Membaca Supratman dari Pinggiran

Berita Utama, Opini162 Dilihat

Oleh: Makmur Idrus

INDEPENDENews.com- Supratman lahir dari pinggiran dan fakta ini bukan ornamen biografis. Ia adalah fondasi etika. Pinggiran adalah ruang di mana negara sering hadir setengah-setengah, hukum terasa jauh, dan keadilan datang terlambat. Siapa yang tumbuh di sana belajar satu hal sejak awal: hidup tidak adil, dan kekuasaan yang abai hanya memperparah ketidakadilan itu. Dari situ, standar moral dibentuk bukan oleh pidato, tetapi oleh pengalaman.

Masalah klasik kekuasaan bukan pada kurangnya kecerdasan, melainkan rapuhnya ingatan. Ketika akses terbuka, fasilitas mengalir, dan nama mulai dipanggil dengan gelar, banyak orang mengalami amnesia sosial. Mereka lupa antrean, lupa debu, lupa wajah-wajah yang dulu mereka wakili. Bukan karena mereka jahat, tetapi karena lupa sering kali lebih nyaman daripada mengingat.

Perjalanan Supratman dari debu jalanan ke kursi kebijakan menampar satu mitos lama, bahwa jabatan otomatis memberi legitimasi. Tidak. Legitimasi sejati lahir dari konsistensi berpihak pada mereka yang tidak punya mikrofon, tidak punya koneksi, dan tidak masuk tabel statistik. Jabatan hanya memberi kewenangan; keberpihakan memberi makna.

Kekuasaan tanpa ingatan sosial akan berubah menjadi mesin. Ia bergerak cepat, menghasilkan regulasi, memproduksi laporan, tetapi dingin. Mesin tidak peduli siapa yang terjepit di roda. Ketika kebijakan diputuskan dari jarak aman, penderitaan sering dianggap sebagai efek samping yang wajar.

Di titik inilah kekuasaan kehilangan nurani bukan karena niat jahat, tetapi karena terlalu lama jauh dari realitas.

Pengalaman hidup di pinggiran memberi Supratman keunggulan yang tidak bisa disimulasikan kepekaan terhadap dampak. Ia tahu bahwa satu tanda tangan bisa berarti hidup yang lebih layak atau sebaliknya, luka baru yang diwariskan.

Ingatan itu bekerja sebagai alarm moral, mencegah kekuasaan berubah menjadi rutinitas yang membunuh empati.

Ujian ke depan jelas bukan sekadar soal capaian kinerja atau keberhasilan program.

Ujian sesungguhnya adalah keberpihakan. Tetap memihak pada pinggiran berarti siap melawan arus nyaman, siap dikritik, bahkan siap diserang.

Dalam politik, memilih benar sering kali berarti menolak aman. Dan itu harga yang tidak semua orang bersedia bayar.

Sejarah tidak ramah pada para penjaga kenyamanan. Ia mencatat mereka yang berani mengambil posisi tidak populer, yang menolak larut dalam kompromi kecil yang pelan-pelan menggerogoti prinsip. Mereka mungkin kalah hari ini, tetapi ingatannya bertahan.

Sementara mereka yang memilih aman sering lenyap tanpa jejak, tanpa warisan, tanpa pembela.

Pinggiran bukan masa lalu yang harus ditinggalkan. Ia adalah cermin yang harus terus dibawa ke mana pun kekuasaan melangkah.

Di situlah ujian sebenarnya berlangsung: apakah kekuasaan tetap menjadi alat untuk memperkecil jarak, atau justru sibuk merawat kenyamanan sambil membiarkan jarak itu melebar.

Sedikit humor pahitnya begini banyak orang naik ke puncak untuk “mengubah sistem”, lalu betah di sana dan lupa menekan tombol apa pun.

Pinggiran mengajarkan satu hal sederhana kalau tombol kekuasaan tidak dipakai untuk mereka yang paling membutuhkan, maka ia hanya hiasan meja.(*)