Potret TPA Antang Manggala dan Bayang Proyek PLTSa

Berita Utama, Makassar1085 Dilihat

INDEPENDENews.com – Sejak kemarin, dan pagi ini di tengah lalu lintas padat kawasan Manggala Antang, Makassar deru mesin dan klakson bersahutan.

Di antara bising kota, tercium aroma busuk yang membuat pengendara spontan menoleh ke segala arah.

Sebuah truk sampah melintas pelan, hingga antrian panjang truk sampah menebarkan bau limbah rumah tangga yang menusuk hidung.

Pemandangan seperti ini bukan hal baru di TPA Antang, Kecamatan Manggala.
Puluhan truk sampah masuk bergantian, membawa muatan limbah dari seluruh penjuru kota Makassar.

Di balik tumpukan yang menggunung, terlihat para pemulung yang masih mencoba memungut nilai ekonomi dari sisa kehidupan kota: plastik, botol, logam, hingga sisa makanan.

Setiap harinya, Makassar menghasilkan lebih dari 1.200 ton sampah.

Sebagian besar berakhir di TPA Antang yang kini telah menampung jutaan ton timbunan sejak dibuka pada 1994. Kapasitasnya sudah kritis.

Pada musim hujan, air lindi mengalir ke parit-parit sekitar, sementara bau menyengat menyelimuti udara hingga radius beberapa kilometer.

Di tengah krisis pengelolaan ini, pemerintah menggadang proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) sebagai solusi masa depan.

Sampah disebut akan menjadi energi, bukan lagi masalah.

Namun di lapangan, muncul berbagai pertanyaan.

Apakah infrastruktur sudah siap? Apakah teknologi pembakaran aman bagi lingkungan? Dan, benarkah ini akan mengurangi timbunan di TPA?

Faktanya, menurut sejumlah studi dan laporan lingkungan, teknologi insinerasi yang digunakan PLTSa berpotensi menghasilkan emisi baru, termasuk gas berbahaya jika sistem filtrasi dan pengolahan residunya tidak bekerja optimal.

Selain itu, kebutuhan pasokan sampah yang besar untuk menjaga mesin tetap menyala justru bisa mendorong peningkatan arus truk sampah ke TPA, bukan pengurangan.

Bagi warga sekitar Antang, janji energi terbarukan belum banyak terasa.

Yang lebih nyata adalah jalan berdebu, bau yang makin kuat, dan truk-truk yang lalu-lalang hingga larut malam.

“Kalau pagi sampai sore, baunya makin tebal. Kadang kami tak bisa menjemur pakaian,” kata Udn, warga di sekitar Kelurahan Tamangapa, yang sudah tinggal di kawasan itu lebih dari 20 tahun.

Meski begitu, harapan tetap ada.

Beberapa komunitas lingkungan dan akademisi di Makassar mendorong pergeseran paradigma pengelolaan sampah dari ‘kumpul-angkut-buang’ menjadi ‘pilah-olah-manfaat’.

Program seperti Bank Sampah, kompos rumah tangga, dan inovasi energi biogas disebut bisa menjadi solusi desentralisasi yang lebih ramah lingkungan, tanpa menambah beban TPA.

Jika proyek PLTSa ingin benar-benar membawa perubahan, maka harus disertai dengan transparansi, partisipasi publik, dan penegakan standar lingkungan yang ketat.

Sebab, di balik setiap truk yang lewat, ada cerita panjang tentang bagaimana kota mengelola sisa hidupnya, antara janji energi bersih dan kenyataan bau busuk yang belum pergi dari udara Antang.

Ahmad Yusran, Ketua Forum Komunitas Hijau, menyoroti bahwa kondisi TPA Antang yang sudah menampung jutaan ton sampah dan kapasitasnya yang kritis menunjukkan urgensi pengelolaan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Ahmad Yusran mengingatkan bahwa proyek PLTSa jangan hanya dilihat sebagai solusi instan, karena teknologi insinerasi yang dipakai berpotensi menghasilkan emisi berbahaya jika pengelolaan limbahnya tidak optimal.

Ia mengkhawatirkan jika kebutuhan sampah untuk operasi PLTSa justru memperbesar volume sampah yang masuk ke TPA, sehingga mengabaikan pengurangan sampah sejak hulu.

Dari sisi warga, ia menyampaikan pentingnya perhatian terhadap dampak langsung seperti polusi udara, bau tidak sedap, dan terganggunya aktivitas harian masyarakat sekitar.

Sebagai alternatif, Ahmad Yusran mendorong implementasi model pengelolaan sampah yang berbasis ‘pilah-olah-manfaat’ dan desentralisasi, termasuk pengembangan bank sampah, kompos rumah tangga, dan energi biogas yang lebih ramah lingkungan.

Ia menekankan bahwa keberhasilan PLTSa sangat bergantung pada transparansi, keterlibatan publik, dan penegakan ketat standar lingkungan agar tidak menimbulkan masalah baru.

Secara keseluruhan, Ahmad Yusran menilai bahwa pengelolaan sampah di Makassar harus fokus pada perubahan paradigma yang nyata.

“Bukan hanya janji energi bersih semata, agar TPA Antang tidak lagi menjadi sumber bau dan pencemaran bagi warga,” harapnya. (*)