Bahas Masa Depan Bone, PMB-UH Latenritatta Minta Organda Naik Kelas

INDEPENDENEWS.COM, MAKASSAR – Organisasi daerah tidak cukup hanya menjadi ruang berkumpul mahasiswa asal daerah.

Di tengah masih tingginya angka kemiskinan dan rendahnya rata-rata lama sekolah di Kabupaten Bone, organisasi daerah dituntut mengambil peran lebih strategis dalam mengawal sekaligus mendorong pembangunan daerah.

Hal tersebut mengemuka dalam Dialog Publik Perhimpunan Mahasiswa Bone Universitas Hasanuddin (PMB-UH Latenritatta) bertajuk “Peran Organisasi Daerah dalam Meningkatkan Pemajuan dan Pembangunan Daerah” yang digelar di Kafe Ekspresi, Sabtu (29/8/2026).

Dialog tersebut menjadi ruang refleksi untuk melihat kembali relevansi dan arah gerak organisasi daerah dalam menghadapi persoalan pembangunan Bone.

Selain itu, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat konsolidasi internal PMB-UH Latenritatta, baik antara pengurus maupun warga organisasi yang telah berkiprah di berbagai bidang, termasuk akademisi, profesional, dan politik praktis.

Kegiatan menghadirkan tiga narasumber, yakni Dr. H. Yusdar, S.H., S.E., M.H., C.MTr., C.PS., Isal Zulkarnain, S.Stat., dan Muh. Rifki Ar Rahman.

Dialog turut dihadiri pengurus dan warga PMB-UH Latenritatta, mahasiswa baru Universitas Hasanuddin yang berdomisili di Bone, serta perwakilan berbagai organisasi mahasiswa dan organisasi daerah.

Dalam pemaparannya, Dr. H. Yusdar mengulas perkembangan organisasi daerah dari masa ke masa.

Menurutnya, perubahan zaman menuntut organisasi daerah untuk mampu beradaptasi tanpa kehilangan nilai-nilai yang menjadi identitas dan fondasi organisasi.

“Persoalan tersebut menjadi penting bagi PMB-UH Latenritatta agar keberadaan organisasi tidak hanya bertahan secara kelembagaan, tetapi juga mampu menjawab perubahan sosial dan kebutuhan daerah,” tuturnya.

Sementara itu, Isal Zulkarnain membawa diskusi pada persoalan pembangunan Bone melalui pendekatan berbasis data.

Ia memaparkan bahwa tingkat kemiskinan Kabupaten Bone berada di kisaran 9,58 persen atau sekitar 73,03 ribu orang.

Di sisi lain, rata-rata lama sekolah masyarakat Bone disebut hanya mencapai 7,55 tahun, yang secara umum masih berada pada jenjang pendidikan sekitar kelas I SMP.

Data tersebut menjadi gambaran bahwa pembangunan Kabupaten Bone masih menghadapi persoalan serius, terutama dalam aspek kesejahteraan dan kualitas sumber daya manusia.

Menurutnya, sektor pendidikan menjadi salah satu instrumen penting yang perlu diperkuat.

“Peningkatan akses dan kualitas pendidikan diharapkan dapat mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia sekaligus memperbaiki Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Bone,” imbuhnya.

Persoalan tersebut kemudian menjadi titik tekan dalam pemaparan Muh. Rifki Ar Rahman.

Ia menilai organisasi daerah harus mulai melakukan rekonstruksi terhadap cara pandang dan arah geraknya.

Organisasi daerah, kata dia, tidak boleh berhenti pada aktivitas internal, kaderisasi, maupun kegiatan seremonial.

Organisasi harus mampu membaca data, mengidentifikasi persoalan masyarakat, kemudian menerjemahkannya menjadi gagasan dan kerja nyata.

“Organisasi daerah harus mampu menjawab persoalan konkret yang dihadapi daerah tanpa kehilangan nilai-nilai yang telah terbangun di dalam organisasi,” menjadi salah satu penekanan dalam dialog tersebut.

Rifki juga menempatkan PMB-UH Latenritatta sebagai mitra kritis sekaligus mitra kerja pemerintah.

Menurutnya, menjadi mitra kritis berarti organisasi tetap menjalankan fungsi kontrol sosial terhadap kebijakan pemerintah, sementara sebagai mitra kerja, organisasi dapat mengambil bagian dalam menghadirkan solusi terhadap persoalan pembangunan.

Untuk memperkuat peran tersebut, pendekatan Hexahelix dinilai dapat menjadi salah satu strategi.

Kolaborasi antara akademisi, dunia usaha, komunitas atau organisasi, pemerintah, media, serta dukungan regulasi perlu dibangun untuk menciptakan ekosistem pembangunan yang lebih kolaboratif.

Pendekatan ini sekaligus membuka ruang bagi organisasi daerah untuk tidak bekerja sendiri. Organisasi dapat menjadi penghubung antara potensi mahasiswa, masyarakat, pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan berbagai aktor lainnya dalam menjawab persoalan pembangunan.

Dialog publik tersebut akhirnya tidak hanya membicarakan eksistensi organisasi daerah, tetapi juga mempertanyakan sejauh mana organisasi daerah mampu memberikan dampak nyata bagi daerah asalnya.

PMB-UH Latenritatta diharapkan dapat terus berkembang sebagai organisasi yang tidak hanya menjadi wadah silaturahmi mahasiswa Bone di Universitas Hasanuddin, tetapi juga menjadi ruang produksi gagasan, kaderisasi kepemimpinan, serta kekuatan sosial yang ikut mengawal arah pemajuan dan pembangunan Kabupaten Bone. (*)