Dari Desa ke Gerakan Kemanusiaan, Kisah Inspiratif Sosok Kasri Riswadi

Jejak Langkah301 Dilihat

Oleh
Isra Karida Andini
Mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Alauddin Makassar

INDEPENDENews.com – Kasri Riswadi lahir pada 25 Oktober 1991 di Desa Bululoe, Kecamatan Turatea, Kabupaten Jeneponto.

Desa kecil dengan hamparan sawah, kebun, sungai, dan pegunungan itu menjadi saksi awal perjalanan hidupnya.

Ia tumbuh dalam keluarga sederhana, dari pasangan Sinring dan Kartini, yang mengajarkannya tentang arti kerja keras, kesabaran, dan kesederhanaan sejak usia dini.

Masa kecil Kasri tidak dihabiskan dengan kemewahan. Hari-harinya diisi dengan bermain di alam, membantu orang tua di sawah dan kebun, serta belajar hidup apa adanya. Dari lingkungan desa inilah tumbuh karakter Kasri yang rendah hati dan dekat dengan masyarakat kecil karakter yang kelak sangat memengaruhi jalan hidupnya.

Perjuangan Kasri dalam pendidikan dimulai sejak taman kanak-kanak. Karena di desanya belum tersedia TK, orang tuanya harus menyekolahkannya di TK Aisyiyah Manjangloe yang berjarak sekitar 15 kilometer dari rumah.

Di usia yang masih sangat muda, Kasri harus tinggal bersama kakeknya. Jarak, keterbatasan, dan perpisahan dengan orang tua menjadi pengalaman awal yang menempa mental dan kemandiriannya.

Setelah menyelesaikan TK, Kasri kembali ke kampung halamannya dan melanjutkan pendidikan di SD Inpres Pangkajene. Ia kemudian bersekolah di SMP Negeri 1 Bontoramba dan SMA Negeri 1 Tamalatea. Jarak sekolah yang jauh dan fasilitas yang terbatas tidak memadamkan semangat belajarnya. Justru dari keterbatasan itulah tumbuh tekad kuat untuk terus melangkah maju.

Selepas SMA, Kasri merantau ke Makassar dan melanjutkan pendidikan di Universitas Muhammadiyah Makassar. Peralihan dari desa ke kota besar bukan hal mudah. Namun di sinilah proses pembentukan dirinya semakin kuat. Selain fokus pada akademik, Kasri aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan, baik intra maupun ekstra kampus. Organisasi yang paling membentuk jalan hidupnya adalah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).

Di IMM, Kasri tidak hanya belajar berorganisasi, tetapi juga belajar tentang kepemimpinan, pengabdian, dan keberpihakan pada masyarakat lemah. Ia menempuh seluruh jenjang kaderisasi dan dipercaya memegang berbagai amanah hingga tingkat pimpinan pusat. Nilai teologi Al-Ma’un yang menekankan kepedulian terhadap kaum dhuafa menjadi prinsip hidup yang terus ia pegang.

Kesibukan berorganisasi membuat masa studinya tidak singkat. Kasri menyelesaikan pendidikan sarjananya pada tahun kelima. Namun baginya, keterlambatan bukan kegagalan.

Ia memandangnya sebagai proses pembelajaran hidup yang penuh pengalaman lapangan, pengabdian sosial, dan penguatan karakter.

Setelah lulus S1, Kasri sempat mengabdikan diri sebagai asisten dosen di Fakultas Agama Islam dan Fakultas Ekonomi Unismuh Makassar, serta menjadi guru Bahasa Indonesia di SMP Unismuh Makassar.

Meski dunia pendidikan sangat ia cintai, panggilan pengabdian sosial membuatnya memilih jalan yang lebih luas. Ia kemudian aktif di Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), lembaga yang bergerak di bidang kebencanaan dan kemanusiaan.

Melalui MDMC dan aktivitas Muhammadiyah lainnya, Kasri semakin banyak bersentuhan langsung dengan persoalan sosial masyarakat. Ia dipercaya menjadi Sekretaris Majelis Pustaka dan Informasi Muhammadiyah Sulawesi Selatan, serta menjadi redaktur Majalah Khittah. Bersama rekan-rekannya, ia juga menulis buku Menapak Jejak Menata Langkah: Sejarah Muhammadiyah Sulsel,sebagai kontribusi di bidang literasi dan sejarah organisasi.

Perjalanan Kasri terus berkembang ketika ia berinteraksi dengan para pegiat LSM nasional. Dari merekalah ia belajar kerja-kerja advokasi, kesehatan masyarakat, dan pemberdayaan komunitas. Ia mengikuti berbagai pertemuan dan kegiatan di Jakarta, Yogyakarta, Bali, hingga Lombok. Pengalaman-pengalaman ini membuka matanya tentang besarnya persoalan kesehatan, khususnya tuberkulosis (TBC), yang masih menjadi masalah serius di masyarakat.

Kesadaran itulah yang mendorong Kasri mendirikan Yayasan Masyarakat Peduli Tuberkulosis (Yamali TB) Sulawesi Selatan.Dari sebuah tekad sederhana, Yamali TB tumbuh menjadi gerakan kemanusiaan yang nyata. Kasri dipercaya menjadi ketua sekaligus manajer yayasan, memimpin ratusan relawan yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota.

Di bawah kepemimpinannya, Yamali TB tidak hanya mendampingi pasien TBC hingga tuntas berobat, tetapi juga memberikan edukasi, pendampingan psikososial, serta pemberdayaan ekonomi bagi keluarga penyintas. Ribuan pasien telah terbantu untuk kembali hidup sehat dan produktif. Selain itu, Yamali TB membuka ruang belajar bagi mahasiswa melalui program magang, menanamkan kepedulian sosial sejak dini.

Berbagai penghargaan diterima Yamali TB dari lembaga pemerintah dan non-pemerintah. Namun bagi Kasri, penghargaan terbesar adalah ketika pasien TBC bisa sembuh, kembali bekerja, dan menjalani hidup dengan martabat.

Dalam menjalani semua peran itu, Kasri tetap memegang nilai kesederhanaan. Ia terinspirasi oleh pemikiran teologi Al-Ma’un dan keteladanan Ahmad Syafii Maarif tentang hidup sederhana, berpikir kritis, dan mengabdi untuk kemanusiaan.

Baginya, kesuksesan bukan tentang jabatan atau popularitas, melainkan tentang seberapa besar manfaat yang bisa diberikan kepada sesama.

Kisah hidup beliau membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang. Dari desa kecil di Jeneponto, ia melangkah perlahan, jatuh-bangun, belajar, dan akhirnya berdiri sebagai penggerak sosial di bidang kesehatan masyarakat.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa dengan pendidikan, kepedulian, dan kerja keras, siapa pun bisa membawa perubahan asal tidak berhenti melangkah. (*)