Festival Bintasi 2026 di Gowa Meriah, Anak dan Remaja Adu Bakat Baca Puisi

Berita Utama, Gowa18 Dilihat

INDEPENDENEWS.COM, GOWA — Belasan anak dan remaja unjuk kemampuan membaca puisi dalam Festival Bintasi 2026 yang digelar di lingkungan Perumahan Bumi Batara Mawang Permai, Kelurahan Borongloe, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa, Sabtu (15/8/2026).

Lomba baca puisi menjadi salah satu agenda yang paling menarik perhatian warga. Para peserta tampil membawakan puisi dengan beragam ekspresi dalam kategori anak-anak dan remaja.

Mengusung tema “Menolak Jinak, Menanam Paham”, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi ajang perlombaan, tetapi juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk belajar menyampaikan gagasan melalui sastra.

Festival Bintasi 2026 merupakan hasil kolaborasi masyarakat Lingkungan Bintasi bersama Penerbit Subaltern. Kegiatan tersebut sekaligus dirangkaikan dengan Milad ke-6 Penerbit Subaltern dan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Tak hanya lomba baca puisi, Festival Bintasi juga diisi berbagai kegiatan hiburan dan literasi, seperti lomba karaoke, tari kreasi, serta nonton bareng film Alangkah Lucunya Negeri Ini.

Berbagai kegiatan itu dirancang menjadi ruang perjumpaan bagi masyarakat, anak-anak, remaja, serta para pelaku kebudayaan dan literasi.

Puisi Jadi Ruang Anak Sampaikan Gagasan

Belasan peserta tampil di hadapan masyarakat. Masing-masing menunjukkan karakter dan gaya berbeda ketika membacakan puisi.

Ada yang tampil penuh ekspresi, ada pula yang membawakan puisi dengan gaya tenang namun tetap percaya diri.

Tema “Menolak Jinak, Menanam Paham” menjadi bagian penting dalam lomba tersebut.

Peserta tidak hanya diajak membaca puisi untuk mengejar kemenangan, tetapi juga diperkenalkan pada sastra sebagai media untuk menyampaikan pikiran, kegelisahan, harapan, dan pandangan terhadap lingkungan sosial.

Direktur Penerbit Subaltern mengatakan, Milad ke-6 menjadi momentum untuk semakin mendekatkan kegiatan penerbitan dan literasi dengan masyarakat.

“Penerbit Subaltern menjadikan momentum milad keenam sebagai kesempatan untuk terus mendorong tumbuhnya budaya literasi dan keberanian anak-anak serta remaja dalam mengenal dan menyampaikan gagasan melalui karya sastra,” ujarnya.

Menurutnya, literasi tidak semestinya dipahami sebatas kemampuan membaca buku.

Di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi digital, anak-anak dan remaja juga perlu memiliki kemampuan berpikir kritis serta keberanian menyampaikan gagasan.

“Literasi bukan hanya soal membaca buku, tetapi juga bagaimana anak-anak dan remaja memiliki keberanian untuk berpikir, menyampaikan gagasan, dan memahami lingkungan di sekitarnya,” jelasnya.

Anak-anak Dapat Buku Gratis

Semangat literasi dalam Festival Bintasi juga diwujudkan melalui pembagian buku edukasi kepada anak-anak dan remaja.

Buku tidak hanya diberikan kepada peserta lomba, tetapi juga kepada sejumlah anak yang hadir sebagai penonton.

Pembagian buku tersebut menjadi bagian dari upaya Penerbit Subaltern memperluas akses bacaan sekaligus membangun kebiasaan membaca di lingkungan masyarakat.

Harapannya, buku yang dibagikan tidak hanya menjadi hadiah, tetapi menjadi pintu masuk bagi anak-anak untuk mengenal pengetahuan dan dunia literasi yang lebih luas.

Sudah Dua Tahun Digelar

Kepala Lingkungan Bintasi, Ibrahim Sanduan, menyambut baik pelaksanaan Festival Bintasi yang melibatkan masyarakat bersama Penerbit Subaltern.

Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bentuk kolaborasi yang menarik antara penerbit buku dan masyarakat di tingkat lingkungan.

“Kami menyambut baik kegiatan ini karena menjadi ajang kolaborasi antara perusahaan penerbitan buku dengan masyarakat. Ini sudah dua tahun dilaksanakan lomba puisinya dan kami berharap kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut,” kata Ibrahim.

Ia menilai keberlanjutan kegiatan tersebut penting karena dapat memberikan ruang bagi anak-anak dan remaja untuk mengembangkan bakat sekaligus berinteraksi secara positif dengan lingkungan sosial.

Taman Baca Jadi Bagian Gerakan Literasi

Festival Bintasi juga tidak terlepas dari aktivitas literasi yang selama ini dilakukan Penerbit Subaltern.

Penerbit tersebut turut mengawal keberadaan taman baca di Bumi Batara Mawang Permai.

Keberadaan taman baca dan Festival Bintasi menjadi bagian dari upaya mempertemukan gerakan literasi dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.

Kegiatan literasi pun tidak harus selalu berlangsung di ruang formal. Lingkungan warga, lapangan, taman baca, hingga kegiatan hiburan dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan buku, sastra, pengetahuan, dan gagasan.

Rangkaian Festival Bintasi 2026 ditutup dengan pemotongan nasi tumpeng secara simbolis oleh Direktur Penerbit Subaltern bersama pemangku kepentingan dan tokoh masyarakat setempat.

Pemotongan tumpeng tersebut menjadi penanda perayaan Milad ke-6 Penerbit Subaltern, sekaligus ungkapan syukur atas keberlangsungan kolaborasi bersama masyarakat.

Melalui Festival Bintasi 2026, semangat kemerdekaan tidak hanya dirayakan melalui hiburan.

Masyarakat juga membuka ruang bagi anak-anak dan remaja untuk tumbuh melalui seni, sastra, dan pengetahuan.

Bagi masyarakat Bintasi dan Penerbit Subaltern, kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi tradisi kolaborasi yang terus hidup dan berkembang dari tahun ke tahun. (*)