INDEPENDENews.com, MAKASSAR — Yayasan Masyarakat Peduli Tuberkulosis Sulawesi Selatan (Yamali TB Sulsel) bersama Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan dan UNICEF Indonesia menggelar monitoring dan evaluasi program penanganan tuberkulosis (TBC) anak di Kota Makassar, Kabupaten Gowa, dan Kabupaten Pinrang.
Kegiatan konsolidasi yang berlangsung dalam rentang program Desember 2025 hingga Juli 2026 ini bertujuan memperkuat sinergi lintas sektor guna meningkatkan penemuan kasus serta mempercepat eliminasi TBC anak dan remaja.
Langkah penanganan ini krusial mengingat Indonesia masih berada pada peringkat kedua kasus TBC tertinggi di dunia, sedangkan Sulawesi Selatan masuk delapan besar nasional dengan estimasi 29.000 kasus. Anak-anak dan remaja menjadi kelompok rentan akibat imunitas yang berkembang, risiko penularan di lingkungan sekolah, serta paparan asap rokok.
Ketua Yamali TB Sulsel, Kasri Riswadi, menyampaikan bahwa evaluasi ini menjadi momentum penting untuk mengukur akuntabilitas pelaksanaan intervensi di lapangan.
“Monitoring dan evaluasi ini sangat penting untuk menggali praktik baik dan tantangan nyata di lapangan, sehingga kita bisa menyusun rekomendasi kebijakan yang berkelanjutan bagi perlindungan anak dari TBC,” kata Kasri Riswadi kepada media, Sabtu (17/10/2026).
Dalam kesempatan yang sama, tim program Yamali TB Sulsel menegaskan komitmen penguatan jejaring hingga ke tingkat tapak.
“Sinergi antara Puskesmas, sekolah, dan kader komunitas harus berjalan selaras agar penemuan kasus dan pendampingan pengobatan anak berjalan tanpa hambatan,” ujar Wahriyadi kelaku Manager program Yamali TB Sulsel.
Selain itu, Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan menyoroti pentingnya keterlibatan sektor pendidikan.
“Usaha Kesehatan Sekolah atau UKS menjadi benteng terdepan dalam mendeteksi gejala awal TBC pada siswa dan memutus rantai penularan di lingkungan sekolah,” ungkap Andi Julia Junus, Penanggungjawab Program Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan.
Yamali TB Sulsel melaporkan bahwa intervensi yang telah dijalankan meliputi pertemuan pemangku kepentingan multisektor, pengadaan media informasi, edukasi, dan komunikasi (IEK) berupa film pendek, serta workshop kampanye di sekolah-sekolah.
Penayangan film pendek edukasi bertajuk “Bukan Batuk Biasa” terbukti meningkatkan daya tarik siswa dan mempermudah pemahaman gejala TBC secara visual.
Di Kabupaten Gowa, capaian penemuan TBC daerah yang sebelumnya berkisar 40 persen mulai didorong melalui inovasi “Desa Siaga TBC” di Desa Bone dengan alokasi Dana Desa untuk insentif kader. Sementara di Kabupaten Pinrang, Puskesmas Lampa dan SMPN 1 Duampanua memperkuat peran wali kelas serta jalur UKS sebagai pelapor awal siswa bergejala.
Untuk wilayah Kota Makassar, kolaborasi Puskesmas Tarakan dan Puskesmas Andalas bersama SD Aisyiyah dan MTs Muallimat memanfaatkan momen rutin Literasi Kamis Pagi dan upacara bendera sebagai wadah edukasi TBC. Para siswa juga diajarkan pemahaman bahwa TBC menular melalui percikan renik (droplet) udara, bukan dari alat makan atau pakaian.
Melalui prinsip edukasi yang inklusif, sekolah-sekolah mulai menerapkan gerakan peduli kawan tanpa stigma agar siswa yang batuk berpanjangan dirangkul untuk diperiksa. Pihak sekolah juga menyediakan ruang privat di UKS serta menghadirkan guru penyintas TBC sebagai bukti bahwa penyakit ini dapat sembuh total dengan pengobatan teratur.
Rangkaian kegiatan konsolidasi ini memuat rencana tindak lanjut, di antaranya finalisasi nota kesepahaman (MoU) antara Puskesmas dan sekolah pada Agustus–September 2026 serta pelatihan Kader Sebaya TBC.
Diharapkan seluruh pemangku kepentingan terus berkomitmen menjaga keberlanjutan program demi mewujudkan generasi bebas TBC di Sulawesi Selatan. (*)
- Expo Haji dan Umrah Jadi Peluang Emas UMKM Sulsel - 17 Oktober 2026
- Gerak Cepat Tangani TBC Anak, Yamali Sulsel Optimalkan Peran UKS dan Desa Siaga - 17 Oktober 2026
- Nurdin Halid Usul Masa Jabatan DPRD Diperpanjang hingga 2031 - 17 Oktober 2026

