INDEPENDENEWS.COM, MAKASSAR — Kemajuan sebuah perguruan tinggi besar tak pernah lahir dari proses instan.
Ia tumbuh melalui kesinambungan kerja, ingatan institusional, serta komitmen untuk merawat dan melanjutkan fondasi yang telah dibangun oleh para pemimpin sebelumnya.
Prinsip estafet kepemimpinan inilah yang membentuk rekam jejak Prof. Dr. Eko Hadi Sujiono, M.Si., dalam perjalanannya di Universitas Negeri Makassar (UNM).
Sejak mengabdi sebagai dosen pada 1993, Guru Besar Fisika ini telah melintasi dinamika kepemimpinan UNM di bawah lima rektor yang berbeda.
Keterlibatannya meluas mulai dari ranah laboratorium dan pengajaran, perencanaan kelembagaan, pembangunan infrastruktur, pengelolaan program nasional pendidikan profesi guru, pimpinan universitas, hingga dipercaya menjadi tim pakar kebijakan pendidikan tinggi di tingkat nasional.
Tempaan Lima Fase Kepemimpinan
Jejak kontribusi Prof. Eko terbangun secara bertahap seiring perkembangan prioritas institusi dari masa ke masa:
Fase Konsolidasi Kelembagaan (Era Prof. Dr. H. M. Idris Arief, M.S.): Pasca-perubahan status IKIP Ujung Pandang menjadi UNM, Prof. Eko yang baru menyelesaikan riset pascadoktoral di MESA+ Research Institute, University of Twente, Belanda, dipercaya masuk ke Task Force UNM (2004) dan Tim Pengembang (2005). Di fase ini, ia mendalami tata kelola universitas sebagai satu sistem yang terintegrasi antara akademik, anggaran, SDM, dan tata kelola. Pada 2006, ia juga diamanahkan memimpin pelaksanaan Sertifikasi Guru Rayon 124 UNM.
Fase Pembangunan dan Akselerasi Akademik (Era Prof. Dr. H. Arismunandar, M.Pd.): Prof. Eko mengawal perencanaan pembangunan fisik dan penataan kinerja kampus, termasuk keterlibatannya dalam Tim Pengembang hingga 2012, penyusunan Renstra UNM, dan pembangunan landmark Menara Pinisi. Pada era ini, ia mengukuhkan kepakarannya dengan meraih jabatan Profesor bidang Fisika di usia 39 tahun (2009). Ia juga memimpin program nasional SM3T ke kawasan timur Indonesia hingga dipercaya menjabat sebagai Pembantu Rektor IV Bidang Kerja Sama dan Pengembangan (2012–2016).
Fase Internasionalisasi dan Kebijakan Nasional (Era Prof. Dr. Ir. H. Husain Syam, M.TP., IPU., ASEAN Eng.): Kiprah Prof. Eko meluas ke jejaring ilmiah Asia Tenggara dan Asia Timur. Di tingkat nasional, ia terlibat aktif merumuskan kebijakan Beban Kerja Dosen (BKD), penilaian jabatan akademik, dan Majelis Program Doktor Kemdiktisaintek. Paralel dengan itu, riset materialnya fokus memanfaatkan potensi lokal seperti slag nikel untuk beton dan tempurung kelapa untuk penyimpanan energi serta penyaringan air.
Fase Tata Kelola Profesi Dosen Nasional (Era Prof. Dr. H. Karta Jayadi, M.Sn.): Keterlibatan Prof. Eko kian strategis di tingkat pusat. Ia bergabung dalam Tim BKD Pusat dan Tim Pakar SDM Kemdiktisaintek untuk menyusun instrumen evaluasi kinerja, karier, dan kepastian profesional dosen di Indonesia.
Fase Riset Berdampak dan Pengakuan Internasional (Era Plt. Rektor Prof. Dr. Farida Patittingi, S.H., M.Hum.): Prof. Eko memimpin Riset Unggulan Konsorsium Berdampak untuk teknologi penyaringan air di wilayah transmigrasi serta memperoleh pendanaan riset internasional baterai zinc-air bersama akademisi India. Pada Agustus 2026, ia diundang memaparkan gagasannya terkait peran pendidikan tinggi dalam perdamaian dan pengelolaan mineral kritis di Eurasia Convention Busan, Korea Selatan. Pada bulan yang sama, UNM menganugerahinya penghargaan Guru Besar Berdampak Terbaik I dalam UNM Award 2026.
Modal Komprehensif Menuju Pilrek 2026–2030
Rangkaian pengalaman yang melintasi riset laboratorium, birokrasi kampus, hingga perumusan regulasi nasional memberi Prof. Eko sudut pandang kepemimpinan yang utuh. Tradisi ilmiah di laboratorium membentuk kebiasaannya mengambil keputusan berbasis data empiris, sementara pengalamannya mengelola program berskala nasional dan kerja sama internasional mengasah kematangan manajerialnya.
Untuk mengakses informasi resmi mengenai perkembangan agenda akademis dan pengumuman publik di lingkungan kampus, masyarakat akademis dapat mengunjungi portal Universitas Negeri Makassar.
Menghadapi Pemilihan Rektor (Pilrek) UNM periode 2026–2030, UNM membutuhkan kepemimpinan yang paham akar sejarah institusi sekaligus responsif terhadap tantangan teknologi, persaingan talenta, dan transparansi tata kelola.
Berbekal perpaduan kedalaman akademik, pemahaman sistemik, dan rekam jejak kepemimpinan yang teruji di berbagai era, Prof. Eko Hadi Sujiono hadir sebagai salah satu kandidat yang paling siap membawa UNM melangkah lebih maju. (*)
- Perkuat Budaya Literasi, Eskul Selis Labschool SMP Unismuh Makassar Kunjungi Perpustakaan Wilayah - 20 Agustus 2026
- Gelorakan Inovasi Industri, Anggota DPR RI Kamrussamad Beri Motivasi Mahasiswa Baru PPI FT UNM - 20 Agustus 2026
- Wamendes Riza Patria Ajak Wahdah Islamiyah Bersinergi Bangun Desa dan Wujudkan Asta Cita - 20 Agustus 2026
