Santri di Persimpangan Jalan: Antara Warisan Suci Pendahulu dan Stigma Media Modern

Ide238 Dilihat

Oleh: Muhammad Solihin S, S.H., M.H (Ketua Dewan Pertimbangan Korps Alumni Pesantren Modern Al Ikhlash Sulawesi Barat)

INDEPENDENews.com – Santri adalah pewaris tradisi keilmuan dan penjaga moral bangsa yang telah ada sejak lama.

Namun di era modern ini, mereka menghadapi persimpangan yang sangat berat.

Citra pesantren seringkali disamakan dengan konservatisme sempit atau bahkan dituduh radikal yang mengganggu bahkan menyulitkan masyarakat.

Ruang digital terlalu bising membincang aib-aib pesantren.

Stigma negatif hampir menjadi suatu kelaziman yang pada akhirnya menjadi suatu kebenaran virtual di media sosial.

Fakta tidak lagi penting untuk dibuktikan, narasi negatif terlalu padat yang membuat pesantren semakin terpojok.

Namun demikian, selalu ada pilihan untuk berbenah. Sudah saatnya pesantren menulis dan mendefinisikan dirinya di ruang virtual secara massif.

Ruang digital tidak tertutup untuk para kiyai dan annangguru di seluruh nusantara. Kanal informasi dan ruang kolaborasi lntas pesantren harus dibangun lebih serius.

Santri dan pesantren harus mengambil peran aktif untuk mematahkan stigma negatif ini melalui penguatan kualitas pendidikan, penanaman nilai-nilai kejujuran, keterbukaan informasi, dan pemanfaatan teknologi digital untuk menyebarkan narasi positif.

Era digital membuat dunia terasa dekat dan membuka akses yang hampir tanpa batas.

Hal tersebut seperti pisau bermata dua bagi pesantren.

Jika santri dibekali literasi dan nilai yang kokoh maka ruang virtual akan memberi dampak positif.

Namun jika tidak siap makan santri dan pesantren akan digilas oleh zaman di persimpangan jalan.

Hari santri tidak hanya untuk dirayakan, hari santri bukan sekedar agenda tahunan.

Namun hari santri adalah momentum besar untuk menegaskan kembali komitmen santri dalam membangun kepribadian positif untuk membangun bangsa yang mencerahkan.

Santri adalah masyarakat utama yang mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

Tantangan media hari ini adalah panggilan bagi santri untuk terus menunjukkan bahwa warisan suci dan kemajuan teknologi bisa berdampingan harmonis. (*)