INDEPENDENEWS.COM, MAKASSAR — Musyawarah Daerah (Musda) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Sulawesi Selatan tidak hanya melahirkan kepemimpinan baru, melainkan juga menandai babak bersejarah penyatuan organisasi yang sebelumnya terbelah dalam dua dinamika berbeda.
Semangat rekonsiliasi itu tercermin langsung dalam susunan Tim Formatur yang dibentuk pasca-Musda, mengakomodasi perwakilan dari kedua unsur kepengurusan.
Irjen Pol (Purn.) Dr. H. Burhanuddin Andi, M.H., yang terpilih secara aklamasi sebagai Ketua DPD HKTI Sulawesi Selatan, sekaligus ditetapkan sebagai Ketua Formatur.
Tiga anggota tim lainnya mencerminkan semangat kebersamaan tersebut: Prof. Dr. Ir. H. Sudirman Numba, M.S. mewakili unsur HKTI Moeldoko; Prof. Dr. H. M. Arfin Hamid, S.H., M.H. mewakili unsur HKTI Fadly Zon; serta Rachmat Sasmito, S.T., M.Si. yang masuk sebagai Ketua Panitia Musda.
Susunan ini menjadi simbol bahwa dua kelompok yang sebelumnya berjalan terpisah kini berada dalam satu barisan untuk menyusun kepengurusan baru yang inklusif dan merangkul seluruh elemen organisasi.
Dalam pidato pertamanya setelah terpilih, Burhanuddin Andi menegaskan bahwa Musda ini sesungguhnya adalah Musda Penyatuan.
“Mulai hari ini, saya berharap tidak ada lagi sekat yang membedakan kita. Tidak perlu lagi bertanya siapa berada di kelompok mana. Hari ini kita adalah satu: HKTI Sulawesi Selatan,” ucapnya tegas.
Penyatuan ini, kata Burhanuddin, bukan sekadar menyatukan struktur organisasi, melainkan menghapus batas-batas pemisah di antara keluarga besar HKTI. Seluruh elemen kini memiliki rumah yang sama, tanggung jawab yang sama, dan tujuan perjuangan yang sama: memperjuangkan kepentingan petani.
“Kita semua berada di rumah yang sama. Rumah ini bukan milik kelompok tertentu, melainkan milik seluruh insan yang peduli pada pertanian Sulawesi Selatan — petani, pengusaha tani, akademisi, pemuda, hingga mitra kerja,” tambahnya.
Kehadiran dua tokoh dari latar belakang berbeda dalam satu tim formatur dinilai sebagai jaminan bahwa kepengurusan ke depan tidak akan dibangun di atas kepentingan kelompok, melainkan atas dasar kemampuan, kebersamaan, dan pengabdian.
Sementara kehadiran Rachmat Sasmito menjamin kesinambungan antara proses pelaksanaan Musda dengan konsolidasi pasca-Musda.
Burhanuddin juga mengajak seluruh pengurus DPC di 24 kabupaten/kota untuk bersatu, saling menguatkan, dan bekerja beriringan.
“Saya tidak mungkin berjalan sendirian. Saya membutuhkan dukungan, doa, kritik, dan masukan dari semuanya. Mari kita turun ke lapangan, mendengar langsung suara petani, memetakan persoalan, mencari solusi bersama, dan memastikan manfaatnya dirasakan di tingkat akar rumput,” pintanya.
Penyatuan organisasi bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari kerja nyata. HKTI, tegas Burhanuddin, tidak boleh hanya besar dalam struktur, melainkan harus besar dalam manfaat. Organisasi tidak boleh hanya ramai kegiatan, tetapi harus nyata pengabdiannya bagi masyarakat tani.
Kepengurusan baru yang akan disusun tim formatur diharapkan menjadikan HKTI sebagai mitra strategis pemerintah sekaligus jembatan yang menghubungkan kepentingan petani dengan dunia usaha, perguruan tinggi, lembaga keuangan, teknologi, dan pasar.
“Keberhasilan kita tidak diukur dari banyaknya jabatan atau keramaian acara, melainkan dari seberapa besar kesejahteraan yang dapat dihadirkan bagi petani. Pertanian Sulsel maju, petani sejahtera, pangan Indonesia semakin kuat,” pungkas Burhanuddin Andi.
Komposisi Tim Formatur
• Ketua Formatur: Irjen Pol (Purn.) Dr. H. Burhanuddin Andi, M.H.
• Anggota:
1. Prof. Dr. Ir. H. Sudirman Numba, M.S. — Representasi HKTI Moeldoko
2. Prof. Dr. H. M. Arfin Hamid, S.H., M.H. — Representasi HKTI Fadly Zon
3. Rachmat Sasmito, S.T., M.Si. — Ketua Panitia Musda. (*)

