Sosialisasi Tarjih di Wajo, MTT PWM Sulsel Tekankan Ideologi dan Pemahaman Keagamaan

Wajo11 Dilihat

INDEPENDENews.com, WAJO — Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan (PWM Sulsel) melanjutkan rangkaian Sosialisasi Tarjih di Pusat Dakwah Muhammadiyah Kabupaten Wajo, Minggu (25/10/2026).

Kegiatan yang diikuti sekitar 80 peserta tersebut menjadi hari kedua rangkaian sosialisasi setelah sebelumnya dilaksanakan di Kabupaten Pinrang. Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Wajo bertindak sebagai tuan rumah, dengan kehadiran perwakilan PDM Bone dan PDM Soppeng.

Sosialisasi ini membahas empat materi utama, yakni Manhaj Tarjih dan implementasinya dalam dakwah, Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) dalam perspektif ilmu falak, Fikih Keluarga Sakinah, serta Tuntunan Ibadah Menurut Tarjih Muhammadiyah.

Kegiatan tersebut menjadi ruang penguatan pemahaman keagamaan warga Muhammadiyah, sekaligus membahas persoalan ibadah dan kehidupan sehari-hari yang berkembang di tengah masyarakat.

Wakil Ketua PWM Sulsel, Dr. KH. Abbas Baco Miro, Lc., M.A., dalam amanahnya menegaskan pentingnya peneguhan ideologi Muhammadiyah dan penguatan Manhaj Tarjih sebagai landasan pelaksanaan program MTT.

Ia menjelaskan, pemahaman keagamaan Muhammadiyah tidak semata-mata bertumpu pada pandangan pribadi, tetapi melalui proses ijtihad jama‘i atau ijtihad kolektif.

Menurut Abbas, pendekatan tersebut menjadi bagian penting dalam merumuskan pandangan keagamaan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan sesuai dengan manhaj yang dikembangkan Muhammadiyah.

Ia juga menyampaikan empat manfaat silaturahmi dalam pergerakan Muhammadiyah, yaitu menjaga agama, memelihara kesehatan, menambah ilmu, dan menghadirkan keberkahan harta.

Ketua MTT PWM Sulsel Tekankan Pentingnya Manhaj Tarjih

Sesi pertama berlangsung pukul 09.30 hingga 12.00 WITA. Ketua MTT PWM Sulsel, Prof. KH. Zulfahmi Alwi, Ph.D., membawakan materi Manhaj Tarjih dan Implementasinya dalam Dakwah.

Dalam pemaparannya, Zulfahmi menguraikan pengertian tarjih dalam usul fikih serta perkembangannya dalam Muhammadiyah. Pembahasan juga mencakup rumusan tarjih yang dikembangkan Syamsul Anwar dan hasil Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih ke-32 di Pekalongan.

Ia menekankan bahwa Manhaj Tarjih bukan sekadar metode penetapan hukum Islam, melainkan juga identitas gerakan dan pedoman bagi kader Muhammadiyah dalam menjawab persoalan umat.

Pemahaman terhadap Manhaj Tarjih, lanjutnya, diperlukan agar dakwah tetap relevan dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan landasan keagamaan.

Zulfahmi turut menyoroti pentingnya pembahasan persoalan takhayul, bidah, dan khurafat dalam dakwah karena berkaitan dengan pemeliharaan iman. Kader Muhammadiyah juga diharapkan memahami tarjih agar tidak terjebak dalam taklid buta dan memiliki identitas keagamaan yang kuat.

Selain penguatan pemahaman agama, ia mengingatkan pentingnya penguasaan teknologi. Menurutnya, kemajuan teknologi perlu berjalan beriringan dengan pemahaman yang baik terhadap Manhaj Tarjih.

KHGT Jadi Sorotan, Peserta Bahas Perbedaan Hari Raya

Materi berikutnya disampaikan Dr. Alamsyah, M.H., yang membahas Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) dalam perspektif ilmu falak.

Topik ini memantik diskusi peserta, terutama mengenai perbedaan praktik keagamaan dan penetapan hari raya yang kerap terjadi di tengah masyarakat.

Ketua PDM Wajo turut mengajukan pertanyaan mengenai perbedaan penetapan hari raya antara Muhammadiyah dan pihak lain.

Peserta juga mendiskusikan hubungan penerapan KHGT dengan perbedaan awal Ramadan dan Idulfitri antara Indonesia dan Arab Saudi. Salah satu pertanyaan yang mengemuka ialah kemungkinan menjadikan Arab Saudi sebagai acuan kalender dengan mempertimbangkan kedudukannya sebagai arah kiblat umat Islam.

Diskusi tersebut memperlihatkan besarnya perhatian peserta terhadap persoalan kalender Islam dan pentingnya memahami dasar keilmuan di balik penetapan waktu ibadah.

Fikih Keluarga Sakinah hingga Persoalan Zakat

Memasuki sesi kedua yang berlangsung pukul 13.20 hingga 15.10 WITA, Dr. Muhammad Rizal Sulaiman, M.Pd., menyampaikan materi Fikih Keluarga Sakinah.

Ia menguraikan konsep keluarga serta pentingnya kesetaraan dan sikap saling mencintai dalam membangun kehidupan rumah tangga.

Menurutnya, hubungan suami istri akan lebih dinamis apabila dibangun atas dasar kesetaraan, bukan dengan menonjolkan keunggulan masing-masing pasangan.

Sikap saling mencintai juga menjadi salah satu unsur penting dalam mewujudkan keluarga sakinah.

Muhammad Rizal turut mendorong agar hasil-hasil tarjih disosialisasikan secara berkelanjutan oleh pimpinan daerah hingga tingkat cabang dan ranting.

Dengan demikian, pemahaman keagamaan warga Muhammadiyah dapat semakin merata dan menjadi landasan dalam menjalankan kehidupan berorganisasi maupun bermasyarakat.

Materi terakhir mengenai Tuntunan Ibadah Menurut Tarjih Muhammadiyah dibawakan oleh Dr. KH. Abbas Baco Miro, Lc., M.A.

Pada sesi ini, peserta mengangkat beragam persoalan yang berkaitan langsung dengan praktik ibadah dan muamalah sehari-hari.

Sejumlah pertanyaan disampaikan peserta dari Aisyiyah, antara lain mengenai dasar penetapan zakat profesi dan penggunaan emas sebagai acuan. Persoalan lain yang dibahas meliputi penanganan hewan yang tidak diketahui pemiliknya, hukum salat Duha berjamaah, pembagian zakat fitrah setelah Idulfitri, serta pelaksanaan qasar salat Asar secara sendirian ketika dalam perjalanan.

Beragam pertanyaan tersebut menjadi kesempatan bagi peserta untuk mendalami tuntunan ibadah berdasarkan pemahaman tarjih Muhammadiyah.

Sosialisasi Diharapkan Berlanjut hingga Ranting

Melalui empat materi yang disampaikan, Sosialisasi Tarjih di Wajo menghubungkan penguatan metodologi pemahaman agama dengan persoalan kalender Islam, kehidupan keluarga, serta praktik ibadah sehari-hari.

Kegiatan ini juga menegaskan pentingnya peran pimpinan dan kader Muhammadiyah dalam menyebarluaskan pemahaman tarjih secara berjenjang.

Anjuran agar sosialisasi dilanjutkan hingga tingkat cabang dan ranting menjadi salah satu perhatian penting dalam kegiatan tersebut.

Dengan pemahaman Manhaj Tarjih yang lebih baik, warga Muhammadiyah diharapkan mampu menjalankan kehidupan beragama dan berorganisasi secara lebih terarah, sekaligus menjadikan hasil-hasil tarjih sebagai rujukan dalam menghadapi persoalan umat.

Rangkaian Sosialisasi Tarjih MTT PWM Sulsel ini pun menjadi bagian dari upaya memperkuat pemahaman ideologi dan praktik keagamaan Muhammadiyah di berbagai daerah di Sulawesi Selatan. (*)