Napas Baru dari Bissoloro, Desa Sunyi yang Menjadi Pusat Gerakan Penghijauan Sulawesi Selatan

Berita Utama, Sulsel289 Dilihat

INDEPENDENews.com- Desa Bissoloro di Kabupaten Gowa pagi itu terasa berbeda.

Kabut tipis yang biasanya menyelimuti lereng Moncong Sipolong perlahan terangkat, memperlihatkan barisan tenda dan jejeran bibit pohon yang memenuhi kawasan camp.

Udara yang sejuk, gemericik air dari kejauhan, dan aroma tanah basah seolah menyambut babak baru perjalanan desa ini: dari lokasi camping favorit para gubernur, menjadi pusat gerakan penghijauan masa depan Sulawesi Selatan.

Selasa, 25 November 2025, Wakil Gubernur Sulsel Fatmawati Rusdi datang langsung memimpin aksi penanaman pohon bersama unsur Forkopimda di Camp Moncong Sipolong Cappa.

Kunjungan itu bukan sekadar seremoni. Ia membawa amanat yang lebih besar: memulihkan ruang hidup yang semakin menipis.

Gerakan ini merupakan bagian dari Penanaman Pohon Serentak se-Indonesia dalam rangka Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) 2025, yang dipimpin Menteri Kehutanan melalui sambungan virtual dari Magelang.

Dari Bissoloro, penghijauan itu memulai langkah kecil untuk menjawab tantangan besar.

Sulawesi Selatan, menurut data Pemprov, memiliki 375.025 hektare lahan kritis—angka yang menggambarkan betapa genting kondisi lingkungan.

Saat berdiri di hadapan peserta penanaman, Fatmawati menyampaikan nada tegas namun penuh harapan.

“Momentum ini harus menjadi gerak langkah bersama untuk melek akan penghijauan, menjaga lingkungan, dan menanam pohon sebagai aksi nyata,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa krisis lingkungan tak mungkin ditangani pemerintah sendiri. Rehabilitasi hutan menuntut komitmen multipihak: pemerintah daerah, BUMN/BUMD, akademisi, sektor swasta, hingga tokoh adat yang selama ini menjaga kearifan lokal.

Menurutnya, ancaman alih fungsi lahan, rendahnya kapasitas pengelolaan hutan, dan lemahnya pengawasan telah menempatkan Sulsel dalam situasi rawan bencana hidrometeorologi, kekeringan, hingga penurunan kualitas tanah.

“Menjaga lingkungan adalah tanggung jawab generasi hari ini agar generasi berikutnya tetap punya masa depan,” tambahnya.

Di sela kegiatan, Wagub Fatmawati menyerahkan ratusan bibit tanaman produktif—di antaranya alpukat dan durian—kepada kelompok masyarakat setempat.

Ini bukan hanya penghijauan, tetapi strategi ekonomi hijau: memastikan pohon yang ditanam kelak memberi nilai tambah bagi warga.

Kepala Balai Besar KSDA Sulsel, Hasnawir, juga hadir dan memberikan dukungan penuh.

Ia menyebut konsistensi Pemprov Sulsel sebagai modal besar untuk memperkuat konservasi.

“Kolaborasi pemerintah provinsi, kementerian, dan pemangku kepentingan lain membuat program pelestarian semakin terarah dan berkelanjutan,” ucapnya.

Dari sudut lapangan, para peserta—mulai dari Forkopimda Sulsel dan Gowa, OPD Pemprov, UPT Kementerian Kehutanan, akademisi, komunitas lingkungan, hingga kelompok tani hutan—tampak bergerak serempak menanam bibit di lubang-lubang yang telah disiapkan.

Beberapa peserta dari kabupaten/kota lain mengikuti kegiatan secara daring.

Di Bissoloro, gerakan penghijauan hari itu bukan sekadar menanam pohon.

Ia menjadi simbol bahwa desa yang dulu hanya dikenal sebagai tempat berkemah kini tumbuh menjadi ruang harapan.

Ruang yang dihijaukan kembali, disiapkan sebagai napas baru lingkungan, dan mungkin kelak menjadi pusat kampanye hijau Sulawesi Selatan.

Di antara kabut yang berangsur hilang, Bissoloro kembali memperlihatkan masa depannya—hijau, produktif, dan penuh kehidupan.(*)