menjadi penting.
UNM memiliki sejarah panjang dalam pendidikan.
Perguruan tinggi ini telah melahirkan banyak tenaga pendidik dan profesional.
Namun, tantangan masa depan menuntut lebih dari sekadar mempertahankan reputasi.
UNM perlu memperkuat kualitas akademik dan riset.
Ruang bagi dosen muda perlu diperluas.
Inovasi harus menjadi bagian dari budaya kampus.
Internasionalisasi perlu diperkuat.
Transformasi digital harus dipercepat.
Kecerdasan buatan juga perlu ditempatkan sebagai instrumen peningkatan kualitas pendidikan.
Pada saat yang sama, karakter akademik tidak boleh kehilangan tempat.
Kampus harus tetap menjadi ruang untuk menguji gagasan.
Ruang untuk berbeda pendapat.
Ruang untuk melakukan penelitian.
Dan ruang untuk melahirkan generasi baru.
Karena pada akhirnya, membangun universitas bukan hanya soal membangun gedung.
Membangun universitas adalah membangun manusia.
Dari Menara ke Ekosistem Pengetahuan
Jejak Eko Hadi Sujiono dalam pengembangan UNM menjadi bagian dari cerita panjang tersebut.
Ia bukan satu-satunya tokoh yang berada di balik pembangunan Menara Pinisi.
Tidak ada satu nama yang dapat mewakili seluruh proses tersebut.
Menara Pinisi merupakan hasil kerja banyak tangan dan banyak gagasan.
Namun, pengalaman Eko dalam Tim Pengembang, Senat, serta penyusunan rencana strategis menunjukkan satu rangkaian perjalanan.
Dari mengawal gagasan pembangunan fisik hingga ikut memikirkan arah pengembangan institusi.
Pelajaran terbesarnya sederhana.
Universitas besar tidak dibangun dalam satu malam.
Ia tumbuh melalui keputusan yang dibuat secara bertahap.
Melalui kerja tim.
Melalui keberanian memperjuangkan gagasan.
Dan melalui kemampuan menghubungkan kepentingan kampus dengan kebutuhan masyarakat.
Kini, pertanyaan bagi UNM bukan lagi sekadar bagaimana membangun menara yang lebih tinggi.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apa yang akan dibangun di dalamnya.
Laboratorium seperti apa yang akan tumbuh?
Riset apa yang akan dikembangkan?
Mahasiswa seperti apa yang akan dilahirkan?
Dosen muda seperti apa yang akan diberi ruang?
Dan seberapa besar pengetahuan yang lahir dari UNM dapat memberikan manfaat bagi Sulawesi Selatan dan Indonesia?
Pertanyaan itu menjadi relevan dalam percakapan mengenai masa depan UNM.
Sebab, masa depan universitas tidak hanya ditentukan oleh siapa yang duduk di kursi rektor.
Masa depan ditentukan oleh visi yang dibangun.
Orang-orang yang dilibatkan.
Serta kemampuan mengubah visi tersebut menjadi kerja nyata.
Jika Menara Pinisi menjadi simbol perjalanan UNM pada masa lalu, maka generasi berikutnya menghadapi tugas yang berbeda.
Mereka tidak hanya dituntut membangun gedung.
Mereka dituntut membangun ekosistem pengetahuan.
Sebab, universitas yang besar bukan hanya universitas dengan bangunan yang menjulang.
Melainkan universitas yang mampu membuat ilmu pengetahuan tumbuh, manusia berkembang, dan manfaatnya dirasakan masyarakat.(*)
- Menara Pinisi dan Jejak Eko Hadi Sujiono: Dari Gagasan Pembangunan Kampus hingga Masa Depan UNM - 29 Agustus 2026
- Bupati Gowa Bantah Nonjobkan 16 Pejabat, Sebut Hanya 7 yang Dibebastugaskan Sementara - 25 Agustus 2026
- Gempa 7,7 SR Picu Peringatan Tsunami, Jeneponto, Bantaeng dan Selayar Siaga - 15 Agustus 2026
