INDEPENDENews.com, YOGYAKARTA – Materials Research Society of Indonesia (MRS-ID) mematangkan arah pengembangan penelitian material di Indonesia melalui pembahasan tiga agenda strategis.
Diantaranya yakni (1) pemrosesan hasil tambang menjadi konsentrat mineral, dilanjutkan pemurnian konsentrat mineral hingga mencapai kemurnian tinggi; (2) pemanfaatan tanaman non pangan untuk reklamasi lahan; dan (3) pengembangan teknologi penangkapan karbon dan pengolahan biodiesel B50.
Ketiga agenda tersebut dibahas dalam pertemuan akademisi di Gedung Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada (UGM), Minggu (11/10/2026).
Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan antara penelitian di perguruan tinggi dan kebutuhan penerapan teknologi di sektor industri.
Guru Besar Fisika Material Universitas Negeri Makassar (UNM), Prof Dr Eko Hadi Sujiono MSi, mengatakan pengembangan riset material membutuhkan persiapan teknologi yang matang agar hasil penelitian dapat diterapkan dalam skala industri.
Pembahasan tersebut dilakukan bersama Presiden MRS-ID sekaligus Guru Besar UGM, Prof Dr Eng Kuwat Triyana MSi, serta sejumlah akademisi lainnya.
Menurut Prof Eko, peluang pengembangan riset tidak cukup berhenti pada publikasi ilmiah atau keberhasilan eksperimen di laboratorium. Peneliti perlu menyiapkan teknologi, prototipe dengan tingkat kesiapan teknologi (TKT) tertentu, serta perhitungan kelayakan agar hasil riset dapat dikembangkan lebih lanjut dalam skala industri dengan produksi masal.
Mendorong Riset dari Laboratorium ke Industri
Eko menilai kolaborasi antara akademisi dan industri perlu dibangun berdasarkan kebutuhan teknologi yang jelas serta kesiapan peneliti dalam menawarkan solusi.
Ia mengatakan pengembangan riset dapat melibatkan berbagai tim dan keahlian sesuai dengan persoalan yang ingin diselesaikan.
“Ini sudah disiapkan dan kita berkomitmen untuk bersama-sama. Bukan hanya tim yang sudah ada, tetapi juga bisa melibatkan siapa pun yang ada,” ujarnya.
Menurut Eko, tindak lanjut pengembangan teknologi dapat dilakukan melalui sejumlah pendekatan, bergantung pada kesiapan riset dan kebutuhan pengguna.
Jika teknologi yang dibutuhkan sudah tersedia, pengadaan peralatan dapat menjadi salah satu pilihan. Namun, jika teknologi belum siap atau membutuhkan penyesuaian, pengembangan melalui penelitian lanjutan menjadi bagian penting dari proses tersebut.
Perbedaan tingkat kesiapan teknologi ini membuat setiap agenda perlu memiliki peta jalan yang terukur, mulai dari karakterisasi bahan, pembuktian konsep, pengujian prototipe, hingga evaluasi kelayakan penerapan.
Bagi MRS-ID, pembahasan tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan kompetensi para peneliti di bidang fisika, kimia, material, pertambangan, rekayasa proses, dan energi dengan kebutuhan pengembangan teknologi.
Ke depan, pemetaan kemampuan riset, penentuan prioritas, dan pengujian kelayakan menjadi langkah penting agar peluang kolaborasi dapat berkembang menjadi program hilirisasi hasil riset yang konkret.
Dengan pendekatan tersebut, penelitian material di Indonesia diharapkan tidak hanya menghasilkan pengetahuan baru, tetapi juga mendorong peningkatan nilai tambah sumber daya alam, pengembangan teknologi energi, dan solusi bagi persoalan lingkungan, yang berdampak nyata bagi masyarakat. (*)

