Hari Santri Nasional 2026 Tingkat Sulsel, Teguhkan Karakter dan Kemandirian Generasi Muda

Berita Utama, Sulsel19 Dilihat

INDEPENDENews.com, WAJO – Pagi di Lapangan Merdeka Sengkang, Kabupaten Wajo, Kamis (22/10/2026), menjadi panggung kebanggaan bagi ribuan santri dan santriwati.

Barisan yang tertata, penampilan yang memukau, dan suara lantang yang bersahutan menghadirkan satu pesan: santri siap mengambil peran dalam membangun masa depan Indonesia.

“Santri Indonesia!” “Unggul, mandiri, mendunia!”

Seruan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, H. Ali Yafid, langsung disambut kompak oleh para peserta.

“Yuk mondok!” serunya. “Mondok itu keren!” “Yuk nyantri!” “Nyantri itu asyik!”

Yel-yel tersebut menghidupkan suasana Upacara Peringatan Hari Santri Tahun 2026 tingkat Provinsi Sulawesi Selatan. Lebih dari sekadar seruan, semangat itu mencerminkan kebanggaan menjadi santri sekaligus tekad untuk terus belajar, menjaga akhlak, dan berani bermimpi besar.

Peringatan Hari Santri tahun ini mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Kegiatan diawali penampilan santri dan santriwati, sebelum dilanjutkan dengan upacara yang berlangsung khidmat.

Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, H. Andi Munawir, bertindak sebagai inspektur upacara mewakili Gubernur Sulawesi Selatan.

Turut hadir Bupati Wajo, unsur Forkopimda, Tenaga Ahli Menteri Agama, Ketua Dharma Wanita Persatuan beserta jajaran, Karo IAIN Bone, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan keluarga besar pesantren.

Dalam laporannya, Kakanwil Kemenag Sulsel, H. Ali Yafid, memaparkan perkembangan pendidikan diniyah dan pondok pesantren di Sulawesi Selatan.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Gubernur Sulawesi Selatan dan Pemerintah Kabupaten Wajo atas dukungan terhadap penyelenggaraan peringatan Hari Santri tingkat provinsi.

Menurutnya, dukungan dan kolaborasi berbagai pihak sangat berarti bagi penguatan pesantren sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya menanamkan ilmu agama, tetapi juga membentuk karakter dan mendorong kemandirian generasi muda.

Data per Oktober 2026 mencatat, Sulawesi Selatan memiliki 4.691 lembaga pendidikan diniyah dan pondok pesantren, dengan 184.702 santri dan santriwati serta 9.465 tenaga pendidik.

Potensi besar ini menjadi kekuatan dalam menyiapkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan mampu menjawab tantangan masa depan.

Dalam upacara tersebut, amanat Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA., dibacakan oleh inspektur upacara, H. Andi Munawir.

Amanat itu mengajak para santri melanjutkan perjuangan para ulama melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, inovasi, serta pengabdian nyata kepada masyarakat.

Santri diharapkan tidak membatasi cita-cita. Mereka dapat menjadi ulama, pendidik, ilmuwan, pengusaha, hingga pemimpin bangsa, tanpa kehilangan jati diri dan nilai luhur yang telah ditempa di pesantren.

Pesantren pun diharapkan terus berkembang menjadi ruang yang melahirkan generasi unggul, memperkuat persatuan, menumbuhkan kemandirian, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Peringatan Hari Santri juga mengingatkan kembali pada Resolusi Jihad yang dicetuskan Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945.

Semangat perjuangan tersebut menjadi warisan yang perlu diteruskan, bukan hanya melalui kata-kata, melainkan melalui karya dan pengabdian sesuai tantangan zaman.

Di Sengkang, semangat itu hadir dalam suara ribuan santri yang menyatu. Mereka datang membawa identitas, harapan, dan cita-cita untuk masa depan.

Dari pesantren, mereka belajar bahwa ilmu harus berjalan bersama akhlak, dan keberhasilan akan lebih bermakna ketika membawa manfaat bagi sesama.

Hari Santri 2026 menjadi pengingat bahwa masa depan bangsa turut ditentukan oleh generasi yang hari ini ditempa di pesantren.

Santri yang menjaga tradisi, merangkul kemajuan, dan terus melangkah untuk menguatkan negeri menuju Indonesia Emas. (*)