Dosen Unismuh Makassar Bedah Pemikiran Asrul Sani, Soroti Hubungan Sastra dan Perubahan Zaman

INDEPENDENEWS.COM, MAKASSAR – Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh Makassar), Dr. Maria Ulviani, S.Pd., M.Pd., tampil dalam forum nasional Tukar Tutur Seabad Setahun Asrul Sani.

Forum yang mengangkat tema “Asrul Sani: Intelektualitas, Jejak Karya, dan Sineas Indonesia” tersebut berlangsung via Zoom Meeting, Jumat (14/8/2026).

Dalam forum itu, Dr. Maria Ulviani hadir mewakili Unismuh Makassar sekaligus HISKI Sulawesi Selatan.

Ia membahas karya dan pemikiran Asrul Sani dengan menggunakan pendekatan strukturalisme genetik yang dikembangkan oleh Lucien Goldmann.

Pendekatan tersebut digunakan untuk melihat karya sastra tidak hanya dari teks, tetapi juga mengaitkannya dengan kondisi sosial yang melatarbelakangi lahirnya karya.

Tak Cukup Baca Teks

Menurut Dr. Maria, membaca karya Asrul Sani tidak cukup hanya melihat isi teks.

Pembaca juga perlu memahami hubungan antara struktur karya dengan kondisi sosial yang melingkupinya.

“Kalau kita menggunakan strukturalisme genetik, pembacaan tidak cukup dimulai hanya dari teks, tetapi juga tidak boleh langsung melompat ke sejarah,” jelasnya.

Ia mengatakan, pembacaan dapat dimulai dari karya sebagai struktur yang utuh, kemudian melihat keterkaitannya dengan struktur sosial yang melahirkan karya tersebut.

Dalam perspektif Lucien Goldmann, karya sastra merupakan fakta kemanusiaan yang memiliki hubungan dengan pandangan dunia pengarang dan kelompok sosialnya.

Karena itu, pembacaan terhadap karya Asrul Sani dapat bergerak dari teks menuju konteks, lalu kembali lagi kepada teks.

Asrul Sani Tak Sekadar Sastrawan

Dr. Maria menilai pendekatan tersebut penting untuk membaca sosok Asrul Sani.

Asrul Sani tidak hanya dikenal sebagai sastrawan Angkatan ’45, tetapi juga sebagai intelektual yang hidup pada masa perubahan besar di Indonesia.

Saat itu, berbagai gagasan seperti nasionalisme, modernitas, tradisi, agama, dan pemikiran Barat saling berinteraksi.

“Pada masa itu terjadi perjumpaan antara semangat kebangsaan, modernitas, tradisi, agama, dan pemikiran Barat,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat Asrul Sani tidak hanya berkarya sebagai sastrawan, tetapi juga ikut memikirkan manusia, kebudayaan, dan masa depan Indonesia.

Sastra Bukan Sekadar Cermin Sejarah

Dr. Maria juga mengingatkan agar karya sastra tidak hanya dipandang sebagai dokumen sejarah.

Menurut dia, karya sastra memiliki dunia estetiknya sendiri, mulai dari bahasa, struktur, simbol, imajinasi hingga kreativitas pengarang.

Namun, karya juga tidak lahir begitu saja tanpa konteks.

“Sastra bukan cermin yang sekadar memantulkan sejarah, melainkan imajinasi yang mengolah sejarah menjadi makna,” tuturnya.

Karena itu, ia menilai Asrul Sani perlu dibaca sebagai teks yang memiliki kekuatan estetik sekaligus sebagai suara intelektual yang kritis.

Apa Bedanya Strukturalisme dan Strukturalisme Genetik?

Dalam forum tersebut, Dr. Maria turut menjelaskan perbedaan strukturalisme dengan strukturalisme genetik.

Strukturalisme lebih berfokus pada unsur-unsur yang terdapat di dalam karya dan bagaimana unsur tersebut membentuk sebuah kesatuan.

Sementara strukturalisme genetik tidak berhenti pada struktur internal karya.

Pendekatan ini juga melihat hubungan karya dengan struktur sosial, fakta kemanusiaan, subjek kolektif, serta pandangan dunia yang melatarbelakanginya.

“Kalau strukturalisme berhenti pada bagaimana sebuah karya dibangun, strukturalisme genetik melangkah lebih jauh dengan bertanya: mengapa struktur itu lahir dan pandangan dunia apa yang menghidupinya,” jelasnya.

Tantangan Peneliti Sastra

Dr. Maria mengungkapkan, salah satu tantangan dalam penelitian sastra adalah mempertemukan teks dengan konteks tanpa memaksakan hubungan di antara keduanya.

Menurutnya, peneliti harus sabar membaca teks berulang kali, membandingkan, mempertanyakan, serta kembali kepada teks agar interpretasi yang dihasilkan tetap memiliki dasar.

“Yang paling menghabiskan energi justru bukan membaca teks, tetapi mempertemukan teks dengan konteks tanpa memaksakan keduanya,” katanya.

Ia bahkan menyebut proses menemukan makna dalam penelitian sastra bukan bagian yang paling sulit.

Yang lebih penting adalah memastikan makna yang ditemukan tetap setia terhadap teks.

“Dalam penelitian sastra, yang paling melelahkan bukan mencari makna, melainkan memastikan bahwa makna yang kita temukan tidak mengkhianati teks,” ujarnya.

Jadi Ruang Refleksi Generasi Kini

Bagi Dr. Maria Ulviani, forum Seabad Setahun Asrul Sani bukan sekadar momentum mengenang salah satu tokoh penting sastra Indonesia.

Forum tersebut juga menjadi ruang untuk menghadirkan kembali pemikiran dan warisan intelektual Asrul Sani agar dapat dibaca oleh generasi masa kini.

“Membaca Asrul Sani bukan sekadar menelusuri apa yang ditulisnya, melainkan memahami bagaimana sebuah zaman ditransformasikan menjadi teks, estetika, dan gagasan tentang Indonesia,” pungkasnya.

Keikutsertaan Dr. Maria Ulviani dalam forum nasional tersebut sekaligus memperkuat kontribusi Unismuh Makassar dan HISKI Sulawesi Selatan dalam pengembangan kajian sastra Indonesia.

Ia menegaskan, sastra selalu memiliki hubungan dengan zaman yang melahirkannya.

“Sastra tidak hidup di ruang yang hampa; ia menyerap denyut zamannya. Pada Asrul Sani, pengalaman sejarah dan pergulatan kebangsaan menjelma menjadi kesadaran estetik dan intelektual,” tutupnya. (*)