Oleh: Makmur Idrus, Mantan Auditor Ahli Madya
INDEPENDENews.com- Idul Fitri seharusnya tidak berhenti pada ucapan “mohon maaf lahir batin”. Ia adalah momentum membersihkan diri, termasuk dalam menjalankan amanah jabatan. Bagi auditor pemerintah, kembali ke fitrah berarti kembali pada kejujuran yang utuh—bukan kejujuran yang dinegosiasikan.
Di tengah derasnya arus digitalisasi dan kecerdasan buatan (AI), dunia audit berubah cepat. Data bergerak real-time, sistem semakin kompleks, dan risiko semakin canggih. Tapi ironisnya, sebagian cara berpikir auditor masih berjalan di tempat. Teknologi sudah lompat jauh, mentalitas masih jalan kaki.
Kita tidak bisa menutup mata, masih ada praktik audit yang sekadar formalitas. Laporan disusun rapi, temuan dibuat lengkap, tetapi dampaknya nihil. Semua terlihat profesional di atas kertas, tetapi lemah dalam perubahan nyata. Audit seperti ini bukan solusi, ia justru menjadi bagian dari masalah.
Lebih jujur lagi, ada auditor yang kehilangan independensinya. Tekanan kekuasaan, kedekatan relasi, bahkan *“rasa tidak enak”* sering menjadi alasan untuk melunak. Padahal, sejak kapan integritas bisa ditawar? Kalau pengawas bisa diatur, lalu siapa yang menjaga negara?
Masuknya AI dan teknologi digital sebenarnya peluang emas. Dengan data analytics, auditor bisa membaca pola penyimpangan sebelum terjadi. Dengan sistem terintegrasi, pengawasan bisa dilakukan tanpa harus menunggu laporan manual. Tapi lagi-lagi, teknologi hanya alat. Kalau niatnya bengkok, sistem secanggih apa pun tetap bisa “disesuaikan”.
Fenomena yang juga perlu dikritisi adalah masuknya pejabat menjelang pensiun ke jabatan fungsional. Tiba-tiba ingin “beralih”, padahal energi, adaptasi, dan semangat inovasi sudah menurun. Pertanyaannya sederhana: apakah ini transformasi atau sekadar mencari posisi aman?.
Jabatan fungsional auditor bukan tempat parkir. Ia adalah jabatan profesional yang menuntut kompetensi tinggi dan integritas kuat. Jika diisi tanpa seleksi kualitas, maka yang lahir bukan pengawas yang kuat, tetapi struktur yang rapuh.
Di sisi lain, tidak sedikit auditor yang masih gagap teknologi. Sistem sudah digital, tapi cara berpikir masih manual. Data tersedia melimpah, tetapi tidak mampu diolah menjadi insight. Akibatnya, auditor hanya menjadi “penonton data”, bukan analis yang memberi arah.
Padahal, auditor masa depan harus lebih dari sekadar pemeriksa. Ia harus menjadi analis risiko, pemberi rekomendasi strategis, dan bahkan penjaga arah kebijakan. Tanpa itu, auditor akan tergilas oleh sistem yang justru seharusnya ia kuasai.
Idul Fitri mengajarkan satu hal penting: kembali ke nol. Dalam dunia audit, itu berarti berani mengakui kelemahan dan memperbaiki diri. Berhenti merasa cukup, berhenti berlindung di balik rutinitas, dan mulai membangun profesionalisme yang nyata.
Yang lebih berbahaya dari pelanggaran adalah ketika pelanggaran itu dianggap biasa. Ketika kompromi kecil dianggap wajar, maka kerusakan besar tinggal menunggu waktu. Audit yang kehilangan integritas bukan hanya gagal, tetapi berpotensi merusak kepercayaan publik.
Akhirnya, transformasi auditor di era digital dan AI bukan soal pilihan, tetapi keharusan. Berubah atau tertinggal. Tegak atau ikut tenggelam. Jika auditor mampu kembali ke fitrah,jujur, profesional, dan berani, maka ia akan menjadi penjaga utama Indonesia Emas 2045. Tapi jika tidak, jangan heran kalau yang diawasi justru lebih canggih dari yang mengawasi.(*)
