Fokus pada Tumbuh Kembang, Educourse.id Edukasi Orang Tua Lewat Webinar Parenting PAUD

INDEPENDENews.com — Platform pendidikan digital Educourse.id menyelenggarakan webinar bertajuk “Peningkatan Kapasitas Orang Tua untuk Pendidikan Anak Usia Dini” Jumat (6/3/2026) pukul 14.30 WIB secara daring melalui Zoom.

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman sekaligus memperkuat peran orang tua dalam mendampingi proses pendidikan anak sejak usia dini.

Webinar tersebut menghadirkan tiga narasumber yang memiliki kompetensi di bidang pendidikan dan psikologi anak, yaitu Mutaira Hikma Mahendradatta, BBA., MBA., selaku CEO Educourse.id sekaligus Founder Ibu Pembelajar Indonesia.

Hadir pula Dien Nurmarina Malik Fadjar, M.A., praktisi pendidikan di lingkungan Aisyiyah Muhammadiyah dan dosen di Universitas Muhammadiyah Jakarta; serta Melati Nur Utami, M.Sc., M.Psi., psikolog dari Insight Psikologi dan Iradat Konsultan.

Dalam pemaparannya, Dien Nurmarina Malik Fadjar menekankan bahwa peran orang tua sangat menentukan dalam membentuk karakter dan ketangguhan anak sebagai generasi masa depan.

Ia menjelaskan bahwa keluarga merupakan sekolah pertama bagi anak, sehingga orang tua—terutama ibu—menjadi teladan utama yang membentuk cara berpikir, sikap, serta nilai-nilai kehidupan anak sejak dini.

Menurut Dien, pengasuhan tidak hanya berkaitan dengan teknik atau metode mendidik anak, tetapi juga dimulai dari kesadaran diri orang tua dalam berpikir positif, mengelola emosi, serta mendekatkan diri kepada Tuhan.

Orang tua, katanya, merupakan guru pertama dan utama bagi anak dalam mengenal nilai kehidupan dan cara menghadapi berbagai tantangan.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menjelaskan pentingnya menerapkan growth mindset dalam pengasuhan.

Ia membedakan dua pola pikir dalam pendidikan, yaitu fixed mindset dan growth mindset. Fixed mindset merupakan keyakinan bahwa kemampuan seseorang bersifat tetap dan tidak dapat berkembang, sedangkan growth mindset adalah keyakinan bahwa kemampuan dapat terus berkembang melalui usaha, strategi, dan ketekunan.

Anak yang dibesarkan dengan pola pikir berkembang, lanjutnya, cenderung memiliki daya tahan atau resiliensi yang lebih kuat ketika menghadapi kesulitan.

Salah satu cara sederhana menumbuhkan pola pikir ini adalah dengan menggunakan kata “belum”. Misalnya, ketika anak belum berhasil melakukan sesuatu, orang tua dapat mengatakan, “Kamu belum bisa sekarang, tetapi kamu sedang belajar.”

“Kalimat sederhana ini dapat membantu anak memahami bahwa kegagalan bukan akhir dari segalanya, melainkan bagian dari proses belajar menuju keberhasilan,” jelas Dien.

Selain pendekatan psikologis, ia juga menekankan pentingnya landasan spiritual dalam pengasuhan. Dalam perspektif Islam, orang tua memiliki tanggung jawab mendidik anak sebagai amanah dari Allah.

Oleh karena itu, nilai-nilai seperti syukur, sabar, dan ikhlas perlu ditanamkan sejak dini agar anak memiliki kekuatan moral dan spiritual.

Dien juga menjelaskan bahwa praktik pengasuhan perlu disesuaikan dengan tahap perkembangan anak.

Pada masa kehamilan, orang tua dianjurkan menjaga pikiran positif dan memperbanyak doa. Pada usia balita, anak perlu diapresiasi atas usaha dan proses belajarnya. Ketika memasuki usia sekolah, kesalahan perlu dipahami sebagai bagian dari proses belajar. Sementara pada masa remaja, orang tua berperan membimbing anak agar mampu menghadapi kegagalan serta membangun ketangguhan mental.

Di akhir paparannya, Dien mengajak para orang tua untuk menjadikan pengasuhan sebagai perjalanan belajar bersama antara orang tua dan anak.

Dengan memadukan pola pikir berkembang dan nilai spiritual, diharapkan lahir generasi yang tangguh, optimistis, dan berakhlak mulia di tengah berbagai tantangan zaman. (Hendra)