Tim Pakar Unhas Kaji Cabai Unggul Unib, Bidik Peluang Bisnis

Makassar19 Dilihat

INDEPENDENews.com, MAKASSAR — Tim pakar dari Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin (Unhas) melakukan kajian terhadap potensi dan keunggulan benih cabai merah keriting varietas Nalima dan Dwiguna Unib yang dikembangkan Universitas Bengkulu (Unib).

Kajian selama empat hari, 24–27 Oktober 2026, tersebut menjadi bagian dari upaya menilai kesiapan produk sebelum memasuki tahap komersialisasi.

Tim Unhas dipimpin Dr. Hasmin, S.E., M.Si., bersama Dr. Ariady Arsal, pakar pasar dan model bisnis, serta Dr. Andi Muliarni Okasa, S.P., pakar teknis.

Tim ini juga melibatkan pakar hukum dari Fakultas Hukum Unhas, Dr. Hijrah Adhyanti Mirzana, dan pakar keuangan, Prof. Firman Menne, serta didampingi alumni Magister Agribisnis Unhas, Fadel Hirawan.

Kajian tersebut mencakup peninjauan proses pemuliaan tanaman, validasi kepada petani penangkar, serta wawancara dengan pelaku usaha benih.

Langkah ini dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai kualitas produk, kebutuhan pasar, dan peluang pengembangan bisnis benih cabai unggul.

Nalima dan Dwiguna Unib merupakan varietas cabai merah keriting hasil pemuliaan Prof. Dr. Ir. Dwi Wahyuni Ganefianti, M.S., pemulia tanaman yang telah berpengalaman puluhan tahun dan pernah menjabat Dekan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu.

Telusuri Proses Pemuliaan hingga Rantai Pasok Benih

Dalam rangkaian kunjungan tersebut, Prof. Dwi Wahyuni Ganefianti mengajak tim pakar Unhas meninjau proses pemuliaan cabai di rumah kaca atau greenhouse di Kota Bengkulu.

Peninjauan ini dilakukan untuk melihat tahapan pengembangan varietas sekaligus memperoleh pemahaman teknis mengenai proses menghasilkan benih unggul.

Tim kemudian melakukan validasi kepada petani penangkar di Kabupaten Kepahiang dan mewawancarai pedagang benih untuk menggali informasi mengenai pola produksi, distribusi, harga, serta kebutuhan pasar.

Salah seorang penangkar benih, Widi, menjelaskan bahwa proses penangkaran dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan petani. Benih yang dikembangkan mencakup benih unggul hibrida F1 maupun benih lokal.

Sementara itu, Umar, pemilik toko pertanian, membagikan pengalamannya dalam bisnis benih sejak 1988, mulai dari Lampung hingga Bengkulu.

Umar, yang berasal dari Sigli, Aceh, dan memiliki istri berdarah Bugis, memilih merantau ke Bengkulu karena melihat peluang usaha di sektor benih pertanian.

Pengalaman para pelaku usaha tersebut menjadi salah satu sumber informasi bagi tim untuk memahami dinamika pasar benih cabai dari sisi penangkaran hingga perdagangan.

Harga Benih Cabai Jadi Gambaran Peluang Pasar

Dari hasil wawancara dengan pelaku usaha, tim memperoleh gambaran mengenai variasi harga benih cabai yang beredar di pasaran.

Benih cabai hibrida tertentu dijual dengan harga sekitar Rp250.000 per kemasan berisi 2.000 butir, atau setara Rp125 per butir.

Sementara itu, benih lokal dengan harga sekitar Rp150.000 per kemasan atau Rp75 per butir menjadi salah satu pilihan dengan harga lebih rendah.

Informasi tersebut memberikan gambaran awal mengenai struktur harga dan pilihan produk yang tersedia bagi petani.

Namun, potensi komersialisasi Nalima dan Dwiguna Unib tetap memerlukan kajian lebih lanjut, termasuk evaluasi mutu benih, kebutuhan pengguna, biaya produksi, strategi pemasaran, dan daya saing produk.

Ketua tim, Dr. Hasmin, menyampaikan optimisme terhadap peluang pengembangan bisnis benih cabai berdasarkan temuan awal selama kunjungan di Bengkulu.

Ia juga mengapresiasi upaya Prof. Dwi Wahyuni Ganefianti dalam menghasilkan varietas unggul yang diharapkan dapat menjawab kebutuhan petani.

Menurut Hasmin, pengembangan varietas tidak hanya berkaitan dengan keberhasilan pemuliaan tanaman, tetapi juga perlu diikuti pemahaman terhadap kebutuhan pasar agar produk memiliki peluang untuk dikembangkan secara berkelanjutan.

Unhas dan Unib Jajaki Uji Multilokasi di Sulawesi Selatan

Selain meninjau potensi pasar, kunjungan tersebut membuka peluang kolaborasi riset antara Universitas Hasanuddin dan Universitas Bengkulu.

Dr. Ariady Arsal mengusulkan agar Prof. Dwi Wahyuni Ganefianti berkolaborasi dengan Sekolah Pascasarjana Unhas untuk melaksanakan uji multilokasi di Sulawesi Selatan.

Uji multilokasi diperlukan untuk mengevaluasi performa varietas pada lingkungan dan kondisi budidaya yang berbeda. Hasilnya dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menilai kesesuaian varietas dengan kondisi pertanian setempat.

Gagasan tersebut mendapat dukungan dari Dr. Andi Muliarni Okasa yang memiliki keahlian teknis di bidang pertanian.

Kolaborasi ini diharapkan dapat mempertemukan keunggulan riset pemuliaan tanaman dengan pengujian teknis dan kajian pasar, sehingga pengembangan produk dapat dilakukan secara lebih terarah.

Prof. Dwi Wahyuni Ganefianti menyambut baik kunjungan tim Unhas dan menyampaikan apresiasi atas perhatian terhadap varietas cabai yang dikembangkannya.

Ia juga menyatakan kesiapan untuk berkolaborasi dalam pengembangan dan pengujian varietas bersama Sekolah Pascasarjana Unhas.

Dukungan serupa disampaikan Wakil Rektor III Universitas Bengkulu, Prof. Agustin, saat menerima tim Unhas di Gedung Rektorat Universitas Bengkulu.

Pertemuan tersebut menjadi momentum untuk menjajaki sinergi antarkampus dalam pengembangan inovasi pertanian yang tidak berhenti pada penelitian, tetapi juga diarahkan pada pemanfaatan hasil riset.

Melalui kajian ini, Nalima dan Dwiguna Unib diharapkan memiliki peluang untuk dikembangkan lebih lanjut melalui pengujian teknis, pemetaan kebutuhan pasar, serta penjajakan kerja sama komersial.

Meski demikian, kesiapan memasuki pasar tetap perlu didasarkan pada hasil validasi mutu, pengujian varietas, dan kajian kelayakan usaha yang memadai. (*)