Oleh Makmur Idrus
INDEPENDENews.com- Memasuki hari ke-26 Ramadan, suasana kota justru semakin ramai oleh aktivitas belanja. Mall penuh, pasar padat, jalan macet, dan toko online banjir pesanan. Namun di balik hiruk-pikuk itu ada ironi yang sering kita rasakan: dompet mulai menipis, tetapi nafsu belanja justru semakin tebal.
Ramadan yang seharusnya menjadi bulan pengendalian diri perlahan berubah menjadi musim konsumsi. Orang menahan lapar di siang hari, tetapi menghabiskan uang di malam hari. Puasa yang mestinya melatih kesederhanaan malah sering berakhir dengan pesta belanja menjelang Lebaran.
Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan individu, tetapi sudah menjadi pola sosial. Diskon Ramadan, promo Lebaran, dan berbagai strategi pemasaran membuat masyarakat terus didorong untuk membeli. Kata “promo” sering kali lebih kuat daripada suara hati yang mengatakan bahwa barang itu sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.
Selain faktor ekonomi, tekanan sosial juga ikut memperkuat budaya konsumsi ini. Banyak orang merasa harus tampil “baru” saat Lebaran: baju baru, sepatu baru, bahkan perabot rumah baru. Seolah-olah kebahagiaan Idulfitri diukur dari seberapa banyak barang yang dibeli.
Padahal jika dilihat dari nilai spiritualnya, Ramadan justru mengajarkan hal yang berlawanan. Puasa melatih manusia untuk menahan diri, membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Lapar yang kita rasakan seharusnya mengingatkan bahwa hidup bisa berjalan dengan sederhana.
Lebih dari itu, puasa juga mengajarkan empati sosial. Ketika seseorang merasakan lapar dan haus, ia diharapkan lebih peka terhadap orang-orang yang setiap hari hidup dalam kekurangan. Ramadan seharusnya memperkuat solidaritas, bukan mempertebal gaya hidup konsumtif.
Ironinya, menjelang Lebaran justru banyak orang lebih sibuk menghitung daftar belanja daripada memikirkan siapa yang perlu dibantu. Paket parcel berseliweran, belanja pakaian meningkat, tetapi masih banyak tetangga yang bahkan kesulitan membeli beras.
Di tingkat ekonomi nasional, lonjakan konsumsi memang menggerakkan pasar. Pedagang kecil mendapat keuntungan dan roda perdagangan berputar lebih cepat. Namun bagi banyak keluarga, efek setelah Lebaran sering terasa berat: tabungan habis dan keuangan harus kembali ditata dari awal.
Di sinilah kita melihat paradoks Ramadan. Bulan yang mengajarkan pengendalian diri justru sering berubah menjadi panggung konsumsi terbesar dalam setahun. Manusia berhasil menahan lapar, tetapi belum tentu berhasil menahan keinginan.
Padahal kemenangan Idulfitri bukan diukur dari seberapa banyak barang yang kita beli, melainkan dari seberapa jauh kita mampu mengendalikan diri. Lebaran adalah kemenangan moral, bukan kemenangan belanja.
Karena itu, Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk menata kembali cara kita memandang kebutuhan. Belanja secukupnya bukan berarti mengurangi kegembiraan Lebaran. Justru dengan kesederhanaan, kita bisa lebih banyak berbagi kepada mereka yang benar-benar membutuhkan.
Jika pada hari ke-26 Ramadan dompet mulai menipis, itu sebenarnya hal yang wajar. Tetapi yang lebih penting adalah memastikan bahwa yang menipis bukanlah kepekaan sosial kita. Sebab Ramadan sejatinya bukan tentang seberapa tebal belanja kita, melainkan seberapa kuat kita menahan diri dan berbagi dengan sesama.(*)
