Maroso Group Siap Ekspansi Penerbangan Perintis di Sulawesi, Pesan 20 Pesawat Produksi PT DI

Berita Utama, Sulsel477 Dilihat

INDEPENDENews.com- PT Maroso Group berencana melakukan ekspansi bisnis ke sektor penerbangan perintis dengan memesan 20 unit pesawat produksi PT Dirgantara Indonesia (PT DI).

Pesawat yang akan dibeli terdiri atas N219 penumpang dan N219 amfibi kargo, yang disiapkan untuk melayani mobilitas penumpang sekaligus mendukung pengangkutan hasil perikanan dan potensi budi daya dari kawasan Sulawesi.

CEO Maroso Group, Saleh Ramli, mengatakan penerbangan perintis tersebut dirancang untuk menghubungkan sejumlah wilayah strategis, mulai dari Makassar, Mamuju, Palu, Gorontalo, Manado, Ternate, hingga Kendari, termasuk kabupaten-kabupaten yang memiliki destinasi wisata dan potensi perikanan unggulan di seluruh Sulawesi.

“Untuk rute-rute tersebut, saat ini kami sudah memulai studi kelayakan,” ujar Saleh Ramli dalam keterangan tertulisnya.

Maroso Group yang selama ini bergerak di berbagai sektor usaha melihat penerbangan perintis sebagai peluang strategis untuk membuka keterisolasian wilayah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Seiring rencana pemesanan pesawat, perusahaan juga telah memulai proses pengurusan perizinan.

“Kami sedang mempelajari spesifikasi pesawat yang paling sesuai untuk karakteristik penerbangan perintis di Sulawesi. Dalam waktu dekat, kami akan melakukan konsultasi teknis dengan PT DI,” jelasnya.

PT Dirgantara Indonesia diketahui memproduksi sejumlah pesawat perintis, di antaranya N219 “Nurtanio”, N219 Amfibi, dan NC212. Khusus N219 Amfibi, pesawat ini dinilai memiliki keunggulan untuk menjawab kebutuhan pengangkutan hasil laut bernilai tinggi dari daerah terpencil yang belum memiliki infrastruktur bandara.

Pesawat amfibi tersebut memiliki kemampuan Short Take-Off and Landing (STOL) serta dapat mendarat langsung di perairan, sehingga tidak memerlukan landasan pacu darat. Kemampuan ini memungkinkan pesawat menjangkau nelayan dan sentra produksi perikanan di pulau-pulau kecil dan wilayah pesisir terpencil.

Sementara itu, pesawat N219 “Nurtanio” dirancang sebagai pesawat penumpang dan serba guna untuk penerbangan perintis di daerah terpencil dan pegunungan. Pesawat ini mampu mengangkut hingga 19 penumpang atau kargo seberat 1.550 kilogram, ditenagai dua mesin turboprop Pratt & Whitney PT6A-42 masing-masing bertenaga 850 shp. N219 memiliki kecepatan maksimum 210 knot atau sekitar 389 km per jam, dengan kecepatan minimum 59 knot atau sekitar 109 km per jam.

Saleh Ramli menambahkan, berdasarkan informasi awal, proses pemesanan pesawat PT DI membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat tahun setelah penandatanganan nota kesepahaman (MoU).

“Dengan estimasi tersebut, kami menargetkan operasional penerbangan perintis Maroso Group dapat mulai berjalan pada tahun 2030,” tutupnya.(*)