INDEPENDENEWS.COM, MAKASSAR – Momentum peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Universitas Negeri Makassar (UNM), 17 Agustus 2026, menjadi hari yang memiliki makna khusus bagi Prof. Dr. Eko Hadi Sujiono, M.Si.
Dalam upacara kemerdekaan tersebut, Eko menerima penghargaan Guru Besar Berdampak Terbaik I UNM 2026.
Penghargaan itu menjadi bentuk apresiasi atas perjalanan panjang seorang akademisi yang selama lebih dari tiga dekade mengabdikan diri melalui pendidikan, penelitian, pengembangan institusi, dan kontribusi dalam kebijakan pendidikan tinggi nasional.
Bagi Eko, penghargaan tersebut menjadi refleksi perjalanan pengabdian bersama UNM. Kampus yang telah menjadi ruang tumbuhnya sejak awal karier akademik hingga saat ini.
“UNM bukan sekadar tempat bekerja, tetapi rumah akademik yang membentuk perjalanan hidup dan pengabdian saya,” menjadi gambaran perjalanan panjang Eko selama berada di lingkungan UNM.
Setelah melewati berbagai fase perkembangan universitas, Eko kini menyatakan kesiapannya untuk melanjutkan pengabdian melalui proses Pemilihan Rektor UNM periode 2026–2030.
Langkah tersebut dipandang sebagai bagian dari kecintaan dan tanggung jawabnya terhadap institusi yang telah membesarkan dirinya.
Tumbuh Bersama Perjalanan UNM
Sejak bergabung sebagai dosen UNM pada 1993, perjalanan Eko berkembang dari ruang kelas dan laboratorium menuju ruang pengembangan kelembagaan.
Ia menjalani berbagai peran sebagai dosen, peneliti, profesor, pengembang institusi, pimpinan universitas, hingga anggota berbagai tim kebijakan pendidikan tinggi nasional.
Eko Hadi Sujiono lahir di Purwoharjo pada 17 Oktober 1969. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana bidang Fisika di IKIP Ujung Pandang pada 1992, kemudian melanjutkan pendidikan magister dan doktor bidang Fisika di Institut Teknologi Bandung (ITB). Setelah itu, ia memperdalam bidang Applied Physics melalui program postdoctoral di University of Twente, Belanda.
Perjalanan akademiknya mengantarkannya menjadi Profesor bidang Ilmu Fisika pada 1 Juli 2009 saat berusia 39 tahun.
Namun, pengabdian Eko di UNM tidak hanya berlangsung melalui kegiatan akademik. Ia juga menjadi bagian dari proses transformasi kelembagaan universitas.
Dari Laboratorium Menuju Pengembangan Kampus
Pada masa perubahan IKIP Ujung Pandang menjadi universitas, UNM memasuki fase penting dalam membangun identitas dan tata kelola institusi. Pada periode tersebut, Eko terlibat dalam Task Force UNM sejak 2004 dan Tim Pengembang UNM sejak 2005.
Pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa universitas merupakan sebuah sistem besar. Kemajuan perguruan tinggi tidak hanya ditentukan oleh kualitas akademik, tetapi juga oleh kemampuan mengelola sumber daya manusia, fasilitas, perencanaan, anggaran, dan kebijakan.
Dalam proses pengembangan institusi, Eko turut terlibat dalam Tim Pengembang UNM yang berkontribusi terhadap penguatan kelembagaan dan pembangunan Kampus Menara Pinisi.
Bagi Eko, pengalaman tersebut memberikan pemahaman bahwa membangun universitas bukan hanya tentang membangun fasilitas, tetapi juga membangun budaya akademik, reputasi, dan kepercayaan publik.
Pengalaman Kepemimpinan dan Pendidikan Nasional
Jejak kepemimpinan Eko berlanjut ketika ia dipercaya mengemban sejumlah jabatan strategis di UNM.
Ia pernah menjabat sebagai Pembantu Rektor IV Bidang Kerja Sama dan Pengembangan UNM periode 2012–2016.
Sebelumnya, ia memimpin Program Pengembangan Profesi Guru (P3G) UNM dan menjadi Ketua Pelaksana Sertifikasi Guru Rayon 124 UNM.
Melalui program tersebut, ia terlibat dalam agenda nasional peningkatan kualitas guru, termasuk sertifikasi guru dan program SM3T yang mengirim lulusan pendidikan ke wilayah Papua dan Papua Barat.
Pengalaman tersebut memperluas perspektifnya mengenai tantangan pendidikan Indonesia, mulai dari penguatan kualitas pendidik hingga pemerataan akses pendidikan.
Membawa Riset Lokal ke Tingkat Global
Sebagai profesor fisika, Eko tetap menjaga tradisi penelitian. Berbagai riset dikembangkan dengan pendekatan yang menghubungkan ilmu dasar dengan kebutuhan masyarakat.
Penelitiannya berkembang dari kajian material maju dan superkonduktor menuju pemanfaatan sumber daya lokal Indonesia, seperti slag nikel dan karbon dari tempurung kelapa.
Material tersebut dikaji untuk berbagai aplikasi, termasuk material konstruksi, teknologi penyimpanan energi, dan penyaringan air.
Pada 2026, Eko memimpin Riset Unggulan Konsorsium Berdampak mengenai teknologi karbon aktif berbasis bahan alam lokal Indonesia untuk mendukung penyediaan air minum. Ia juga terlibat dalam riset kolaborasi internasional mengenai rechargeable Zinc-Air Battery.
Pengalaman Nasional untuk UNM
Selain pengalaman di kampus, Eko juga membawa pengalaman dari tingkat nasional. Ia terlibat dalam berbagai tim yang berkaitan dengan kebijakan pendidikan tinggi, mulai dari pengembangan jabatan akademik dosen, sistem Beban Kerja Dosen, hingga penguatan integritas akademik.
Ia tercatat sebagai Tim Penilai Angka Kredit Nasional, Tim Penyusun Naskah Akademik Beban Kerja Dosen, Tim Pengawas Integritas Akademik, dan Tim BKD Pusat Kemdiktisaintek sejak 2025.
Ia juga dipercaya sebagai Tim Pakar SDM Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdiktisaintek sejak 2025 sampai sekarang
Pengalaman tersebut menjadi bekal ketika ia melihat masa depan UNM yang menghadapi tantangan baru, mulai dari transformasi digital, persaingan global, penguatan riset, hingga peningkatan kualitas layanan akademik.
Pilrek UNM sebagai Kelanjutan Pengabdian
Dengan perjalanan panjang tersebut, Eko melihat keikutsertaannya dalam Pilrek UNM 2026–2030 sebagai bagian dari estafet pengabdian.
Baginya, kepemimpinan universitas bukan sekadar jabatan, tetapi amanah untuk menjaga keberlanjutan capaian yang telah dibangun sekaligus membuka ruang bagi inovasi baru.
Pengalaman selama tiga dekade di UNM memberikan pemahaman mengenai kekuatan dan tantangan institusi. Dari laboratorium, ia belajar tentang pentingnya ilmu dan inovasi.
Dari pengembangan kampus, ia memahami arti membangun institusi. Dari pengalaman nasional, ia melihat bagaimana pendidikan tinggi Indonesia bergerak dan berubah.
Kini, dengan pengalaman akademik, manajerial, dan kebijakan yang dimiliki, Eko menyatakan kesiapan untuk mengambil bagian dalam menentukan arah masa depan UNM.
Sebab, bagi seorang akademisi yang telah tumbuh bersama kampusnya, memimpin universitas bukan sekadar perjalanan karier, melainkan bentuk lain dari pengabdian dan kecintaan terhadap almamater. (*)
- Prof Eko Hadi Raih Guru Besar Berdampak Terbaik I, Tatap Maju Pilrek UNM 2026–2030 - 18 Agustus 2026
- Prof Aslinda Sharing Regulasi Akademik, Ajak Mahasiswa Baru UNM Patuhi Aturan - 18 Agustus 2026
- Keren! Tiga Siswa Madrasah Dipercaya Jadi Paskibraka Sulsel, Ada Pembentang hingga Pembawa Baki - 17 Agustus 2026
