Martono Raih Doktor di UIN Alauddin, Ungkap Rahasia Pesantren Gombara Bentuk Karakter Santri Lewat ISMUBA

INDEPENDENEWS.COM, MAKASSAR – Kepala LPTQ Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Gombara Makassar Martono La Moane, meraih gelar doktor pada program studi dirasah Islamiyah konsentrasi pendidikan dan keguruaan di Pascasarjana UIN Alauddin Makassar, Jl. H. M. Yasin Limpo Gowa, Sulsel, Senin (24/8/2026).

Gelar doktor tersebut diraih setelah Martono La Moane mempertahankan disertasinya berjudul “Implementasi Kurikulum Ismuba Bagi Pembentukan Karakter Santri di Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Gombara Makassar”.

Pembentukan karakter santri yang berakhlak mulia, mandiri, dan berwawasan luas membutuhkan pendekatan pendidikan yang holistik.

Hal inilah yang ditegaskan oleh Dr. Martono La Moane melalui penelitian doktoralnya mengenai implementasi Kurikulum Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab (ISMUBA) di Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Gombara, Makassar.

Dalam penelitian kualitatif studi kasus yang dilakukannya, Dr. Martono menemukan bahwa keberhasilan pembentukan karakter santri tidak hanya bertumpu pada materi di dalam kelas, melainkan pada pengintegrasian yang kuat antara pembelajaran formal dan kehidupan di asrama.

“Kurikulum ISMUBA di Pesantren Darul Arqam Gombara dirancang secara integratif, berbasis nilai, dan kontekstual. Tiga komponen utamanya Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab tidak sekadar menjadi mata pelajaran, tetapi diinternalisasikan ke dalam budaya dan perilaku sehari-hari santri,” ungkap Dr. Martono dihadapan penguji.

“Kurikulum yang efektif adalah kurikulum yang tidak hanya mengejar nilai kognitif atau hafalan semata, melainkan mengintegrasikan dimensi afektif dan psikomotorik secara seimbang,” tambahnya.

Penelitian ini mengungkapkan peran spesifik dari masing-masing komponen ISMUBA:

Al-Islam: Berperan vital dalam membentuk ketauhidan, kerapian ibadah, dan akhlakul karimah.

Kemuhammadiyahan: Menanamkan ideologi, kepemimpinan, jiwa kaderisasi, serta semangat ‘Islam Berkemajuan’ dan kepedulian sosial.

Bahasa Arab: Menjadi fondasi akademis untuk memperkuat penguasaan literatur dan sumber-sumber ajaran Islam.

Proses transformasi karakter tersebut berlangsung secara bertahap, mulai dari pemahaman konsep, pembiasaan rutin, hingga akhirnya menjadi karakter yang melekat.

“Lingkungan asrama berfungsi sebagai hidden curriculum (kurikulum tersembunyi) yang memperkuat apa yang telah dipelajari santri di ruang kelas,” tuturnya.

Hasil riset ini memberikan kontribusi teoritis dan praktis yang signifikan bagi dunia pendidikan Islam.

Model sinergi antara guru, pembina asrama, dan kultur pesantren di Gombara dinilai dapat menjadi percontohan (benchmark) bagi lembaga pendidikan Islam lainnya di Indonesia dalam menerapkan pendidikan karakter yang komprehensif.

Melalui penelitian ini, Dr. Martono yang juga Aktivis IMM Sulsel ini berharap model integrasi antara kelas dan asrama yang diterapkan di Pesantren Gombara dapat menginspirasi sekolah dan pesantren berbasis Islam lainnya untuk terus mengembangkan value-based curriculum (kurikulum berbasis nilai) yang kontekstual dan adaptif.

Beberapa poin kunci hasil penelitian Dr. Martono meliputi:

Desain Integratif: Kurikulum dirancang adaptif mengacu pada pedoman nasional Muhammadiyah dengan memadukan aspek akademis dan pembinaan asrama.

Internalisasi Nilai: Pembentukan karakter dilakukan melalui proses berkesinambungan: pengetahuan – pemahaman – pembiasaan – karakter.

Model Percontohan: Keberhasilan implementasi ditentukan oleh keteladanan guru/pembina dan kultur pesantren (hidden curriculum), yang relevan dijadikan rujukan bagi lembaga pendidikan Islam nasional.

Ia pula menyampaikan terimakasih kepada seluruh pimpinan pesantren darul arqam gombara Muhammadiyah Makassar, para pimpinan Muhammadiyah hingga tamu undangan yang hadir memberikan doanya. (*)