Langkah Yamali Tangani Pasien TBC Resistan Obat di Sulsel

Makassar30 Dilihat

INDEPENDENews.com, MAKASSAR — Upaya penanganan Tuberkulosis Resistan Obat (TBC RO) di Sulawesi Selatan menghadapi tantangan serius pada kedisiplinan berobat pasien.

Risiko putus obat atau Lost to Follow-Up (LTFU) masih menjadi ancaman utama yang membayangi efektivitas penyembuhan.

Menjawab tantangan tersebut, Sub-Recipient (SR) Yamali TB Sulawesi Selatan menggelar pelatihan penyegaran (Refreshment Training) bagi Patient Supporters (PS) TBC RO pada Jumat–Sabtu, 16–17 Oktober 2026, di Makassar.

Kegiatan yang berlangsung intensif selama dua hari ini diikuti oleh 30 orang PS dari pelbagai wilayah di Sulawesi Selatan.

Mereka didampingi oleh 5 orang Manajer Kasus (MK) TBC RO sebagai fasilitator, serta menghadirkan pemateri dari Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan dan SR Yamali TB.

Pelatihan ini menargetkan penurunan angka pasien mangkir berobat hingga di bawah 15 persen pada enam bulan pertama masa pengobatan—target indikator krusial dalam program TBC RO tahun 2026.

Program Monitoring dan Evaluasi SR Yamali TB, Sri Niken Ariati menjelaskan bahwa para PS yang sebagian besar merupakan pendamping pasien, penyintas, kader, dan relawan komunitas merupakan garda terdepan dalam merawat asa para penderita TBC RO.

“Melalui pelatihan ini, kapasitas mereka dipertajam pada empat area krusial,” tukasnya.

Keempat hal itu yakni, pertama respon cepat pendampingan awal.

“Pendamping dituntut mampu menjangkau dan melakukan intervensi kepada pasien dalam rentang 3 hingga 7 hari sejak dinyatakan positif terdiagnosis TBC RO. Kecepatan pendampingan awal ini dinilai sangat menentukan mentalitas pasien saat memulai terapi berjangka panjang,” tuturnya.

Kedua, lanjut dia adalah penguatan Investigasi Kontak (IK) terintegrasi Terapi Pencegahan TBC (TPT).

Ketiga, ketepatan data dan pelaporan digital termasuk pemanfaatan fklatform lapor tbc. Kemudian keempat, keterampilan komunikasi motivatif dan mitigasi risiko mangkir.

Adapun SR Manager Yamali TB, Wahriyadi menekankan bahwa keberhasilan penanganan TBC RO tidak hanya bergantung pada ketersediaan regimen obat di fasilitas kesehatan, tetapi juga pada hadirnya dukungan kemanusiaan yang konsisten di ruang-ruang domestik pasien.

Melalui konsolidasi dan penyegaran kapasitas ini, para pendamping komunitas diharapkan kembali ke daerah masing-masing dengan koordinasi yang lebih solid bersama puskesmas, rumah sakit, dan fasilitas kesehatan setempat.

Sinergi rapat antara tenaga medis dan kader komunitas ini menjadi kunci penting untuk membawa Sulawesi Selatan makin dekat menuju target bebas TBC. (*)