PBNU Butuh yang Teruji, Bukan Sekadar Terkenal, Saatnya Kadir Achmad dan Muthar Thahir Naik Panggung Nasional

Berita Utama, Opini101 Dilihat

Oleh: Makmur Idrus

(Pendiri Sultan Hasanuddin Center)

INDEPENDENews.com- Nahdlatul Ulama hari ini berada pada persimpangan penting antara menjaga tradisi atau terjebak dalam simbolisme tanpa substansi.

Di tengah dinamika itu, muncul satu pertanyaan mendasar apakah PBNU diisi oleh figur yang benar-benar tumbuh dari bawah, atau sekadar mereka yang tampak di permukaan?

NU bukan organisasi panggung. Ia hidup di ranting, tumbuh di desa, dan berdenyut di tengah masyarakat.

Maka, ukuran kepemimpinan bukan sekadar popularitas, melainkan kemampuan membangun, merawat, dan menggerakkan organisasi dari akar.

Di titik ini, nama Prof Dr KH A. Kadir Achmad menjadi relevan dan sulit diabaikan.

Dua periode menjabat sebagai Ketua PCNU Makassar, beliau berhasil melakukan konsolidasi organisasi hingga tingkat ranting di kelurahan sesuatu yang sering dijadikan slogan, tetapi jarang diwujudkan.

Konsolidasi itu bukan kerja instan, melainkan kerja sunyi yang membutuhkan ketelatenan, keteguhan, dan visi yang jelas.

Beliau juga menjabat sebagai Ketua JATMAN NU Sulawesi Selatan, memperkuat dimensi spiritual dan jaringan thariqah dalam tubuh NU sebuah fondasi yang kerap terlupakan, padahal menjadi ruh gerakan.

Dalam kapasitas birokrasi, beliau pernah dipercaya sebagai Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Gorontalo, membuktikan bahwa kepemimpinannya teruji dalam tata kelola pemerintahan.

Lebih jauh, sebagai peneliti senior pada Litbang Kementerian Agama, beliau menghadirkan dimensi intelektual yang memperkaya perspektif keagamaan dan kebijakan.

Kombinasi ini menjadikan Prof. Kadir Achmad bukan hanya organisator, tetapi juga ulama, birokrat, dan intelektual dalam satu paket.

Di sisi lain, hadir Dr Ir H Muthar Thahir Syarkawi, figur yang tumbuh dari jalur kaderisasi yang panjang dan berlapis.

Saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua PWNU Sulsel, Ketua IKA PMII Sulsel, dan pernah menjabat Ketua PW GP Ansor Sulsel, dua priode serta mantan Ketua PKC PMII Sulsel, sebuah rekam jejak yang menunjukkan kesinambungan kaderisasi dari bawah hingga atas.

Dalam dunia akademik, beliau juga pernah menjadi Dekan Fakultas Teknik Universitas Muslim Indonesia, menegaskan kapasitasnya dalam mengelola institusi dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Melalui Pondok Pesantren Darul ‘Ulum Ath-Thahiriyah, ia Kab. Pinrang Sulsel membangun model kaderisasi yang mengintegrasikan agama, ilmu umum, dan kecakapan hidup.

Jika Prof. Kadir Achmad adalah arsitek konsolidasi dan penjaga tradisi, maka Muthar Thahir Syarkawi putra Ulama Kharismatik Sulsel (KH. Thahir Syarkawi) adalah motor kaderisasi dan penggerak modernisasi.

Pertanyaannya kini sederhana namun mendalam apakah PBNU siap memberi ruang bagi figur-figur yang benar-benar teruji seperti mereka?

Atau masih bertahan pada pola lama mengutamakan yang terlihat, bukan yang bekerja?

NU ke depan tidak cukup hanya besar secara nama. Ia harus kuat secara struktur, tajam dalam gagasan, dan berakar dalam masyarakat.

Untuk itu, NU membutuhkan figur yang telah selesai dengan dirinya, dan sepenuhnya bekerja untuk umat.

Prof. Kadir Achmad dan Dr. Muthar Thahir Syarkawi bukan sekadar layak mereka adalah kebutuhan strategis bagi masa depan PBNU.

Jika NU ingin tetap menjadi kekuatan moral dan sosial bangsa, maka satu langkah harus diambil: memberi tempat kepada mereka yang telah terbukti bekerja, bukan sekadar dikenal.

Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kalau bukan yang teruji, siapa lagi?(*)