Latih Cinta Lingkungan Sejak Dini, Murid RHIIBS Maros Wajib Menanam Tiga Pohon

Berita Utama, Maros33 Dilihat

MAROS – Ranu Harapan Islamic International Boarding School (RHIIBS) Maros mengajak para siswanya belajar langsung dari alam melalui program wajib menanam pohon.

Sebanyak lebih dari 100 siswa diwajibkan menanam masing-masing tiga pohon di sepanjang pagar sekolah, mulai dari pintu gerbang hingga area kebun belakang sekolah.

Tak hanya menanam, setiap siswa juga bertanggung jawab merawat dan menjaga pohon tersebut hingga mereka menyelesaikan pendidikan di Ranu Harapan.

Direktur Sekolah-sekolah Ranu Harapan, Muhtar, mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar penghijauan, tetapi bagian dari pendidikan karakter.

“Ini bukan sekadar menanam, ada penanaman nilai-nilai kehidupan di dalamnya, bahwa menikmati itu butuh perjuangan, ketekunan, keseriusan, dan konsistensi hingga sukses. Jika ingin menikmati dua tahun yang akan datang, tanam sekarang,” katanya, Kamis (30/7/2026).

Kepala SMA Islam Ranu Harapan Islamic International Boarding School, Malik, menambahkan program itu juga mengajarkan keikhlasan dan pentingnya berinvestasi dalam kebaikan.

“Tanamlah pohon meskipun esok itu sudah kiamat. Jika yang menanam bisa menikmati buahnya berarti Allah sudah memberikan balasannya di dunia. Tapi jika dinikmati orang lain, maka nikmatnya akan diberikan Allah di akhirat kelak,” ujarnya.

Program tersebut diterapkan kepada seluruh peserta didik, mulai jenjang PAUD, SD, SMP hingga SMA.

Dewan Pembina Ranu Harapan, Muhammad Ramli Rahim, mengatakan pendidikan sejatinya tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga membentuk karakter, kepedulian terhadap lingkungan, dan rasa tanggung jawab.

Menurutnya, gerakan menanam pohon merupakan cara sederhana untuk mengajarkan bahwa setiap hasil yang baik membutuhkan proses, kesabaran, dan konsistensi.

“Pohon yang mereka tanam hari ini adalah simbol investasi masa depan, bukan hanya untuk diri mereka sendiri, tetapi juga untuk lingkungan dan generasi berikutnya,” kata Muhammad Ramli Rahim.

Ia menjelaskan, konsep pembelajaran berbasis pengalaman atau experiential learning menjadi bagian penting dalam sistem pendidikan Ranu Harapan.

Melalui program tersebut, siswa tidak hanya mempelajari teori tentang pelestarian lingkungan, tetapi juga mempraktikkannya secara langsung.

“Saat mereka merawat pohon hingga tumbuh besar, mereka juga sedang belajar memelihara amanah, disiplin, dan rasa memiliki terhadap alam. Nilai-nilai seperti inilah yang akan menjadi bekal mereka ketika kelak memimpin di tengah masyarakat,” ujarnya.

Muhammad Ramli Rahim berharap gerakan tersebut menjadi budaya yang terus berkembang di lingkungan sekolah.

“Apabila setiap siswa menanam dan merawat tiga pohon selama menempuh pendidikan, maka yang tumbuh bukan hanya pepohonan, tetapi juga generasi yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan, berpikir jangka panjang, dan memahami bahwa setiap investasi kebaikan akan memberikan manfaat bagi sesama,” tutupnya. (*)