INDEPENDENews.com – Kabupaten Pinrang terus memantapkan langkah dalam memutus rantai penularan Tuberkulosis (TBC), khususnya pada kelompok usia rentan.
Bertempat di Aula Panti Asuhan Sitti Khadijah, Aisyiyah Pinrang, pada Kamis (15/1/2026), digelar Pertemuan Orientasi Program Eliminasi TBC Anak tingkat Kabupaten Pinrang.
Kegiatan yang diinisiasi bersama Yamali TB Sulawesi Selatan dan UNICEF Indonesia ini bertujuan untuk membangun kolaborasi multisektor guna menekan angka kasus TBC anak yang seringkali “tersembunyi” di bawah bayang-bayang kasus dewasa.
Kasri Riswadi, dalam pembukaannya, menegaskan bahwa TBC tidak mengenal usia. Saat ini, Indonesia masih menjadi negara dengan estimasi kasus tertinggi kedua di dunia, dan Pinrang menjadi salah satu dearah dengan tren angka kasus TB yang tinggi di Sulawesi Selatan.
“TBC paling banyak menyerang usia produktif, termasuk anak dan remaja. Kita harus bergerak bersama sesuai amanat Perpres No. 67 Tahun 2021,” tegas Kasri.
Senada dengan itu, Badwi M Amin dari UNICEF menekankan bahwa program ini adalah mandat PBB untuk memastikan hak anak hidup sehat.
Ia menyoroti pola penularan udara yang masif, di mana anak-anak seringkali tertular dari orang dewasa di sekitar mereka.
Data Dinas Kesehatan Pinrang menunjukkan tantangan yang cukup besar. Dari estimasi 1.954 kasus, baru sekitar 880 kasus (45%) yang ditemukan dan diobati. Khusus untuk TBC anak (usia di bawah 15 tahun), cakupan penemuannya baru mencapai 22%, masih jauh dari target nasional sebesar 90%.
“Data terakhir untuk balita hanya ada 25 kasus. Ini menandakan masih banyak kasus yang belum ditemukan di lapangan,” ungkap Jamal dari Dinas Kesehatan Pinrang.
Sebagai langkah konkret, dari pertemuan ini Puskesmas Lampa bersama Desa Kaliang dan Kelurahan Pekkabata terpilih akan dijadikan lokus awal program percontohan (role model).
Gayung bersambut, berbagai sektor langsung menyatakan kesiapannya untuk berkontribusi seperti Kemenag Pinrang yang mengusulkan sosialisasi di pondok pesantren dengan populasi santri yang besar dan melibatkan penyuluh agama di KUA.
Hal senada juga datang dari BKPRMI yang menyodorkan edukasi yang massif melalui TK-TPA dan momen wisuda santri.
Sementara itu, Dinas Pendidikan yang bersedia untuk memfasilitasi skrining dan sosialisasi di tingkat SD hingga SMA di wilayah lokus. Dinas Sosial yang membantu sosialisasi melalui kelompok PKH dan pengurusan jaminan kesehatan bagi pasien.
Adapun Pemerintah Desa dan Kelurahan memastikan bahwa kesiapan Kader pembangunan manusia (KPM) akan diberdayakan untuk melakukan skrining “door-to-door” bersama mahasiswa KKN di Desa Kaliang dan Keluarahan Pekkabata.
Harapan ke Depan: Kelurahan Siaga TB
Strategi eliminasi ini tidak hanya fokus pada pengobatan, tetapi juga pemberian Terapi Pencegahan TBC (TPT) bagi anak yang tinggal serumah dengan pasien positif.
“Harapan kita adalah memulai dari lingkup kecil seperti Desa atau Kelurahan Bebas TB. Bukan berarti tidak ada kasus, tapi tidak ada lagi penularan di wilayah tersebut,” tambah Badwi lagi.
Pertemuan ini diakhiri dengan penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL), termasuk pemetaan data anak dan analisis wilayah untuk menentukan intervensi yang paling tepat di lapangan. (*)
- Pengabdian BPOM RI 25 Tahun: Kuatkan Arah Ketahanan Kesehatan Bangsa - 16 Januari 2026
- Pinrang Siap Jadi Role Model dalam Program Eliminasi TB Anak - 16 Januari 2026
- Menag Resmikan Kampung Kemandirian Pesantren di Bone - 8 Januari 2026
