Peluang Erick Thohir Jadi Menpora

Ide273 Dilihat

INDEPENDENews.com, JAKARTA– Nama Erick Thohir kembali masuk dalam bursa calon Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora).

Dengan latar belakang kuat di bidang olahraga, pengalaman birokrasi, serta dukungan politik yang solid, peluang Erick dinilai cukup besar untuk menempati posisi strategis tersebut.

Erick Thohir bukan sosok baru dalam olahraga.

Ia pernah menjadi pemilik klub elite Eropa, Inter Milan, serta klub sepak bola Amerika Serikat, DC United.

Saat ini, ia juga menjabat Ketua Umum PSSI.

Rekam jejak itu membuktikan kapasitas manajerial dan jejaring globalnya.

Jika menjadi Menpora, Erick diyakini mampu mengangkat citra olahraga Indonesia di level internasional.

Selain pengalaman olahraga, Erick punya modal politik yang kuat.

Kedekatannya dengan Presiden Joko Widodo serta relasi dengan partai-partai besar memberi peluang lebih bagi Erick untuk diterima secara politik.

Ditambah lagi, pengalamannya sebagai Menteri BUMN menunjukkan kemampuannya mengelola lembaga besar dengan banyak kepentingan.

Hal itu dapat menjadi bekal penting dalam membenahi tata kelola olahraga yang selama ini kerap bermasalah.

Erick juga dikenal memiliki kedekatan dengan kalangan milenial dan gen Z.

Gaya komunikasinya yang modern membuatnya lebih mudah diterima anak muda.

Jika menjabat Menpora, ia berpotensi menjembatani program pemerintah dengan aspirasi generasi muda, terutama dalam kewirausahaan, digitalisasi, dan kreativitas.

Meski peluangnya besar, Erick juga menghadapi tantangan serius. Salah satunya potensi konflik kepentingan, mengingat ia masih menjabat Ketua Umum PSSI.

Selain itu, ekspektasi publik yang tinggi bisa menjadi pedang bermata dua, sebab kinerjanya akan terus dibandingkan dengan pencitraan yang selama ini melekat.

Belum lagi, masalah klasik olahraga Indonesia seperti minimnya prestasi, infrastruktur terbatas, hingga isu korupsi masih menjadi pekerjaan rumah besar.

Peluang Erick Thohir menjadi Menpora cukup besar dengan modal kapasitas, jaringan internasional, dan dukungan politik.

Namun, keberhasilan kepemimpinannya akan ditentukan oleh sejauh mana ia berani menghindari konflik kepentingan dan mendorong reformasi tata kelola olahraga secara nyata.

Tanpa langkah konkret, posisi Menpora bisa sekadar menjadi panggung politik, bukan motor perubahan bagi pemuda dan olahraga Indonesia.(*)