INDEPENDENews.com, MAKASSAR — Nomor urut tiga yang diperoleh Prof Dr Eko Hadi Sujiono, M.Si., dalam Pemilihan Rektor Universitas Negeri Makassar (UNM) periode 2027–2031 memiliki kedekatan dengan gagasan yang diusungnya: Bahagia, Inovatif, Berdampak.
Nomor tersebut ditetapkan dalam rapat senat tertutup di ruang senat UNM, Rabu (28/10/2026).
Bagi Prof. Eko, tiga kata itu menjadi cara memperkenalkan arah pengembangan universitas, mulai dari kehidupan warga kampus hingga kontribusinya bagi masyarakat.
“Nomor tiga mudah-mudahan menjadi pengingat tentang apa yang ingin kita kerjakan bersama: membangun kampus yang bahagia, memberi ruang dan mendukung inovasi, serta menghasilkan karya yang bermanfaat. Ketiganya saling menguatkan,” ujar Prof. Eko.
Bahagia menjadi titik berangkat karena universitas tumbuh melalui pekerjaan banyak orang. Ada dosen yang mengajar dan meneliti, mahasiswa yang menyiapkan masa depan, tenaga kependidikan yang mengurus pelayanan, serta petugas yang memastikan kegiatan kampus berjalan setiap hari.
Mereka membutuhkan lingkungan yang menghargai peran masing-masing. Mahasiswa memiliki tempat bertanya ketika menemui kesulitan. Pegawai mendapat dukungan untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dosen mempunyai kesempatan mengembangkan keilmuan. Petugas keamanan, pengemudi, hingga petugas kebersihan diapresiasi kinerja dan kehadirannya.
“Saya ingin kebahagiaan di UNM dirasakan semua. Orang datang dengan semangat, bekerja dengan nyaman, lalu pulang dengan perasaan bahwa hari ini ada sesuatu yang baik yang sudah dikerjakan,” tuturnya.
Suasana seperti itu tetap memberi tempat bagi kesungguhan serta tuntutan mutu. Pekerjaan perlu diselesaikan dengan baik, tetapi kesulitan dapat dibicarakan tanpa rasa sungkan. Kritik didengarkan, keberhasilan diapresiasi, sementara orang yang membutuhkan bantuan tidak dibiarkan menghadapi persoalannya sendirian.
Dari hubungan yang saling mendukung, keberanian mencoba sesuatu yang baru dapat tumbuh. Mahasiswa lebih percaya diri mengajukan pertanyaan. Pegawai bersedia menawarkan perbaikan layanan. Dosen dapat bertukar pemikiran dengan rekan dari bidang lain.
Di situlah semangat inovatif memperoleh ruang. Pembaruan bisa dimulai dari persoalan yang dekat: cara menjelaskan materi agar lebih mudah dipahami, penggunaan fasilitas agar lebih bermanfaat, atau prosedur pelayanan yang dapat dibuat lebih sederhana.
“Orang yang setiap hari menjalankan pekerjaan sering kali tahu apa yang perlu diperbaiki. Kita harus mau mendengar. Bisa jadi usulnya sederhana, tetapi manfaatnya dirasakan banyak orang,” kata Prof. Eko.
Kepemimpinan universitas kemudian berperan membantu gagasan tersebut menemukan jalan. Ada usulan yang memerlukan kerja lintas unit, ada yang membutuhkan fasilitas, ada pula yang cukup dimulai dengan perubahan kebiasaan.
Namun, pembaruan perlu memiliki arah. Kata berdampak menjadi pengingat untuk melihat hasil pekerjaan dari manfaat yang diberikan, baik bagi warga kampus maupun masyarakat.
Manfaat itu memiliki bentuk berbeda pada setiap bidang ilmu. Penelitian sains dapat membuka pengetahuan atau menghasilkan teknologi. Pendidikan membantu guru menghadirkan pembelajaran yang lebih baik. Olahraga mengembangkan prestasi sekaligus kebugaran. Seni merawat kebudayaan serta memperkaya pengalaman manusia. Bahasa dan ilmu sosial membantu masyarakat memahami kehidupan dari berbagai sudut pandang.
“Tidak semua bidang menghasilkan manfaat dengan cara yang sama. Ada yang melahirkan teknologi, ada yang memperbaiki pembelajaran, ada yang menjaga kebudayaan. Kita perlu menghargai kekhasan itu agar setiap bidang mendapat kesempatan memberikan sumbangan terbaiknya,” ujarnya.
Karena itu, orientasi pada dampak perlu disertai pemahaman terhadap proses akademik. Sebagian pekerjaan dapat segera digunakan, sementara sebagian lainnya membutuhkan waktu untuk berkembang. Mutunya tetap diperiksa, tanpa memaksakan seluruh bidang menghasilkan bentuk capaian yang seragam.
Dengan cara pandang tersebut, tiga kata yang diusung Prof. Eko membentuk satu alur. Lingkungan yang mendukung membuat orang berani mengembangkan kemampuan. Kesempatan untuk mencoba membuka jalan bagi pembaruan. Hasilnya kemudian diarahkan untuk memberi manfaat.
“Kalau orang-orang di dalamnya bisa tumbuh, kemampuan universitas ikut bertambah. Dari situ kita berharap lahir lebih banyak karya dan dampak yang dirasakan semua. Jadi, kemajuan institusi harus berjalan bersama kemajuan manusianya,” tutur Prof. Eko.
Dalam Pilrek UNM, nomor urut tiga menjadi penanda untuk mengenali tawaran tersebut. Selanjutnya, gagasan perlu dijelaskan melalui prioritas, langkah pelaksanaan, serta dukungan yang dibutuhkan agar dapat dikerjakan.
Proses pemilihan pun menjadi kesempatan bagi warga kampus untuk mendengar berbagai pilihan arah pengembangan universitas. Perbedaan pandangan dapat dibicarakan secara terbuka tanpa mengurangi penghormatan kepada sesama.
“Nomor urut kita berbeda, gagasan dan jalan yang ditawarkan untuk pengembangan UNM juga bisa berbeda. Itu wajar. Yang perlu kita jaga adalah niat baik untuk UNM serta hubungan yang tetap hangat selama proses ini berlangsung,” katanya.
Rapat senat tertutup tersebut dihadiri seluruh bakal calon rektor.
Berikut susunan nomor urut peserta Pilrek UNM periode 2027–2031:
1. Prof Sukardi Weda
2. Prof Andi Aslinda
3. Prof Eko Hadi Sujiono
4. Prof Suwardi Annas
5. Dr Arifin Manggau
6. Prof Hasmyati
7. Prof Ismunandar.
- Pilrek UNM Makassar, Prof Eko Hadi: Nomor Tiga Rangkum Masa Depan Kampus - 29 Oktober 2026
- Workshop Harmoni Asta Protas, Kemenag Sulsel Perkuat Budaya Melayani - 29 Oktober 2026
- Refleksi Sumpah Pemuda, HIMAGARA UNM Serukan Persatuan dan Kondusivitas - 28 Oktober 2026

