INDEPENDENews.com, MAKKAH — Makkah selalu menjadi tempat yang dirindukan umat Islam. Jutaan orang datang setiap tahun untuk menunaikan ibadah haji dan umrah.
Namun, bagi Dr. Muthahhir Arif, kota suci ini juga menyimpan potensi besar sebagai tempat pendidikan dan pembentukan karakter generasi muda Indonesia.
Menetap di Makkah, Muthahhir memiliki harapan agar anak-anak Indonesia tidak hanya mengenal Tanah Suci melalui perjalanan ibadah yang singkat, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk tinggal, belajar, dan merasakan langsung kehidupan di kota kelahiran Nabi Muhammad SAW itu.
Sebagai Direktur SPIDI MAKKAH, ia memandang bahwa lingkungan memiliki peran penting dalam membentuk keimanan, kebiasaan, dan karakter seseorang. Terlebih Makkah memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah dan peradaban Islam.
“Mengapa Makkah? Karena Makkah bukan sekadar tempat belajar. Ia adalah Tanah Haram, tanah wahyu, tempat Ka‘bah berdiri dan menjadi kiblat kaum Muslimin. Di tanah inilah Rasulullah SAW memulai perjuangan dakwah tauhid, menyeru manusia untuk beribadah hanya kepada Allah SWT, serta meletakkan fondasi keimanan dan peradaban Islam,” ungkapnya, Selasa (13/10/2026).
“Kita ingin anak-anak kita bukan hanya berkunjung ke Makkah, tetapi juga hidup, belajar, beribadah, dan bertumbuh dalam suasana spiritual Tanah Suci. Agar mereka tidak sekadar mengenal sejarah Islam, tetapi juga menyerap nilai-nilai keimanan, keteladanan, dan perjuangan Rasulullah SAW dalam kehidupan mereka,” lanjutnya.
Berangkat dari gagasan tersebut, SPIDI MAKKAH diharapkan bisa berkembang sebagai institusi pendidikan di Tanah Suci dengan mengusung semangat Living and Learning in Makkah.
Institusi ini nantinya akan diarahkan menjadi wadah bagi berbagai kegiatan pendidikan, pembinaan, dan pelatihan yang memanfaatkan lingkungan keilmuan serta kehidupan spiritual Kota Makkah.
Salah satu program yang dikembangkan adalah pendidikan kepemimpinan atau leadership yang mengintegrasikan tiga pilar utama, yakni Bahasa Arab, Al-Qur’an, dan pembentukan karakter kepemimpinan.
Melalui program tersebut, peserta akan belajar Bahasa Arab bersama pengajar penutur asli atau native speaker, sekaligus mempraktikkannya melalui interaksi sehari-hari dengan masyarakat setempat.
Sementara untuk pembelajaran Al-Qur’an, peserta akan dibimbing oleh para ahli Al-Qur’an dan qira’at, termasuk para syaikh dan syaikhah yang memiliki kompetensi di bidangnya.
Menurut Muthahhir, kegiatan pendidikan ini didukung melalui kerja sama dengan Jam‘iyyah Al-Balad Al-Amin Al-‘Ilmiyyah Makkah, yang disebutnya sebagai lembaga resmi di bawah Kementerian Pendidikan Arab Saudi, bersama Syaikh Prof. Dr. Ali Salih Al-Mihmadi serta para masyayikh dan pendidik lainnya.
Sejumlah lembaga dan lingkungan pendidikan di Kota Makkah turut menjadi bagian dari rancangan kegiatan, antara lain Rabwah Makkah, Ma’had Darus Safwah An-Nisā’iyyah lil-Qur’ānil Karīm, Masjid Ar-Rajhi, serta Masjidil Haram sebagai pusat pembinaan spiritual dan penguatan nilai-nilai keislaman.
Pada program kepemimpinan, pembelajaran dirancang berlangsung secara intensif selama lima hari setiap pekan. Di luar kelas, peserta juga akan mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Makkah, mengenal kawasan Masyā‘ir al-Harām, mempelajari praktik manasik haji, serta mengikuti kegiatan olahraga seperti berkuda, memanah, dan berenang.
Seluruh kegiatan tersebut diarahkan untuk membangun karakter kepemimpinan melalui pengalaman langsung, mulai dari kedisiplinan, kemandirian, tanggung jawab, hingga kemampuan bekerja sama.
“Semua pengalaman itu kita arahkan kepada pilar ketiga, yaitu Leadership: membentuk pribadi yang disiplin, mandiri, bertanggung jawab, mampu bekerja sama, dan mampu memimpin dirinya sendiri,” jelasnya.
Ke depan, SPIDI MAKKAH juga diharapkan menjadi wadah pengembangan berbagai program pendidikan dan pelatihan lainnya, dengan memanfaatkan lingkungan Makkah sebagai tempat belajar sekaligus pembinaan nilai-nilai keislaman.
Muthahhir berharap pengalaman pendidikan di Tanah Suci tidak berhenti ketika peserta menyelesaikan kegiatan dan kembali ke Indonesia. Nilai-nilai yang mereka peroleh diharapkan menjadi bekal dalam kehidupan sehari-hari.
“Harapan kami, ketika mereka kembali nanti, mereka tidak hanya membawa kenangan dari Makkah, tetapi membawa Makkah di dalam hati mereka: Bahasa Arab yang lebih hidup, hubungan dengan Al-Qur’an yang lebih kuat, dan karakter kepemimpinan yang lebih matang,” tuturnya.
“Semoga Allah memberkahi SPIDI MAKKAH dan menjadikannya jalan lahirnya generasi yang berilmu, beradab, dan bermanfaat bagi umat,” pungkasnya. (*)
- Fenomena Ustazah AI Viral, Prof Zulfahmi Ingatkan Umat Agar Kritis - 13 Oktober 2026
- Direktur SPIDI MAKKAH Muthahhir Arif Dorong Generasi Berjiwa Pemimpin di Kota Kelahiran Nabi - 13 Oktober 2026
- Yuk Ramaikan Expo UMKM 2026, Kemenhaj Sulsel Siapkan 200 Tenant - 13 Oktober 2026

