INDEPENDENEWS.COM, SEMARANG – Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXXI yang digelar di Jawa Tengah tidak hanya menjadi ajang perlombaan membaca dan memahami Al-Qur’an.
Lebih dari itu, kegiatan tersebut dinilai menjadi ruang untuk memperkuat silaturahmi, persaudaraan, dan moderasi beragama di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Hal itu disampaikan Anggota Komisi VIII DPR RI, Sri Wulan, seusai pembukaan MTQ Nasional XXXI di Lapangan Pancasila, Simpang Lima, Kota Semarang, Sabtu (12/9/2026) malam.
Jawa Tengah menjadi tuan rumah MTQ Nasional XXXI setelah menanti selama 47 tahun.
MTQ kali ini mengusung tema “Menebar Cahaya Al-Qur’an dalam Harmoni Menuju Indonesia Emas yang Berkeadaban.”
Sri Wulan mengatakan, semangat yang dibangun dalam MTQ Nasional XXXI tidak berhenti pada kompetisi antarpeserta. Menurutnya, perjumpaan para peserta dari berbagai daerah justru menjadi kesempatan untuk membangun persahabatan dan kekeluargaan.
“Tidak hanya sekadar lomba di sini, tetapi semuanya menemukan sahabat, menemukan kawan. Tidak hanya berkompetisi, tapi kekeluargaan yang diciptakan,” ujar Sri Wulan.
Libatkan Penyandang Disabilitas
Sri Wulan juga mengapresiasi penyelenggaraan cabang khusus bagi penyandang disabilitas dalam MTQ Nasional XXXI.
Menurutnya, kehadiran cabang bagi penyandang disabilitas, khususnya tunarungu dan tunawicara, merupakan langkah penting dalam mewujudkan penyelenggaraan MTQ yang inklusif.
“Ini salah satu dan nomor satu yang diselenggarakan MTQ ke-31 ini, ada cabang disabilitas yaitu cabang penyandang disabilitas tunarungu dan tunawicara,” ungkapnya.
Ia menilai keterlibatan penyandang disabilitas dalam MTQ merupakan wujud kesetaraan dalam mengaktualisasikan kecintaan terhadap Al-Qur’an.
“Alhamdulillah, keikutsertaan ini menjadi kebanggaan kita semuanya dan akan dilanjutkan ke MTQ-MTQ berikutnya,” katanya.
Ia berharap keberadaan cabang disabilitas tersebut dapat terus dipertahankan dan dikembangkan pada penyelenggaraan MTQ Nasional mendatang.
Semangat Kebersamaan Lintas Agama
Menurut Sri Wulan, pelaksanaan MTQ Nasional XXXI di Semarang juga memperlihatkan tingginya penerimaan masyarakat terhadap kegiatan keagamaan.
Ia menyoroti keterlibatan masyarakat dalam berbagai rangkaian kegiatan MTQ, termasuk penyanyian lagu mars MTQ yang melibatkan masyarakat dalam jumlah besar dan tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (MURI).
Menariknya, keterlibatan masyarakat tersebut tidak hanya berasal dari umat Islam.
“Tidak hanya kaum muslim saja, tetapi kaum non-muslim juga menyanyikan. Inilah kehadiran MTQ ke-31 di Semarang sangat diterima oleh masyarakat,” jelasnya.
Karena itu, Sri Wulan menegaskan bahwa MTQ Nasional XXXI tidak semata-mata menjadi milik umat Islam, tetapi juga dapat menjadi ruang bersama untuk memperkuat persaudaraan dan harmoni kebangsaan.
“Tidak hanya milik umat muslim saja. Milik semuanya,” tegasnya.
Ia menilai semangat tersebut sejalan dengan nilai silaturahmi, kolaborasi, dan moderasi beragama yang perlu terus dirawat dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
“Bukan hanya ajang lomba, tapi bisa menjadi ajang pertemanan semuanya. Karena bersilaturahmi, berkolaborasi, dan juga ini salah satu moderasi beragama kita. Saling menghormati satu sama lain,” tutur Sri Wulan.
Harap MTQ Digelar di Daerah Minoritas Muslim
Lebih lanjut, Sri Wulan berharap semangat persaudaraan yang terbangun dalam MTQ Nasional XXXI di Semarang dapat diteruskan pada penyelenggaraan MTQ berikutnya.
Keterwakilan 37 provinsi, menurutnya, menjadi gambaran bahwa MTQ Nasional merupakan ruang perjumpaan masyarakat dari berbagai latar belakang daerah dan budaya.
Ia berharap penyelenggaraan MTQ Nasional mendatang dapat dilaksanakan di daerah lain, termasuk wilayah yang masyarakat Muslimnya merupakan kelompok minoritas.
“Harapan yang terpenting adalah kebersamaan semuanya. Tadi sudah diwakili oleh 37 provinsi. Kami berharap bahwa setelah dari Semarang, setelah MTQ ke-31, kemudian MTQ berikutnya, kegiatan ini bisa dilaksanakan di daerah-daerah lain, walaupun masyarakat Muslimnya merupakan minoritas, seperti di Papua, Papua Barat, maupun NTT,” tuturnya.
Menurut Sri Wulan, penyelenggaraan MTQ di berbagai daerah akan semakin memperluas ruang silaturahmi sekaligus memperkuat persatuan bangsa.
Semangat tersebut, lanjutnya, penting untuk menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak hanya dibaca dan dilombakan, tetapi juga dihadirkan sebagai sumber nilai yang menebarkan kedamaian, persaudaraan, dan penghormatan terhadap sesama.
Dengan demikian, MTQ Nasional XXXI di Semarang diharapkan tidak hanya melahirkan para juara, tetapi juga meninggalkan jejak persaudaraan yang dapat terus dirawat setelah seluruh rangkaian perlombaan berakhir. (*)
- Sri Wulan: MTQ Nasional XXXI Jateng Bukan Hanya Lomba, Namun Ruang Persaudaraan - 14 September 2026
- Wakapolres dan Kapolsek Tompobulu Maros Diganti, Kapolres: Dinamika Organisasi Polri - 14 September 2026
- Selamat! Dua Siswa RHIS Ukir Prestasi di Korpasgat Karate Championship - 14 September 2026
