Mahasiswa KIP Kuliah UNM Dorong Penguatan Potensi Desa di Gowa

Berita Utama, Gowa21 Dilihat

GOWA – Ikatan Keluarga Mahasiswa Bidikmisi dan KIP Kuliah Universitas Negeri Makassar (IKBIM KIP UNM) memulai program pengabdian masyarakat bertajuk Eksplorasi, Pengabdian, dan Edukasi (EKSPLODIKSI) 2026 di Desa Lassa-Lassa, Kecamatan Bontolempangan, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Program ini menjadi ruang bagi mahasiswa penerima beasiswa negara untuk mengaplikasikan ilmu sekaligus menginisiasi pembangunan berbasis komunitas.

Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung selama sepuluh hari, yakni dari 20 hingga 30 Juni 2026, secara resmi dibuka pada Senin (22/6/2026) di Masjid Al Ikhlas Kampung Beru, Desa Lassa-Lassa.

Pembukaan tersebut dihadiri oleh otoritas pemerintah kecamatan, perangkat desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), tokoh masyarakat, serta warga setempat.

Tahun ini, EKSPLODIKSI mengusung tema “Tumbuh Bersama: Menguatkan Potensi Desa melalui Edukasi dan Kepedulian Lingkungan”.

Tema ini diterjemahkan ke dalam sejumlah program kerja lintas sektor yang menyasar isu-isu krusial di perdesaan, mulai dari literasi digital hingga pengelolaan lingkungan hidup.

Ketua Umum IKBIM KIP UNM, Muhammad Nasruddin, menyatakan bahwa program ini membawa misi moral yang besar.

Kehadiran para mahasiswa di tengah masyarakat merupakan bentuk tanggung jawab sosial sebagai penerima manfaat dari program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah.

“Kegiatan ini bukan sekadar pengabdian seremonial, melainkan bentuk kontribusi nyata kami sebagai mahasiswa penerima KIP Kuliah untuk memberikan dampak positif yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujar Nasruddin.

Apresiasi terhadap inisiatif mahasiswa datang dari pemerintah daerah setempat. Sekretaris Kecamatan Bontolempangan, dalam sambutannya, berharap agar momentum ini dapat dimanfaatkan secara dua arah, baik bagi pengembangan kapasitas diri mahasiswa maupun bagi pemecahan masalah di tingkat warga.

“Saya berharap mahasiswa dapat menemukan dan mengasah potensi kepemimpinan mereka selama berinteraksi di lapangan. Di sisi lain, kehadiran mereka diharapkan mampu memberikan solusi nyata bagi kebutuhan warga Desa Lassa-Lassa melalui program kerja yang adaptif,” kata Sekretaris Kecamatan.

Guna memastikan efektivitas di lapangan, rancangan program kerja EKSPLODIKSI 2026 disusun berdasarkan hasil observasi awal dan koordinasi berkala dengan pemangku kebijakan di desa. Langkah ini diambil agar seluruh intervensi program berjalan tepat sasaran dan mampu mengoptimalkan karakteristik lokal.

Rangkaian program yang diusung meliputi Kelas Pendidikan untuk anak-anak, gerakan Bersih, Sehat, dan Ceria (BERSERI), edukasi pembuatan pupuk kompos, serta pengelolaan sampah melalui metode ecobrick.

Selain itu, merespons tantangan zaman, mahasiswa juga mengagendakan literasi digital berupa edukasi pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI) dan penangkalan berita bohong (hoax), di samping menyosialisasikan akses beasiswa perguruan tinggi bagi pemuda desa.

Melalui pendekatan kolaboratif ini, EKSPLODIKSI 2026 diharapkan dapat membangun sinergi yang berkelanjutan antara institusi pendidikan tinggi dan masyarakat pelosok guna mewujudkan kemandirian desa. (*)