Jadi Lansia, Tetap Dihargai dan Terdampingi

Penulis: Zubair

Direktur Gammara Caregiver

INDEPENDENews.com, MAKASSAR – Pada fase kehidupan, selain mati, menjadi tua adalah mutlak bagi setiap manusia. Kebanyakan manusia menginginkan berada di usia senja dengan kondisi fisik yang sehat, pikiran tidak penat, uang bermanfaat, dicintai seluruh kerabat, dan berbagai ketenangan di usia senja lainnya.

Kekhawatiran manusia nomor dua setelah mati, adalah menjadi tua dan tak berdaya terhadap diri sendiri.

Bertambahnya usia sering kali membawa manusia pada babak paling sunyi dalam hidup. Rumah mewah yang dulu riuh dengan suara tawa, tangisan, dan langkah kaki anak-anak yang berlarian, kini berangsur-angsur berubah menjadi ruang hampa.

Ada satu hal yang sering terlupakan ketika seseorang memasuki usia lanjut. Tua bukan berarti kehilangan hak untuk dihargai, didengarkan, dan merasa berarti bagi orang-orang di sekitar.

Ketika masih muda, orang tua mungkin menjadi sosok yang paling sibuk memastikan anak-anaknya makan, sekolah, tumbuh, dan memiliki masa depan. Mereka bekerja, mengalah, menunda keinginan pribadi, bahkan menyimpan kelelahan sendiri agar anak-anaknya bisa menjalani kehidupan dengan lebih baik.

Namun, waktu berjalan. Anak-anak tumbuh dewasa, memiliki pekerjaan, membangun keluarga, dan menghadapi tanggung jawabnya masing-masing. Sementara itu, orangtua perlahan memasuki masa ketika beberapa aktivitas yang dahulu terasa mudah mulai membutuhkan bantuan.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: apakah ketika orangtua tidak lagi sekuat dahulu, keberadaan mereka juga menjadi kurang penting bagi kita?

Di balik senyum ramah yang mereka tunjukkan saat kunjungan singkat, para orangtua sering kali menyimpan rindu yang teramat dalam kepada anak-anak mereka. Bagi orangtua yang sudah lanjut usia (lansia), mereka tak ingin hanya sekadar dijenguk, melainkan mendapatkan perhatian lebih. Diajak bercerita, didengarkan keluh kesahnya, dihargai pencapaian hariannya (sekecil apapun itu), dan berbagai hal sederhana yang menunjukan keberadaan para lansia berarti bagi anak dan kerabatnya.

Apalagi ketika penyakit telah merenggut beberapa keping keleluasaan beraktivitasnya. Kehadiran anak atau kerabat dalam mendampingi aktivitas lansia sangat berarti dan bernilai besar.

Bagi orangtua, bertambahnya usia bukan hanya soal penurunan fungsi fisik, melainkan juga tentang menghadapi kenyamanan hidup yang menyempit. Ketika anak-anak beranjak dewasa, membangun keluarga sendiri, dan mengejar target karier yang padat, tenggelam dalam pusaran kesibukan pekerjaan di kota-kota besar, komunikasi yang dulunya intens berubah menjadi sekadar pesan singkat basa-basi atau panggilan telepon mingguan yang sering kali terpotong oleh kesibukan. Pada saat itulah kesepian mulai merayap, menjadi tamu tak diundang yang menemani hari-hari senja mereka.

Merasa Tidak Dibutuhkan Lagi

Inilah luka batin yang paling dalam sering kali bermula dan jarang disadari oleh anak-anak mereka. Ketika anak-anak tumbuh menjadi sosok mandiri yang sukses dengan karier profesionalnya, para orang tua kerap dilanda sindrom psikologis yang sunyi: perasaan tidak lagi berguna.

Muncul sebuah asumsi pilu di dalam benak mereka, “Aku sudah tidak lagi dibutuhkan.”

Dulu, setiap peluh orangtua dibayar dengan senyum kebahagiaan saat mereka bisa menyediakan kebutuhan dan melindungi anak-anaknya.

Kini, peran itu berbalik. Namun, alih-alih merasa bangga, sebagian lansia justru merasa tersisih dari poros kehidupan anak-anak mereka. Ketika mereka ingin membantu atau sekadar memberikan nasihat, kerap kali diabaikan dengan dalih “zaman sudah berbeda” atau “aku sedang stres dengan pekerjaan.”

Perasaan terpinggirkan ini jauh lebih menyiksa daripada nyeri fisik akibat penuaan. Mereka merasa direduksi hanya menjadi masa lalu, bukan lagi bagian dari masa depan keluarga. Padahal, bagi seorang lansia, dilibatkan, ditanyai kabarnya secara tulus, atau sekadar dimintai pendapat kecil adalah bentuk validasi bahwa hidup mereka masih memiliki arti. Bukan hanya itu menerima saran maupun pendapat mereka bisa menjadi suntikan imun, serta menumbuhkan semangat dan martabatnya.

Dalam artikel ilmiah The Meaning of Dignity for Older Adults: A Meta-synthesis, yang diterbitkan pada 2021, para peneliti menemukan bahwa pengakuan, penghormatan, dan perasaan dianggap sebagai pribadi yang berharga, merupakan bagian penting dari pengalaman martabat lansia. Ketika orang lanjut usia merasa diabaikan atau tidak diakui, hal itu dapat mengancam martabat mereka.

Bagi sebagian orang tua, kebanggaan bukan semata-mata ketika anak berhasil meraih jabatan tinggi, memiliki rumah besar, atau memperoleh penghasilan yang berlimpah. Kebanggaan juga bisa hadir ketika anak yang dahulu mereka gendong kini bersedia menggandeng tangan mereka, ketika anak yang dahulu mereka dengarkan ceritanya kini meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita mereka.

Terkadang, perhatian itu sederhana.

Menanyakan, “Hari ini bagaimana, Ma?”

Menelepon, “Bapak sudah makan?”

Meluangkan waktu untuk menemani kontrol kesehatan. Mengajak berbincang. Mengingatkan dengan lembut, atau sekadar duduk bersama tanpa tergesa-gesa melihat jam.

Hal-hal sederhana tersebut mungkin tampak kecil di tengah kesibukan orang dewasa. Namun, bagi orang tua yang menjalani hari-hari dengan lebih banyak waktu sendiri, perhatian semacam itu dapat menjadi pengingat bahwa mereka masih dicintai dan dibutuhkan.

Tentu, tidak semua orang tua memiliki pengalaman keluarga yang sama. Ada yang tinggal bersama anak-anaknya, ada yang tinggal sendiri, dan ada pula yang membutuhkan dukungan dari orang lain. Bentuk perhatian bisa berbeda-beda, tetapi penghormatan terhadap martabat lansia tetap harus menjadi dasar.

Menghadirkan Kembali Makna Kehadiran

Kesepian pada lansia bukanlah sekadar ketiadaan orang di dalam satu rumah, melainkan hilangnya koneksi emosional. Mereka tidak sedang menuntut materi yang berlimpah dari anak-anak yang sedang berjuang di luar sana. Yang mereka dambakan adalah telinga yang sudi mendengarkan cerita berulang tentang masa lalu, kehadiran fisik yang hangat, atau genggaman tangan yang menenangkan di tengah sore yang lengang.

“Mungkin salah satu kebanggaan terbesar orangtua bukanlah ketika anaknya menjadi orang paling sukses, melainkan ketika melihat anaknya tumbuh menjadi manusia yang tetap memiliki hati untuk memperhatikan mereka.”

Jika jarak dan tuntutan pekerjaan membuat anak-anak tidak bisa hadir setiap detik, maka sudah kewajiban kita untuk mencari jalan keluar dan menghadirkan sistem pendukung yang penuh empati. Manusia di usia senja berhak untuk melewatkan hari-harinya dengan perasaan dihargai, dimanusiakan, dan dirawat dengan penuh kasih sayang.

Hal tersebut sejalan dengan tujuan diperingatinya Hari Lansia Internasional yang dirayakan pada tanggal 1 Oktober, bertujuan untuk meningkatkan kesadaran global mengenai berbagai isu dan tantangan yang memengaruhi fisik maupun mental para lansia.

Sebab pada akhirnya, waktu berjalan begitu cepat. Jangan sampai kita baru memahami arti kehadiran seorang orangtua ketika kursi kesayangan mereka di ruang tamu telah benar-benar kosong, meninggalkan penyesalan bahwa kita terlalu sibuk mengejar dunia, hingga lupa memeluk mereka yang telah memberi kita seluruh dunia.

Ketika Keluarga Membutuhkan Pendamping

Seorang anak Bugis-Makassar yang memegang teguh siri’, pantang membiarkan orangtuanya menderita sendiri tanpa perawatan yang layak. Namun, kesibukan sering kali jadi penghambat, sementara menyerahkan pengurusan orangtua kepada orang lain masih termasuk tabu. Takut martabat orangtua jatuh di hadapan orang asing.

Pada situasi saat ini, di mana pekerjaan mampu menyita waktu dan pikiran para pekerja, layanan pendamping lansia memiliki peran yang perlu dipahami secara tepat.

Pendamping bukan pengganti anak. Pendamping bukan pengganti kasih sayang keluarga. Pendamping juga bukan alasan untuk melepaskan tanggung jawab terhadap orangtua.

Pendamping dapat menjadi dukungan bagi keluarga ketika waktu, jarak, atau kebutuhan aktivitas harian membuat kehadiran anak tidak selalu memungkinkan. Dengan pendamping yang sesuai, lansia dapat memperoleh teman berbincang, bantuan aktivitas sehari-hari, serta dukungan ketika perlu melakukan kegiatan di luar rumah atau menjalani pemeriksaan kesehatan, sesuai lingkup layanan.

Keluarga pun dapat tetap terlibat dalam pengambilan keputusan, berkomunikasi mengenai kebutuhan orangtua, dan menjaga hubungan emosional yang tidak dapat digantikan oleh layanan profesional.

Karena pada akhirnya, yang dibutuhkan orangtua bukan sekadar seseorang yang berada di dekat mereka, melainkan hubungan yang membuat mereka merasa aman, dihargai, dan tetap memiliki tempat dalam kehidupan orang-orang yang mereka cintai. (*)